
"Tunggu!" Nafas Bia tersengal. Langkah Anyer pun berhenti, menatap Bia dengan malas.
"Kamu gak bisa melarang aku seenaknya sendiri! Apa hak kamu." geram Bia.
Suara Bia membuat keduanya menjadi pusat perhatian orang disekitar mereka.
Anyer yang menyadari segera menyeret paksa lengan Bia membuat Bia sedikit mengerang kesakitan.
"Apaan sih! Lepasin!"
Anyer pun segera melepaskan cengkeramannya. Sebenarnya ia tak berniat menyakiti Bia tetapi melihat Bia melawannya membuat Anyer tersulut emosi.
Anyer membuang nafas kasarnya.
"Saya seperti ini demi untuk kebaikan kamu Bianca! Saya tidak ingin kamu menjadi mangsa tua bangka sialan itu! Tetapi… Jika kamu tidak ingin mendengarkan saya itu terserah kamu saja! Jangan Jangan menyesal jika terjadi sesuatu kelak!"
Bia menatap Anyer, tak mengerti kemana arah tujuan Anyer.
"Maksud kamu apa?"
Anyer tersenyum sinis. Enggan menjelaskan kepada Bia, ia memilih berlalu. Tak menghiraukan panggilan Bia.
"Anyer tunggu!"
. . .
Sesampainya di kantor Bia masih merasa kesal. Ia masih memikirkan ucapan Anyer.
Apa maksud dari ucapan Anyer.
Tak ingin membebani pikirannya, Bia memilih memanggil Nathan.
"Iya Bu Dir? Ada apa?" Nathan segera menemui Bia.
"Ada yang ingin saya bicarakan. Dan kamu harus cari tahu secepatnya, sebelum saya terlambat."
__ADS_1
Nathan menatap Bos nya dengan serius. Sepertinya ini bukan masalah biasa hingga Bia terlihat tegang seperti ini.
"Saya ingin kamu cari tahu dulu informasi tentang pak Handoko secara detail. Hari ini juga kamu harus mendapatkan informasinya!"
Anyer terbelalak dengan keterkejutan dengan waktu yang ditentukan Bia. Bagaimana mungkin ia bisa menyelesaikan tugasnya hari ini juga mengingat ia masih memiliki pekerjaan di kantor.
"Tapi Bu Dir… "
"Saya tidak ingin mendengar alasan." tegas Bia.
Nathan hanya mampu menelan ludahnya.
"Baik Bu Dir. Saya akan kerjakan sekarang." Anyer memilih mengalah kemudian undur diri.
Dalam langkahnya Nathan masih menyimpan sejuta pertanyaan, mengapa tiba tiba sang direktur meminta informasi tentang seseorang dengan waktu secepat ini.
Di lain itu, Anyer juga masih kesal dengan Bia yang keras kepala tak mau mendengarkan ucapannya, padahal ini semua demi kebaikannya juga.
Meski ia tak memiliki perasaan terhadap Bia namun, ia tidak terima jika Bia akan dimanfaatkan oleh tua bangka sialan itu.
"Dasar perempuan keras kepala!" umpatnya.
Rafa yang baru memasuki ruangan atasannya merasa terkejut dengan keadaan Anyer yang berantakan serta tangan yang mulai mengeluarkan darah segar.
Rafa segera mendekat. "Astaga, Tuan. Ada apa?" Rafa merasa panik.
Anyer menghempaskan tangannya yang telah disentuh oleh Rafa.
"Katakan kepada perempuan itu tentang kebusukan tua bangka sialan itu!"
Rafa terdiam mencerna ucapan Anyer.
Selama ini ia belum pernah melihat Anyer seperti ini. Jika pun ada masalah pasti ia akan menyelesaikan sendiri.
"Tuan anda tenang dulu."
__ADS_1
Anyer pun menatap Rafa kemudian menuju sebuah sofa.
Terdiam sejenak, kemudian menatap Rafa dengan tajam.
"Kamu harus gagalkan kerjasama antara Bianca dan Handoko sialan itu. Jangan sampai Bianca menjadi korban selanjutnya."
Kini Rafa mengerti mengapa Anyer terlihat begitu sangat marah. Meski Anyer tidak mencintai Bia namun, setidaknya ia masih mempunyai rasa peduli kepada Bia.
"Baik Tuan. Tenang saja semua akan saya bereskan secepatnya." Rafa pun under diri.
Sementara itu Anyer masih saja uring uring tak menentu. Bia yang di gadang gadang sebagai wanita tangguh dan berbakat masih saja bisa masuk perangkap manusia licik seperti Handoko.
Saat Anyer memejamkan mata, datanglah notifikasi ponselnya. Sebuah pesan dari Lisa.
Anyer hanya membaca sekilas. Terdiam sejenak sebelum membalas kembali.
Lisa sengaja mengajak Anyer untuk ke menonton ke Bioskop. Sudah satu minggu keduanya tidak bertemu karena Lisa keluar kota untuk perjalanan bisnisnya. Sementara Anyer sendiri malah menemani Bia yang tengah berduka.
[ Baiklah. Nanti setelah pulang kerja aku jemput. ]
Pesan itu kemudian Anyer kirim kepada Lisa.
Mungkin dengan begini Anyer bisa merasa lebih tenang lagi.
Sebenarnya Anyer merasa sangat bersyukur atas kehadiran Lisa. Lisa yang telah menyelamatkan hidupnya kala itu.
Jika awalnya Anyer hanya berteman saja namun, tak bisa dipungkir perlakuan baik Lisa membuat Anyer merasa lebih nyaman saat bersama dengannya.
Lisa sangat jelas bisa menenangkan Anyer. Andaikan saja tak terhalang restu Anyer dan Lisa sudah hidup bahagia mengarungi bahtera rumah tangga seperti yang mereka impikan.
...Bersambung...
Mon maap upnya malam. Biasanya jam 6 pagi udah up, tapi hari ini slow 🙏🏻
Oh iya aku mau kenalin satu Novel lagi dari temen aku kak Aveeiii judulnya CINTA JANGAN DATANG TERLAMBAT
__ADS_1