
...Selamat hari senin...
...dan selamat beraktifitas...
...Jangan lupa untuk tetap bahagia apapun...
...keadaan kita...
Selamat membaca
"Lisa," gumam Anyer.
Anyer menatap lekat Lisa yang mengenakan sebuah daster khusus ibu hamil. Wajahnya yang sudah terlihat lebih kusam akibat tidak pernah tersentuh skin care dan perawatan lagi.
Mata Lisa berbelalak tidak percaya dengan sosok yang sedang berdiri menatap dirinya. Untuk apa Anyer datang kesini. Apa Anyer sudah mendengar kabar tentang dirinya lalu ingin menjemputnya.
Dada Lisa naik turun, ingin rasanya ia segera memeluk tubuh Anyer lalu meminta maaf padanya.
"Any...."
"Tuan, anda datang?" tanya Lia.
Lisa masih tercengang. Tuan? apakah ini rumah Anyer? tetapi mana mungkin, jelas jelas ini rumah keluraga Wijaya yang sudah meninggal itu. Lalu...?
Lisa belum paham dengan apa yang ia saksikan saat ini.
"Dimana Bia?" tanya Anyer setelah memutuskan pandangannya pada Lisa.
"Maaf, Tuan. Setelah Tuan membawa Nyonya pindah sampai detik ini Nyonya tidak pernah datang ke rumah ini," jelas Lia.
"Bohong! Jelas jelas di luar sana ada mobil yang sering di gunakan Bia." sentak Anyer.
Merasa di bohongi, Anyer memutuskan untuk mencafi Bia di kamarnya dengan langkah kasarnya.
Sementara itu Lisa masih terdiam dengan seribu pikiran yang bersarang di kepalanya.
Berarti kedatangan Anyer bukanlah untuk mencari atau menjemput dirinya.
Lalu siapa Bia? Mengapa Anyer menyebut nama itu dan mencari di kamarnya.
"Kak, dia siapa?" Lisa pura pura tidak tahu agar tidak tak membuat Lia curiga.
Ya, Lia dan Lisa adalah kakak beradik yang terpisah akibat sebuah kecelakaan beruntun yang menewaskan kedua orang tuanya saat itu.
Dan naasnya saat itu kedua bocah itu terpisah. Lia beruntung di temukan oleh Wijaya lalu di rawat dengan baik. Sementara Lisa ia harus pontang panting mencari kehidupannya sendiri. Berjumpa untuk tetap bisa hidup dengan berbagai cara.
"Oh, dia? Dia suaminya anak tuan Wijaya," jawab Lis
"Apa?" Lisa sangat terkejut.
"Apaan sih kamu heboh gitu? kenapa terpesona? Emang sih dia ganteng tapi sayang punya orang." Lia kembali lagi ke belakang. Sementara itu Lisa masih merenung, sejak kapan Anyer menikah. Mengapa tak tersiar kabar pernikahannya. Apa mereka menikah karena kecelakaan atau karena hubungan bisnis?
Atau Anyer merasa frustasi atas kejadian saat itu laku menikahi Bia.
Bia?
__ADS_1
Sepertinya Lisa pernah mendengar nama tersebut, tetapi Lisa tak bisa mengingatnya lagi.
Anyer turun dengan sejuta amarah karena memang tak menemukan Bia disana.
Melihat Lisa yang masih mondar mandir di tempat semuala, Anyer segera menyeret tangan Lisa dengan kasar.
"Sakit, Anyer! Lepaskan!" Lisa mencoba memberonta.
Entah apa yang terjadi hingga Anyer bisa menjadi kasar seperti ini kepada dirinya.
"Katakan dimana Bia?" teriak Anyer saat sudah berada di halaman depan.
Lisa menggeleng. "Aku tidak tahu, Anyer."
Lisa menghempaskan cengkeraman. Ia segera menggosok pergelangan tangannya yang terasa sakit.
Tatapan Anyer kian dalam membuat Lisa sedikit merasa ketakutan.
"Katakan apa rencanamu sekarang! Kamu sudah berhasil membuat hubunganku dengan Bia hancur. Puas sekarang?" bentak Anyer membuat Lisa sangat terkejut.
Lisa sama sekali tidak mengerti akan ucapan Anyer. Menghancurkan hubungannya dengan Bia? Bahkan Lisa baru saja mengetahui fakta jika Anyer sudah menikah.
Dan bisa bisanya Anyer menuduh dirinya sebagai orang yang menghancurkan hubungannya dengan sang istri.
"Cukup Anyer! Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kamu ucapkan. Bahkan aku baru saja mengetahui jika kamu telah menikah."
"Munafik," ketus Anyer.
Kali ini Lisa tidak bisa bagaimana cara untuk menjelaskan bahwa dirinya tidak tahu menahu tentang perkara rumah tangga Anyer.
Mata Anyer menyorot pada perut Lisa yang sudah terlihat buncit. Bisa dipastikan bahwa saat ini Lisa sedang mengandung. Anyer tersenyum sinis, sudah pastu itu adalah anak dari Rico. Lalu dimana playboy itu berada saat ini. Mengapa Lisa berada disini. Apa mungkin Bia telah menolong Lisa atau memang ini hanya akal akalan Lisa saja.
Ya, memang menyedihkan. Hubungan Lisa memang di tentang oleh keluarga Rico dengan alasan Lisa tidak mempunyai latar belakang keluarga yang jelas. Bahkan saat ini Rico sudah bertunangan dengan perempuan pilihan keluarga besarnya.
"Jika kamu hanya ingin menghinaku silahkan pergi! Dan jika kamu sedang mencari istrimu disni itu percuma karena dia tidak ada disini." Lisa berlalu meninggalkan Anyer.
Anyer menatap punggung Lisa yang hampir tak terlihat lagi. Apakah Anyer akan merasa iba kepada Lisa?
.
.
.
.
.
.
.
.
Bia dengan telaten menyuapi Nathan yang terbaring di kasur. Sebenarnya Nathan bisa saja makan sendiri namun, