Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Bab 34


__ADS_3

"Bu dir, apakah anda kurang beristirahat?" tanya Nathan saat mata panda terlihat sangat jelas.


Nathan memang begitu sangat teliti, hingga hal sekecil itu pun terlihat. 


Bia mendesah kesal. "Semalam mati lampu," keruhnya.


Nathan terlihat lebih serius lagi, mengingat Bia mempunyai pobia pada kegelapan.


Dengan seksama ia ingin mendengarkan cerita selanjutnya.


"Lalu?" 


Bia mendongak. Ia pun mengernyit. Sejak kapan seorang Nathan menjadi lebih kepo seperti ini?


"Kamu pengen tahu aja, Nath." ketus Bia.


Nathan pun akhirnya menelan ludahnya kembali. Rasa penasarannya sirna seketika. Nathan pun terdiam kembali.


"Oh iya Nath, kamu sudah menyelesaikan tugas yang aku berikan kemarin?" tagih Bia.


Lagi, Nathan hanya tertunduk lesu. Sedikit pun ia belum bergerak untuk mencari tahu informasi tersebut.


"Maafkan kelalaian saya Bu dir. Saya belum sempat melaksanakan tugas yang anda berikan," sesal Nathan.


Bia menatap tajam kearah Nathan.


Bagaimana mungkin Nathan bisa melupakan pekerjaannya.


Namun, saat ingin melupakan amarahnya, Bia baru teringat bahwa kemarin Nathan menemaninya untuk menenangkan diri.


"Baiklah, tidak apa. Yang terpenting kamu harus segera mendapatkan informasi hari ini juga. Karena besok adalah jadwal tanda tangan kontrak. Jangan sampai kita salah langkah." pesan Bia.


Nathan mengangguk. "Baik Bu dir, saya kerjakan sekarang. Permisi." Undur Nathan.


. . .


Ponsel Nathan berdering. Sebuah panggilan dari Rafa. Nathan mengernyit. Untuk apa Rafa menelepon dirinya.


Nathan pun segera mengangkat panggilan tersebut.


Nathan hanya mengangguk iya saat Rafa mengatakan ingin bertemu dengannya karena ada hal yang sangat penting.


Nathan segera melajukan mobilnya menuju sebuah cafe yang telah dipesan oleh Rafa.


Dalam hati Nathan bertanya, ada masalah apa kenapa tiba tiba Rafa mengajak dirinya untuk bertemu.


Lima belas menit Nathan melaju dengan penuh rasa penasaran yang bersarang di pikirannya. Kini mobil hitam itu telah terparkir di sebuah halaman cafe.


Nathan segera mencari keberadaan Rafa.

__ADS_1


Terlihat Rafa melambaikan tangan, seolah memberi tahu bahwa dia berada disana.


"Maaf lama," ujar Nathan.


"Tidak apa apa," jawab Rafa cepat.


Untuk mengurangi rasa ketegangan, Rafa memesan minuman untuk mereka berdua.


Sementara Nathan sudah tidak sabar ingin mendengar alasan apa yang membuat Rafa ingin bertemu, sedangkan dirinya mempunyai pekerjaan yang lebih penting.


"Jadi, ada hal apa yang membuat anda memanggil saya, Rafa?" tanya Nathan penuh tanda tanya.


Rafa terkekeh pelan. Menertawakan wajah Nathan yang terlihat sangat tegang dan serius.


"Anda tidak perlu tegang seperti itu, Nathan." ledek Rafa.


"Maaf Rafa, jika tidak ada yang penting untuk dibahas saya permisi."


Seketika Rafa berhenti tertawa. Apakah bos dan asisten tidak pernah bercanda. Hanya hal seperti ini langsung ingin pergi.


"Tunggu!  Anda belum mendengarkan cerita saya sudah ingin pergi. Tetapi jika anda ingin pergi silahkan. Saya hanya tinggal mengatakan kepada tuan saya bahwa anda tidak mau bertemu dengan saya." Sebuah ancaman halus dari Rafa.


Nathan membuang nafas kasarnya.


"Tidak perlu ulur waktu jika ada yang ingin kamu sampai segera sampaikan! Saya masih banyak pekerjaan!" ketus Nathan.


"Santai dulu." cegah Rafa.


