Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Berakhir ( END )


__ADS_3

"Bi…" mulut Anyer ternganga saat menerima kenyataan bahwa bukan Bia yang menahan tangannya, melainkan Lisa.


Sebuah tamparan keras tiba tiba mendarat pada pipi Anyer. Anyer sangat terkejut menatap Lisa dengan tajam. Rasa lembut yang dulu selalu ia berikan kepada Lisa sudah hilang tak berjejak lagi. Hanya sebuah kebencian  yang melekat padanya.


"Kenapa? Kamu mau marah? Silahkan, Anyer! Asal kamu tahu, kamu tidak ada bedanya denganku. Lalu mengapa kamu membenciku? Atau kamu hanya sok polos?" maki Lisa.


Perempuan yang berstatus mantan kekasih Anyer itu sangat merasa kecewa dengan Anyer. Dulu ketika masih bersama, Anyer akan menjaga kehormatannya meskipun Lisa sering menggodanya. Tetapi mengapa bersama dengan orang yang baru saja ia kenal Anyer rela menggoyahkan imannya.


"Tidak usah ikut campur! Urus sendiri kehidupanmu dan… " Anyer sedikit mengulur ucapannya.


"Dan aku merasa kasihan akan nasib malang ini. Setelah bibit ditanam malah ditinggal tunangan bersama wanita lain. Sungguh menyedihkan."  Anyer menertawakan kenyataan yang harus Lisa tanggung.


Ternyata pendapat Lisa salah. Dari sorot matanya, Anyer sudah tidak memiliki rasa apapun terhadapnya. Percuma untuk memohon belas kasihan kepadanya. Sungguh miris.


"Anyer kamu sudah sangat keterlaluan! Kemana Anyer yang aku kenal selama ini?" Lisa menatap nanar. Kini ia benar benar sudah tidak bisa mengenali sosok Anyer yang ia kenali.


Anyer lebih memilih meninggalkan Lisa yang masih terpaku menatap kepergiannya. Air matanya lolos begitu saja. Jika waktu bisa diputar ia tidak menempuh jalan yang salah. Saat ini dirinya benar benar iri terhadap Lia, sang kakak yang hidupnya jauh lebih beruntung daripada dirinya. Lisa menyeka jejak air matanya. Tangan rapuhnya mengelus perut yang sudah terlihat buncit.


.


.


.


.


.


Hari ini adalah hari yang tidak pernah Bia dan Anyer inginkan ataupun mereka pikirkan sebelumnya. Hakim telah mengetuk palu sebagai tanda sah keduanya resmi bercerai. 


Sebelumnya Bia menolak keras untuk bermediasi dengan Anyer karena bukti bukti mengarah kuat kepada Anyer.


Didampingi Siska dan Aryo, Anyer menyembunyikan rasa sedih bercampur penyesalan dengan apa yang telah diperbuat selama ini.

__ADS_1


Andai waktu bisa terulang kembali, Anyer akan mencintai Bia dengan sepenuh hatinya. Karena sadar, bahwa di juga telah mencintai Bia tetapi dengan bodohnya ia malah mengambil jalan yang salah sebagai tempat pelampiasannya. Sungguh Anyer sangat bodoh.


Bia tak bisa mengungkapkan perasaannya saat ini. Setelah dinyatakan resmi bercerai, air mata Bia lolos begitu saja. Ada rasa nyeri di ulu hatinya. Namun, ia tak ingin goyah. 


"Bi," panggil Anyer saat keduanya sama sama keluar dari ruang sidang.


Bia menatap Anyer dengan nanar. Ada rasa bersalah ada juga rasa benci terhadapnya. Namun, dari sorot mata Anyer Bia bisa melihat bahwa mantan suaminya itu merasa sangat terpukul.


"Meskipun kita tidak menjadi suami istri lagi, bisakah kita saling berteman? Aku ingin mengenalmu dari awal," lirih Anyer.


