
Sudah hampir 30 menit Nathan menunggu Bia yang tak kunjung juga kembali. Cukup merasa heran karena tidak seperti biasanya yang betah di toilet.
Dengan langkah pelan Nathan mengusir lorong yang menuju toilet tersebut. Sebenarnya Nathan merasa malu untuk masuk kedalam toilet wanita bisa bisa dirinya disangka lelaki mesum.
Nathan menelepon ponsel Bia, namun tak kunjung ada jawaban membuat Nathan semakin gusar.
"Mbak bisa tolong saya? Istri saya tadi izin ke toilet tetapi sampai sekarang belum keluar. Saya juga takut terjadi apa apa pada istri saya. Bisa tolong bantu panggilan dia?" Terasa konyol, namun Nathan harus melakukan hal demi mengetahui bahwa Bia sedang baik baik saja.
"Serius nih, gak modus?" seorang wanita muda masih ragu akan pengakuan Nathan.
"Astaga Mbak… Emang tampang saya terlihat mesum gitu?"
Wanita itu tertawa. "Iya iya percaya. Ya sudah aku lihat dulu ya?!"
"Tunggu Mbak!"
"Kenapa lagi," gerutu wanita tersebut.
"Saya boleh ikut?" Nathan sedikit ragu.
Sepanjang pintu toilet Nathan menelepon ponsel Bia. Tepat disalah satu pintu toilet Nathan dengan jelas mendengar suara ponsel Bia. Dengan cepat ia membuka pintu toilet, namun nihil. Ternyata tidak ada sosok Bia di dalam tersebut hanya ponsel Bia dan tas Bia yang tergeletak lantai.
Nathan segera mengambil barang milik Bia. Sudah pasti itu adalah milik Bia.
"Bia," panggil Nathan.
Nathan keluar dengan sejuta rasa khawatir mencoba untuk mencari Bia di setiap sudut lama toilet. Sayang seribu sayang Bia tetap saja tidak ditemukan.
Hilangnya Bia telah membuat riuh beberapa pengunjung bahkan petugas keamanan berusaha memeriksa Bia melalui CCtV yang ada di sekitar toilet.
Sayangnya jejak Bia tidak bisa terekam oleh CCTv.
Nathan semakin murka. Ia mengepalkan tangannya lalu segera berlalu untuk mencari keberadaan Bia saat ini.
Mobil melaju dengan kencang, Nathan pun sudah menghubungi orang orang kepercayaannya untuk melacak keberadaan istrinya
"Kurang aja! Aku yakin semua ini perbuatan Anyer!" umpat Nathan.
Sepanjang perjalanan pikiran Nathan buntu. Ia tidak tahu akan kemana untuk mencari Bia sekarang.
__ADS_1
..._____...
Sementara di sebuah gudang yang terbengkalai dengan tangan dan kaki terikat, Bia membuka matanya. Kepalanya pun masih terasa sedikit pusing.
Ya, tadi saat Bia tubuh Bia sudah mulai lemas, datang seseorang dan segera menggendongnya. Saat itu Bia menganggap itu adalah Nathan. Namun nyatanya saat ia membuka mata ia malah mendapati tangan dan kakinya sudah terikat di dalam sebuah mobil.
Seberapa besar tenaga Bia untuk melepaskan ikatan tersebut itu hanya sia sia. Nyatanya Bia tetap saja tidak bisa melepaskan ikatan tangannya.
Bia hanya bisa menangis. Entah siapa yang sudah menculiknya.
"Lepaskan aku!" teriak Bia saat ada seorang yang memasuki gudang tersebut.
Seseorang yang memakai masker malah tak menjawab. Dekat, semakin dekat pelaku itu menghampiri Bia lalu mengelus rambut Bia.
"Lepaskan. Apa mau kamu? Uang? Berapa yang kamu butuhkan aku akan berikan." teriak Bia lagi.
Hanya tawa yang bisa Bia dengarkan dari sosok tersebut. "Aku tidak membutuhkan apa apa. Hanya kamu yang aku butuhkan sekarang."
Mata Bia melotot, jantungnya berdebar kuat saat baru saja mendengar suara yang begitu familiar baginya. Suara yang sudah lama tidak ia dengar.
"An...Anyer?" gugup Bia.
Saat itu juga masker dibuka. Alangkah terkejut setengah mati saat tebakan Bia benar. Saat ini sosok Anyer telah ada di depannya setelah hampir satu tahun tak ada kabar beritanya. Lalu untuk apa di melakukan semua ini?
