Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Pengakuan Nathan


__ADS_3

Nathan terkejut dan segera menetralkan khayalan.


"Kamu mikirin apa sih?" tanya Bia heran.


"Memikirkan anda." Tanpa sadar lidah Nathan kelepasan.


Eh, Nathan segera menutup mulutnya. 


Bia pun mengernyit alisnya. "Maksud kamu?"


"Eh, maaf Bu dir. Maksud saya, saya sedang memikirkan anda dan tuan Anyer kapan akan segera memiliki momongan." kilah Nathan. Ia sedikit gugup, semoga alasannya mampu diterima oleh Bia.


Bia tersenyum kecut. Menertawakan dirinya sendiri. "Kamu sudah seperti Oma saja, Nath."


Bu dir, apakah salah perasaan ini? Semakin hari saya tidak merelakan anda menjadi milik orang lain. Katakan jika saya sudah gila. Saya tahu anda sudah bersuami, tetapi entah mengapa perasaan ini semakin hari semakin tidak rela.


"Memang begitulah jika sudah menikah, Bu. Pertama yang akan ditanyakan adalah kapan memiliki momongan. Setelah dapat momongan pasti akan dituntut dengan pertanyaan kapan akan memiliki adik lagi. Lucu bukan?" Nathan terkekeh pelan.


Bia menatap Nathan tajam. Seketika Nathan langsung menutup rapat mulutnya. Apakah ada yang salah dengan ucapannya.

__ADS_1


"Apa kamu sedang meledekku, Nathan!"


Natan bergidik ngeri. "Maksud anda apa Bu dir?" Nathan heran. Seketika Nathan sadar jika Bia sedang di teror oleh sang Oma tentang momongan.


"Maaf Bu dir saya tidak bermaksud menyinggung Bu dir." lanjut Nathan lagi.


"Kamu tuh tahu apa sih? Bahkan kamu saja masih jomblo sampai detik ini. Nathan… Nathan." Bia seakan meledek Nathan yang memang masih jomblo. Entah apa yang ditunggu lagi. Usia sudah matang untuk menikah. Dari segi pekerjaan sudah bagus dan gaji yang Bia berikan cukup lumayan fantastis. Dilihat lagi dari segi wajah, Nathan cukup tampan. Apalagi coba yang di khawatir olehnya.


"Bu dir sebenarnya dengan terang terangan anda telah meledak saya!" gerutu Nathan.


"Nath." Bia kembali menatap Nathan dengan serius. "Sebenarnya apa yang kamu tunggu lagi. Usiamu sudah matang untuk menikah. Kamu tak perlu mengkhawatirkan posisi pekerjaanmu karena selamanya kamu akan menjadi dari bagian BI group."


Kedua mata mereka saling bertemu. Nathan sangat dalam menatap Bia. Anak rambut yang di tiup angin membuat Bia beberapa kali harus menyelipkan ke telinganya.


Dengan antusias Bia mengangguk. "Iya. Cepat katakan! Dengan lapang aku akan mendengar semua keluh kesahmu selama ini."


Nathan membuang nafas sesaknya.


"Baiklah jika anda ingin mendengarkannya."

__ADS_1


"Sebenarnya saya memendam sebuah perasaan terhadap seorang wanita namun, saya sendiri tidak tahu apakah itu rasa sayang atau rasa cinta. Saya selalu menepis perasaan itu karena saya yakin itu adalah rasa sayang untuk tetap selalu melindunginya. Saya terlalu munafik untuk mengakui perasaan yang sesungguhnya hingga suatu saat wanita itu menikahi laki laki yang jauh lebih mapan ketimbang saya meskipun pernikahan mereka karena sebuah perjodohan orang tua."  Nathan menjeda ucapanya untuk membuang nafas kasar yang terasa sesak di dadanya.


"Namun sayang, lelaki itu ternyata mencintai wanita lain. Dan itulah yang membuat saya semakin tidak merelakannya meski saya tahu mereka adalah pasangan suami istri yang Sah."


Anyer kembali menatap Bia.


Bia yang mendengarkan merasa sangat iba kepada Nathan. Tetapi nasib wanita yang dicintai Nathan ternyata memiliki nasib yang sama seperti dirinya. 


Menikah karena perjodohan orang tua dan lebih parah lagi ternyata suaminya mencintai wanita lain. Itu terasa sangat sakit.


"Ternyata pilu juga kisah asmaramu ya, Nath. Harusnya kamu jujur akan perasaanmu sedari awal dan ini semua tidak akan pernah terjadi. Kan kasihan perempuan itu tidak mendapatkan cinta dari suaminya. Dia berhak bahagia bersamamu, Nath!"


Bu Dir, andai saja kamu tahu siapa sosok wanita yang saya maksud, apakah anda akan membalas perasaanku ini. Bu Dir maafkan saya telah munafik dan menjadi seorang pecundang. Bisa berada disamping anda setiap hari  saja itu sudah lebih dari cukup. 


"Heii… Tuh kan, ngelamun lagi," gerutu Bia.


.


.

__ADS_1


.


Heii... satu like dan komen itu adalah semangat othor untuk menulis. Maaf ya othor hanya mampu up 1 bab satu hari. Semakin hari like dan komen itu hilang tak berjejak jadi aku tidak akan membuat cerita ini panjang panjang. Terimakasih sudah sedia menjadi vitamin untuk Othor 😣😣


__ADS_2