Tak sanggup menjawab, Bia hanya mengangguk pelan. 


"Makasih ya, Bi." Refleks Anyer segara memeluk mantan istrinya karena rasa bahagia. Dalam hati Anyer akan berjanji untuk membuat Bia jatuh cinta kepada dirinya lagi.


Di Belakang mereka ada Siska dan Aryo. Sebenarnya Aryo tidak rela akan keputusan mereka bercerai namun, Aryo tidak bisa berbuat apa apa lagi setelah Aryo tahu bahwa Anyer yang pantas disalahkan untuk kasus ini.


"Anyer, kita harus segera ke rumah sakit, Oma drop." 


Anyer segera menoleh kebelakang dimana Siska sang Mama terlihat sangat panik. Begitu juga dengan Aryo yang sudah sangat khawatir.


Aryo tidak bisa menyembunyikan rasa sedihnya. Setelah memeluk Bia, Aryo menatap mantan menantunya. Sungguh berat namun Aryo sendiri tak bisa berbuat apa. 


"Mama ikut prihatin ya atas perpisahan kalian. Mungkin jodohmu dengan Anyer hanya sampai disini." Siska pun turut memeluk tubuh Bia. Ia menyunggingkan senyumnya.


Bia berjalan pelan diikuti Nathan di belakangnya. Lelaki yang sedari tadi hanya memperhatikan Bia yang terlihat sangat terpukul. Apakah Bia menyesal atau Bia sudah mencintai Anyer terlalu dalam.


"Apa kami menyesal?" Nathan bersuara dari belakang. Seketika langkah Bia langsung terhenti. "Tidak. Aku tidak menyesal." 


Nathan tidak bisa memastikan ekspresi Bia saat ini. Ia pun menghela nafas panjangnya. Mungkin saat ini Bia membutuhkan waktu untuk sendiri. 


"Di parkiran ada Pak Dadang. Maaf aku tidak bisa mengantarmu pulang." 


Bia langsung mendongak. Yang benar saja Nathan akan membiarkan dirinya sendiri.

__ADS_1


"Siapa yang menyuruh aku pulang dengan Pak Dadang? Aku tidak mau!"  ketus Bia.


Nathan menautkan alisnya. "Lalu?"


"Peka sedikit kenapa sih, Nath. Disaat seperti ini kamu malah ingin meninggalkan aku sendiri?"


Bia dan Nathan pun meninggalkan gedung pengadilan. Begitu juga Pak dadang yang terabaikan hanya bisa pasrah begitu saja. 


Sepanjang perjalanan Bia mencoba membuang rasa berat dalam hatinya.


Mungkin memang bener ucapan Siska jika Jodohnya dengan Anyer hanya sampai disini.


Bia sudah mantap menata kehidupan yang baru dengan status baru. 


"Nath, seperti aku butuh refreshing  untuk sementara waktu. Aku butuh menjernihkan pikiranku. Bagaimana kalau kita ambil cuti tahunan dan liburan bersama." cetus Bia.


Nathan yang fokus menyetir pun menyetujui ide dari Bia. Selama ini Nathan memang tidak pernah liburan begitu juga dengan Bia yang hanya fokus kerja dan kerja.


"Boleh. Jadi kemana kita?" tanya Nathan.


Bia terdiam sejenak. Memikirkan tempat yang bagus untuk dikunjungi.


Sesaat Bia tersenyum saat sudah menemukan tempat yang ingin ia kunjungi.


"Bagaimana kalau kita pergi ke Cappadocia yang sedang Viral itu?" kekeh Bia.


"What? It's my dream, not her?" Nathan lantas tertawa setelah mengucapkan kata tersebut.


.


.


.

__ADS_1


Halo Halo terimakasih sudah menemani perjalanan Bia sampai disini. Tak ada kata lain selain kata terimakasih.


Se you 😘


__ADS_2