"Mau kamu apa?" Bia tak habis pikir jika Anyer menculik dirinya. Bukankah hubungan mereka telah usai setahun yang lalu.
Anyer tersenyum puas saat melihat wajah Bia yang sudah sangat ketakutan. Perlahan ia membelai pipi Bia.
"Hai Bianca Wijaya, mantan istri Adipati Anyer Subardjo? Bagaimana kabarmu? Sudah lama tak bertemu, sekarang kamu lebih berisi ya. Sepertinya kamu juga terlihat sangat bahagia," bisik Anyer tepat di telinga Bia membuat Bia bergidik ngeri.
"Apa mau kau Anyer? Bukankah kita berpisah dengan baik. Apa salahku Anyer?!" teriak Bia.
Lagi lagi Anyer terkekeh pelan.
"Itu kemauan mu, sayang. Bukan aku! Apa kamu lupa kalau aku tidak setuju dan aku memohon untuk meminta kesempatan agar bisa memperbaiki dari awal lagi. Dan… Asal kamu tahu Nona Bianca, gara gara perceraian kita, Oma drop dan meninggal. Pulau KODOMO dan sebagian hartanya diserahkan kepada sebuah yayasan. Bahkan aku harus tinggal di Amerika untuk menyembuhkan luka tak berdarah ini. Tetapi sekarang aku sudah kembali. Kembali untuk merebut apa yang seharusnya menjadi milikku."
Bia menggelengkan kepala. Bahkan saat ini dirinya tidak mengenali sosok Anyer yang ada di depannya saat ini. Sorot mata Anyer telah dikuasai rasa kebencian yang mendalam.
Hari pun sudah semakin larut namun, Nathan sama sekali belum menemukan titik terang dimana keberadaan Bia. Bahkan orang yang ia suruh pun juga tidak bisa melacak keberadaan Bia.
__ADS_1
Aura yang biasanya akan tidur dengan nyenyak, kali ini merasa gelisah. Tangisan kecil membuat mbak Lia semakin bingung. Biasanya Bia lah yang paling bisa mendiamkan jika Aura sedang merengek seperti ini.
Mbak Lia pun juga tidak merasa tenang saat mendengar kabar dari Nathan bahwa Bia di culik.
"Aura pasti mikirin Mama ya? Sama, mbak Lia juga sedang mikirin mama kamu. Tapi percayalah, papa kamu pasti bisa menemukan mama." Mbak Lia berusaha menenangkan Aura tetapi tidak juga reda.
Mendengar tangisan Aura yang semakin kencang, Nathan yang memang tidak bisa tidur segera menghampiri Aura.
"Kenapa Mbak?" tanya Nathan dengan rasa penuh khawatir
"Gak tau Mas, biasa gak seperti ini. Mungkin Aura sedang merindukan Nyonya Bia." lirih Lia.
"Bagaimana, ada kabar mengenai Nyonya?" tanya Lia lagi.
Nathan menggeleng sambil mengambil alih tubuh mungil Aura. "Belum, mbak. Semoga saja segera ditemukan."
"Aku bawa Aura ke kamar ya! Siapkan keperluan!" Nathan segera membawa Aura ke kamarnya.
Sedikit lebih tenang saat Nathan mencoba memeluk gadis kecil itu, Nathan pun menghujani dengan kecupan di kepala Aura.
"Sayang, kita cari mama dimana lagi?" keluh Nathan.
Bak seperti mengerti akan ucaoab Nathan, Aura kembali memeluk tubuh kekar Nathan pembuat Nathan menyunggingkan senyumnya.
"Pintarnya anak papa. Tidur kita ya."
Disisi lain, saat ini Bia tengah merasakan dinginnya angin malam. Jangankan untuk tidur, untuk bernafas saja Bia merasa kesulitan. Pikiran Bia tidak tenang. Pasti Nathan sangat khawatir akan keberadaan dirinya, sayang ponsel Bia tertinggal entah dimana.
"Jadi bagaimana Bia? Kamu mau kembali kepadaku?" Anyer masih senantiasa menunggu Bia di dalam gudang tersebut.
Bersandar di dinding sambil menghisap puntung rokok. Sejak kapan Nathan menjadi seorang perokok?
Tanya Author dia yang lebih tau, pikir Bia.
"Sampai kapan pun aku tidak akan pernah sudi untuk kembali kedalam hidupmu yang menjijikkan Anyer! Aku tidak sudi."
Anyer tidak menanggapi ucapan Bia. Ia terus menikmati sisa puntung rokoknya yang tinggal sedikit lagi.
"Aku tidak peduli! Yang aku tahu kamu harus mau!"
__ADS_1