
Tokk.. tookkk.tokkk...
"dil, kamu sudah siap?" mami mengetuk pintu kamar adila.
"Sebentar lagi mi." adila hanya berteriak dari dalam kamarnya.
"Semua orang sudah menunggu di bawah, cepetan ya nanti telat." mami pun hanya berteriak dari balik pintu.
"Adila masih bersiap siap." mami berbicara pada semua orang saat tiba di bawah.
"Ya sudah mi, pi, kalau gitu aku duluan ya?" raka berpamitan untuk berangkat terlebih dahulu, mami pun mengangguk tanda setuju.
"Aku juga duluan deh mi." tiba2 raja kakak kedua adila menghampiri papi dan maminya. "Kamu mau berangkat sendiri?" tanya papi. "Iya aku bawa motor soalnya." jawab raja.
"Serius dandanan se kece itu mau bawa motor? itu rambut yang udah kayak di jilatin kucing nanti bisa rusak kalau pake helm." tiba2 adila nyaut dari atas tangga.
"Ini pake gel rambut super mahal, biar pun kena helm bakal tetep kece, ketolong sama wajah ganteng kakak soalnya." raja merapikan rambutnya. adila hanya menanggapi seperti orang mau muntah.
"Udaaahhh udaaahhh, kita berangkat, ini malah mau perang." mami menyudahi ke gesrekan raja.
***
Sesampainya di rumah kakek, mereka di sambut kakek dan raka yg sudah lebih dulu sampai di sana, ternyata keluarga pak Gunawan juga belum ada di sana.
"Kakeeekkk." adila berlari kecil dan memeluk kakeknya.
"Apa kabar cucu kakek yang paling cantik?" kakek membalas pelukan adila.
"Alhamdulillah baik kek." adila mendongakkan kepalanya dan tersenyum.
Tidak lama kemudian terdengar suara deru mobil yang ternyata keluarga pak Gunawan.
"Assalamu'alaikum, selamat malam semuanya." pak Gunawan mengucapkan salam.
__ADS_1
"Wa'alaikum salam, selamat malam gun, mari masuk." kakek menjawab salam dan mempersilahkan keluarga pak gunawan masuk.
"Haaiii adila!" tiba2 wanita muda yang berdiri paling belakang menyapa adila.
"Loh nasya, kamu di sini?" adila menghampiri nasya setelah menyalami pak gunawan dan istrinya yang bernama ibu kinan.
"Aku di ajak papa dan mamaku makan malam disini, apa kamu???." nasya tidak melanjutkan ucapannya.
"Ini rumah kakek aku, ayo masuk." adila menggenggam tangan nasya.
Ternyata seluruh keluarga sudah duduk di sana, nasya dan adila duduk bersebrangan di samping keluarganya masing2.
Adila mengedarkan pandangannya, mencari sosok laki-laki yang akan di jodohkan dengannya. Apa perjodohannya batal ya, kok laki-lakinya gak ada, ya alloh semoga bataaaaalll am.... Belum sempat mengucap amin dalam hatinya tiba2 sosok laki-laki yang gagah dan tampan berdiri dihadapan keluarga.
"Mohon maaf saya telat, ada pekerjaan yang tidak bisa saya tinggalkan."laki-laki itu menyalami kakek dan papi.
"Tidak masalah, itu tandanya kamu bertanggung jawab dengan pekerjaan mu." ucap kakek.
"Nah nak bagas perkenalkan ini adila cucu saya." tiba2 kakek memperkenalkan adila dengan bagas.
Bagas bangun dari duduknya dan menyalami adila dengan tenang malah sangat tenang, tidak terlihat raut ketegangan sedikitpun.
Adila pun mengimbangi, berusaha menutupi ketegangan dan kegugupannya, ini kali pertama perkenalan nya bersama seorang laki-laki di hadapan keluarga.
Pihak keluarga berbicara banyak hal tentang hubungan kami kedepannya, lebih tepatnya kakek, pak Gunawan dan papi yang lebih mendominasi perbincangan.
Sebenarnya kakek dan pak gunawan terpaut usia yg cukup jauh, pak gunawan lebih cocok bersahabat dengan papi, memang papi pun berteman baik dengan pak gun, hanya saja tidak sedekat persahabatan pak gun dengan kakek.
"Jadi bagaimana, kira2 kapan kita melangsungkan pernikahan nya?" kakek kembali membahas pernikahan adila.
Terlihat dari raut wajahnya bahwa adila semakin gugup dan tegang, mami kemudian menggenggam tangan adila untuk menenangkan, kemudian adila tersenyum ke arah mami seolah mengatakan bahwa dia baik2 saja.
"Lebih cepat lebih baik." jawab pak gunawan mantap.
__ADS_1
"Bagaimana jika dua bulan lagi?" kali ini papi yang memberi usul dan di setujui kedua belah pihak.
Setelah perbincangan sudah mencapai final, keluarga pak gunawan pun pamit pulang.
Adila dan nasya berjalan paling belakang,
"Dil aku gak nyangka kamu bakal jadi kakak ipar aku."nasya menyenggol tangan adila.
"Ehhh kamu jangan bilang2 dulu sama temen2 ya kalau aku mau nikah, bisa di cengcengin seluruh isi kampus kalau mereka tau aku mau nikah muda." adila menempelkan jari telunjuk pada bibirnya.
"Bisa di atuuuurrrr." ucap nasya
"Besok kita ketemu di kampus ya, ada banyak hal yang harus aku tanyain sama kamu." ucap adila.
"Mau nanya apa? tentang kak bagas ya." nasya berucap tepat di telinga adila.
"Heeeyyyy mana mungkin." adila memukul ringan tangan nasya.
Nasya mengusap tangannya pura2 kesakitan.
"Sya ayo kita pulang." pak gunawan menyudahi perbincangan nasya dan adila.
"Aku pulang dulu ya, besok kita cerita banyak." nasya melangkah keluar dari rumah kakek, nasya melambaikan tangan ke arah adila kemudian adila membalas lambaian tangan nasya sambil tersenyum, Ternyata nasya berdiri tepat di samping bagas, Saat adila tersenyum dan melirik ke arah bagas ternyata bagas pun tengah tersenyum namun entah pada siapa, pada dirinya atau pada papinya yg tepat berada di samping adila, Ahhhh entahlahhhh jangan dulu berfikir macam2...
.
.
.
.
mohon maaf teman teman jika ceritanya terlalu gaje, masih terus mengasah imajinasi dan kemampuan, jangan bosan untuk terus mendukung ku, like dan komen nya jangan lupa ya... ☺️
__ADS_1