Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Tatapan Nathan


__ADS_3

Pesawat telah mendarat aman di Yogyakarta International Airport. Langkah Bia dan Nathan telah disambut oleh seorang sopir yang sengaja diutus untuk menjemput keduanya.


Ini memang bukan yang pertama kali Bia menginjakkan di kota gudeg tersebut. Jika disuruh memilih, Bia mending hidup di kota pelajar tersebut. Selain kota yang harmonis Yogyakarta mempunyai tempat terindah di setiap sudutnya.


"Bu kita langsung meninjau lokasi proyek atau singgah ke penginapan dulu?" tanya Nathan.


"Kita langsung aja deh, Nath. Soalnya tempatnya lumayan jauh. Entah kenapa ini Bandara dipindah kesini. Lebih enak Bandara Adi Sucipto dulu yang dekat jantung kota." 


Meskipun Bandara YIA ini terlihat lebih mewah daripada Bandara sebelumnya namun karena baru dibuka dan berada di paling barat pusat kota membuat Bia mengeluhkan jarak yang akan ia tempuh.


"Baik Bu Dir."


Nathan pun segera memerintahkan sang sopir untuk memilih segera menuju lokasi proyek.


Sebuah proyek yang Bia bangun di kawasan pesisir selatan kota Jogjakarta yang kini sedang di bangun jalan lintas selatan. 


Bia menggunakan kesempatan tersebut mengembangkan pembangunan di sana dengan membangun sebuah restoran dan sebuah wahana permainan yang memang belum ada di kawasan tersebut. Seiring berjalannya waktu pasti tempat yang baru saja dibuka itu akan menjadi salah satu objek wisata yang akan dicari oleh para pariwisata sebab di kawasan tersebut terbentang luas pantai selatan kota Yogyakarta.


Sebelum benar benar meninjau proyek Bia dan Anyer singgah di sebuah rumah makan kecil yang ada di kawasan tersebut karena keduanya sudah berjanji kepada manajer yang menangani proyek ini.


"Jadi kenapa bisa seperti ini?" tanya Bia.


Budi yang menjabat sebagai tangan kanan Bia pun segera menjelaskan alasan mengapa warga mendadak ingin menarik lahan yang telah dibeli oleh perusahaan Bia.


"Jadi begini, Bu. Ada seseorang yang telah menghasut salah satu warga jika harga yang kita berikan untuk mereka itu terlalu rendah. Dan para warga berdemo jika tidak menaikan harga jual beli maka mereka akan menarik kasus ini ke pengadilan dengan kasus penipuan dan pembodohan kepada kaum awam. Sebab ternyata ada salah satu dari mereka ada yang merasa belum di bayar lunas uang mereka." jelas Budi dengan gamblang.


Bia menakutkan alisnya untuk mencerna penjelasan Budi. Bia masih tidak mengerti akan tuntutan warga yang meminta menaikkan harga. Padahal waktu itu sudah sama sama sepakat dengan jumlah yang Bia berikan. Lalu siapakah dalang di balik penghasutan ini. Dan yang membuat Bia murka adalah penjelasan Budi yang terakhir bahwa ada salah satu warga yang belum mendapat kompensasi penuh. Padahal menurut laporan yang Bia tanda tangani untuk masalah kompensasi ini sudah siap dari sebulan lalu. Lantas siapakah yang sudah bermain petak umpet dengan dirinya.


"Nath, coba kamu selidiki kasus ini dengan baik! Sepertinya ada ingin bermain kucingan denganku! Aku yakin ini adalah ulah orang dalam," ujar Bia.


Natan hanya mengangguk tanda patuh.

__ADS_1


"Baik Bi dir."


Setelah siap membahas masalah dengan Budi, mereka pun segera meninjau proyek pembangunan  yang sengaja dihentikan sementara waktu. Karena jika tetap dilanjutkan dengan kondisi warga yang terus mendemo itu tidak akan berjalan dengan baik.


"Bud, coba kamu hubungi warga katakan kepada mereka Direktur BI group sudah berada di lokasi!" titah Bia.


"Baik Bu dir."


Budi pun segera menghubungi salah satu kontak yang ada di ponselnya. Mengingat jarak antara proyek pembangunan dan kampung lumayan jauh.


Sambil menunggu kedatangan warga, Bia memutuskan untuk mengelilingi bangunan yang setengah jadi. Mengingat lokasi di daerah pegunungan, Bia memutuskan untuk naik ke bukit yang berada di belakang tempat pembangunan yang diikuti oleh Nathan.


Hamparan laut nan biru  terpampang lusa di sana. Semilir angin menyapu anak rambut Bia. Rambut Bia sengaja di ikat kuda agar tidak merasa gerah di bawah terik matahari siang. 


Bia menikmati pemandangan alam yang sangat langka baginya. Bagaimana tidak, waktu yang ia miliki selama ini hanya untuk bekerja dan bekerja hingga tak ada waktunya untuk menghibur diri sendiri.


Nathan yang memperhatikan Bia ikut menarik simpul di kedua sudut bibirnya.


Pandangan Nathan lurus ke depan melihat hamparan laut yang luas. Angin dingin dan hawa panas menyapu wajahnya.


Bia membuang nafas kasarnya. Ia mendudukkan pantatnya di rerumputan yang hijau.


"Ternyata dunia luar itu sangat indah," ucapnya.


"Entah kemana aku selama ini," lanjutnya.


Nathan pun mendekat lalu duduk di samping Bia.


"Apakah sekarang anda bahagia," tanya Nathan tiba tiba.


Bia hanya menghembuskan nafas dalam. Ia mengangkat kedua bahunya. "Entahlah," ujarnya.

__ADS_1


"Aku sendiri tidak tahu apakah sudah merasa bahagia atau belum. Harusnya aku bahagia sebab harapan papa sudah terpenuhi dan aku juga sudah mendapatkan suami tampan dan tajir. Tapi… Aku meragukan kebahagiaanku sendiri." 


Bia tersenyum kecut. Meskipun ia telah bersuami namun Bia merasa biasa saja. Entah belum terbiasa atau memang dirinya tidak peka.


"Bu dir…." Nathan menjeda ucapannya membuat Bia segera menoleh ke arah Nathan.


Mata mereka saling bersitatap. Bola mata yang hitam serta alis yang tebal. Ah, mengapa tatapan Nathan menggetarkan dada Bia. Selama ini Bia terlalu cuek untuk memperhatikan garis tegas wajah Nathan. Jika dibandingkan dengan Anyer, Nathan juga tak kalah tampan. Hanya saja posisi hanya saja posisi mereka yang berbeda.


 Lama Nathan menatap Bia tanpa berucap. Bia pun segera menjentikkan jarinya di depan mata Nathan.


"Heiii…."


.


.


.


Terimakasih buat kalian yang sudah hadir dan meninggal jejak Like dan Komen 🙏🏻


Apalagi yang sudah menabur hadiah. Semoga kebaikan kalian dibalas oleh Allah swt Amin 🤲🏻.


Oh iya, Othor mau mengucapkan selamat hari ibu untuk kaum perempuan yang telah bergelar sebagai Ibu ❤


Nah, disini othor mau mengenalkan beberapa Novel sahabat othor lainnya. Singgah di novel mereka ya.




__ADS_1



__ADS_2