
Seketika Nathan mengingat bahwa Bia ingin ke dapur. Apakah Bia ingin memasak? Itu tidak boleh terjadi. Nathan segera bergegas menuju dapurnya.
Sejak kapan seorang Bia bisa memasak. Menyalakan kompor saja tidak bisa. Jangan sampai Bia membuat kerusuhan di dapur miliknya.
Benar saja, Bia hanya mondar mandir di depan kompor. Tangannya ragu saat ingin menyentuh kompor. "Gimana sih," gerutu Bia.
Nathan tersenyum sambil menggeleng. Ia sudah yakin Bia tidak akan bisa apa apa di dalam dapur.
"Kamu mau ngapain?"
Bia tersentak saat Nathan sudah berada di belakangnya. Dengan cepat Bia menempelkan telapak tangannya di kening Nathan. "Kamu masih demam. Kenapa keluar kamar. Sana beristirahat saja."
Nathan menakutkan alisnya. Yang benar saja Bu dir? Aku tidak ingin kamu membuat kekacauan di dapurku.
"Aku hanya haus, ingin mengambil minum. Kamu sendiri ngapain disini." Sebisa mungkin Nathan menyembunyikan apa yang ia ketahui. Berpura pura tidak tahu itu lebih baik bukan?
"Emm… Itu. Tadi aku sengaja mampir kesini dan gak sengaja melihatmu tepar karena demam. Aku khawatir dan memanggil dokter Mada. Katanya kamu kelelahan dan stres makanya kamu deman." tutur Bia. Meskipun awalnya berdusta namun, Bia mengatakan kejujurannya.
"Oh."
"Kok hanya Oh aja sih?" gerutu Bia.
Lagi lagi Nathan menakutkan alisnya. "Jadi harus bagaimana?"
__ADS_1
"Kamu nyebelin tau. Kalau gak ingat kamu lagi sakit udah aku tinggal kamu!"
Nathan hanya terkekeh pelan sambil memegang kepalanya yang memang masih merasa sedikit pusing.
"Ya sudah, terimakasih ya Bu dir sudah mau merawat saya," ujar Nathan saat melihat bibir Bia sudah manyun lima centi.
"Jadi sekarang Bu dir mau ngapain di dapur? Memang bisa menghidupkan kompor?" Sengaja Nathan ingin menggoda Bia yang sudah semakin cemberut.
Bia hanya menggeleng pelan. Selama ini hidupnya selalu di layani. Bahkan untuk menginjak dapur saja dalam satu bulan bisa dihitung. Apalagi untuk menyentuh perkakas dapur, itu belum pernah terjadi dalam sejarah hidup Bia selama 27 tahun ini.
"Aku mau masak untukmu. Kata dokter Mada kamu tidak boleh telat makan. Asam lambung juga sudah naik. Makanya aku mau buatkan kamu… Apa ya…" Bia sendiri juga bingung apa yang hendak ia masak. Tanpa berpikir panjang terlebih dahulu, Bia hanya didorong oleh perasaannya saja untuk melakukan hal yang tak terpikirkan oleh dirinya.
"Ah, sudahlah. Sepertinya aku gagal menjadi seorang perempuan. Pantas saja Anyer memilih berpaling." Terlihat jelas raut kekecewaan pada wajah Bia. Sungguh sangat miris jika untuk dirinya. Untuk memasak saja ia tidak tahu.
"Kamu ngomong apa sih, Nath? Gak nyambung deh." Bia merasa semakin kesal karena Nathan berusaha meledek dirinya.
"Bu dir, dengar. Kamu itu adalah perempuan yang sempurna. Cantik, pintar, bijaksana, mandiri. Semua orang mengakui bahwa anda adalah perempuan tangguh. Apa karena tidak masak lalu jatuh harga diri perempuan? Tidak Bu dir. Selagi anda berduit, anda tidak perlu mengkhawatirkan masalah masak."
Bia menatap Nathan dengan penuh arti. Dalam keadaan seperti ini saja Nathan masih berusaha untuk menghibur dirinya.
"Nath, terimakasih ya. Kamu adalah satu satunya orang yang bisa mengerti akan diriku yang mempunyai banyak kekurangan ini."
Tiba tiba saja tubuh Bia merangkul Nathan dengan erat. Bia menumpahkan air matanya. Rasa sesak yang berusaha ia tutupi kini lolos semua.
__ADS_1
Nathan yang terkejut hanya bisa pasrah. Ia tahu saat ini perasaan Bia pasti sangat hancur. Ia pun membalas rangkulan dari tangan Bia.
Masih saling berpelukan, Nathan mencoba mengelus rambut Bia yang sangat halus dan wangi. "Sudahlah. Semua sudah terjadi. Tak perlu ada yang disesali lagi. Jangan pernah pikiran status setelah bercerai nanti. Karena setelah masa iddah itu habis aku lelaki pertama yang akan meminangmu."
Bia yang tadinya menangis mendadak menjadi terdiam. Ia berusaha melepaskan pelukan. Darimana Nathan tahu jika dirinya akan bercerai? Apakah Nathan tadi bisa mendengar ucapannya. Bia segera menghapus air matanya.
"Kamu tau darimana kalau aku aku ingin bercerai?"
Seketika Nathan membeku. Tidak mungkin ia mengatakan bahwa sebenarnya tadi ia hanya berpura pura tidak sadar dan mendengar ucapan Bia.
"Sewaktu aku tidk sadar, samar samar aku mendengarmu mengatakan hal itu di kamar," kilah Nathan.
Benar juga ucapan Nathan. Sebagai orang saat tidak sadar ia akan mendengar suara yang berada disekitarnya. Mungkin seperti itulah keadaan Nathan tadi.
Namun satu hal yang tidak bisa Bia tutupi. Rasa panas di pipinya sangat jelas terasa saat Bia mengulang ucapan Nathan yang baru saja ia lontarkan.
Apakah benar Nathan bersedia menikahinya setelah masa iddah itu habis. Itu artinya Bia hanya perlu menyandang status janda hanya 3 bulan saja.
Rasa gemuruh dalam hatinya tak bisa dipungkiri. Nathan yang terlalu baik tidak pantas untuk dirinya.
"Tapi, Nath. Aku tidak bisa menikah denganmu. Kamu adalah laki-laki terbaik yang pernah aku kenal. Dan aku tidak akan setuju kamu menikahi perempuan dengan status janda."
Nathan menatap Bia dengan sangat dalam. "Meskipun kamu tidak mau, aku akan tetap menikahimu. Setelah menikah aku bisa leluasa menjagamu dan tidak akan pernah membiarkan satu orang pun untuk menyakitimu lagi."
__ADS_1
Jantung Bia semakin bergemuruh. Ternyata Nathan menunjukkan keseriusan untuk menjaga dirinya. Entah karena rasa iba atau memang rasa cinta.