Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Terjebak


__ADS_3

Anyer mengerjapkan matanya. Kepalanya masih terasa berat. Ia mengedarkan pandangannya ke sudut ruangan. Terakhir berhenti pada sosok yang terbaring di sampingnya.


Anyer terlonjak saat melihat seorang wanita tertidur pulas dengan selimut tebal menutup tubuhnya. Begitu juga Anyer, ia segera melihat dirinya sendiri.


Alangkah terkejut dirinya saat mendapati tubuhnya di bawah selimut tebal tanpa sehelai benang lagi.


Anyer mengacak rambutnya kasar. Mencoba mengingat apa yang sudah ia lakukan bersama wanita tersebut.


Sungguh Anyer tidak bisa mengingat atas kejadian yang terjadi ini.


.


.


.


Di sebuah kafe Nathan dan Anyer duduk sambil menunggu pesanan mereka.


Tak hentinya senyum Bia terus mengembang. Nathan pun merasa bahagia melihat senyum indah wanita yang menjabat sebagai atasannya tersebut.


Andai saja bukan keluarga Bia yang membantu kehidupannya di masa lalu, mungkin Nathan akan jatuh cinta pada sosok Bia.


Nathan segera menepis jauh perasaannya. Nathan sadar Bia sudah dianggap sebagai adiknya sendiri dan rasa sayang itu hanya sebatas adik dan kakak.


"Jadi apa yang membuatmu bahagia seperti ini?" Nathan meminta penjelasan.


"Kamu tahu Nath, mengapa aku bahagia pagi ini?" tanya Bia.


Nathan hanya menggeleng pelan.


"Setelah kejadian kemarin Anyer berubah."


Nathan mengernyit. "Berubah menjadi apa Bu? Teletubbies atau power ranger?"


"Ih… Nathan apaan sih?" gerutu Bia.


Bibir Bia mulai mengerucut menandakan ia sedang kesal terhadap Nathan.


"Oke… Oke. Tuan Anyer berubah bagaimana?" Nathan menahan tawanya.

__ADS_1


Sambil mengaduk minuman di gelas Bia mulai menceritakan secara detail dari permintaan Anyer ingin memulai dari awal lagi, memberikan rumah baru dan yang terakhir yang membuat wajah Bia bersemu adalah kejadian sebelum ia turun dari mobil. Anyer mengecup pipinya.


"Berarti Bu Dir dan Tuan Anyer sudah mencetak gol, dong? Berapa skornya Bu?" 


Nathan menahan tawanya. Ia yakin keduanya baru saja melakukan malam pertamanya


Bia melotot kemudian menggeleng pelan.


Nathan hampir tersedak minumannya. Yang benar saja hanya kecupan di pipi membuat Bia terlalu bahagia seperti ini.


Syukurlah. Entah mengapa hati Nathan bersorak ria. Dalam relung hatinya ada setitik rasa tidak rela jika Bia benar benar jatuh cinta kepada Anyer. Tetapi mau bagaimana lagi, mereka adalah sepasang suami istri yang sudah sah di mata negara dan agama.


"Bu Dir sudah jatuh cinta kepada Tuan Anyer?" tanya Nathan.


Bia terdiam sejenak. Entah perasaan yang ia rasakan saat ini adalah rasa cinta atau hanya rasa terharu saja. Karena Anyer- lah laki laki pertama yang mencuri kesucian pipinya.


Dalam hati Nathan juga bersyukur. Untung saja bukan first Kiss nya yang diambil oleh Anyer pagi ini.


Nathan segera memijit pelipisnya. Ya Tuhan Nathan… Sadar!


Nathan masih terus menatap Bia yang menyantap makan siangnya. Mendadak Nathan menyunggingkan senyumnya. 


.


.


.


Anyer telah memakai pakaiannya kembali. Ia menatap wanita yang masih tertidur. Jelas sangat terlihat jejak kepemilikan bertebaran di jenjang leher wanita tersebut. Sedangkan Anyer sama sekali tidak mengenal siapa sosok tersebut. 


Yang Anyer ingat hanya saat wanita tersebut menyapa lalu memberikan sebuah minuman kepada dirinya.


"Mela," gumam Anyer. 


Ia berhasil mengingat nama wanita tersebut.


Tak lama Mela menggeliat. Ia telah melihat Anyer sudah merapikan pakaiannya. Ia pun tersenyum kepada Anyer.


"Butuh berapa uang kamu? Ini cek kosong, isi sesukamu!" ketus Anyer.

__ADS_1


Mela merapatkan selimutnya lalu mengernyit menatap Anyer.


"Ternyata anda tahu apa yang aku butuhkan, Tuan Anyer? Tapi sayang, setelah permainan panas tadi aku berubah pikiran. Tubuhmu membuatku candu, apa lagi…" Mela menggantung ucapannya.


"Stop! Sekarang ambil ini!" Anyer melempar sebuah cek kosong yang telah ia tandatangani kemudian beranjak meninggalkan Anyer.


"Tunggu Tuan, anda ingin kemana? Anda tidak akan bisa pergi begitu saja karena permainan panas tadi sudah ada disini." Dengan senyum licik Mela memperlihatkan ponselnya lalu memutar sebuah video dimana Anyer dengan penuh nafsu sedang menjelajahi dirinya.


"Mau kamu apa?! Sini berikan!!" geram Anyer.


Wajah Anyer sudah merah padam menahan amarahnya. Entah apa yang diinginkan wanita ini.


Dengan cepat Mela menyembunyikan dibawah selimut. 


"Kamu jangan macam macam jika tidak ingin menyesal," ancam Anyer. 


"Sabar Tuan Adipati Anyer. Kamu hanya perlu melakukan satu hal saja untukku. Jika kamu bersedia maka semua ini akan aman. Aku akan segera menghapus video ini. Bagaimana kamu setuju?"


"Cepat katakan kamu ingin apa?"


Mela menarik simpul kedua bibirnya. Tak sia sia ia menjebak Anyer untuk keluar dari klub tersebut.


"Baik. Kamu cukup beli aku dari madam Rena dan katakan aku adalah wanitamu? Mudah bukan?"


.


.


Jangan lupa tap like dan tinggalkan komen.


Dukung Author dengan cara Vote dan beri hadiah 😍



..."Percayalah akan ada...


...pelangi setelah hujan."...


...( Nathan )...

__ADS_1


__ADS_2