"Ya sudah, jadi begini. Saya diutus Tuan Anyer untuk menyampaikan kepada Nyonya Bianca, bahwa beliau tidak boleh bekerja sama dengan Handoko."


Rafa menjeda. Ia menyedot minumannya karena tenggorokan terasa kering setelah berceloteh.


"Jadi begini, Handoko itu bukan pebisnis yang baik. Dia hanya mengincar keuntungannya saja. Setelah bisnisnya meroket dia akan menghancurkan rekannya. Dan, itu sudah berulang terjadi. Tuan Anyer hanya khawatir kepada Nyonya. Jangan sampai itu terjadi kepada beliau." Rafa membuang nafas beratnya.


Nathan hanya mengangguk. Informasi yang bermanfaat. Ia tak perlu susah payah untuk mencari tahu informasi tentang Handoko. Nathan sangat berbunga sebab informasi itu datang sendiri tanpa susah payah ia cari.


"Tetapi, jika kalian masih akan tetap bekerjasama silahkan! Penyesalan tanggung sendiri," ujar Rafa.


"Tidak…! Informasi kamu sangat membantu." 


Rafa tersenyum puas. Akhirnya tugas yang diberikan bosnya berhasil ia tuntaskan, meski harus melalui Nathan. Memang sudah seharusnya begitu bukan? 


Namun, dalam diam Nathan memendam sebuah pertanyaan yang hendak ia utarakan tetapi ia ragu.


"Kalau begitu, terima kasih sudah mendengarkan penjelasan dari saya. Berhubungan tugas saya sudah selesai saya pamit." ujarnya pada Nathan.


"Rafa, tunggu!" cegah Nathan.


"Ada apa?" sahut Rafa.

__ADS_1


Lagi lagi wajah Nathan terlihat serius.


Ia bimbingan, antara ingin mengutarakan atau tidak.


"Ada yang ingin saya bahas denganmu. Ini mengenai… Direktur saya dan Tuan mu." jelas Nathan.


Rafa pun segera mengernyit heran. Ada apa gerangan membahas tuannya.


" Apakah mereka ada masalah?" tanya Rafa. Nathan hanya mengangguk.


Mungkin ini saatnya Nathan harus mengutarakan isi hatinya yang menghantui dirinya satu malaman.


Ia harus mencari kepastian atas status hubungan Anyer dengan wanita bernama Lisa tersebut.


"Jika tidak keberatan, mari duduk lagi!" tawar Nathan.


Rafa pun tertarik untuk membahas masalah bosnya dengan istrinya.


🌺   🌺   🌺


Bia meregangkan otot ototnya setelah berkutat dengan laptopnya. Jari jarinya terasa kebas. Ia memanggil Nathan dengan telepon kantor, namun sayangnya telepon itu tidak terjawab. Itu menandakan Nathan tidak berada di ruangannya.


"Kemana dia?" gumam Bia.


"Cari informasi seperti ini lelet," umpatnya lagi.


Tanpa pikir panjang Bia segera menelpon Nathan menggunakan ponselnya. Panggilan pun segera dijawab oleh Nathan.


"Dimana?" ketus Bia.


"Maaf, Bu saya masih di lapangan. Masih berusaha mencari tahu informasi. Dan saya sudah menemukannya." 


"Bagus. Segera kembali ke kantor!" titah Bia.


Tanpa menunggu jawaban dari Nathan, Bia segera mengakhiri panggilan teleponnya.


Nathan dan Rafa saling bersitatap.


"Seperti saya harus segera kembali ke kantor, direktur saya sudah mencari. Saya harap kamu bisa membantu saya." 


Rafa setuju. "Jika itu untuk kebaikan bersama, kenapa harus saya tolak. Saya akan membantu anda. Karena ini menyangkut tuan saya," ujar Rafa.


Akhirnya Nathan kembali ke kantor dengan sejuta kebahagiaan. Bagaimana tidak sekali dayung, dua pulau terlewati.


Semoga saja Rafa bisa membantu seperti yang diharapkan.


 jan lupa tinggalin jejak. LIKE dan Komen yang banyak.


Oh iya mampir di novel baru aku yang judulnya Hello my lecturer dong!! Di jamin lebih seru dan baper!!

__ADS_1



__ADS_2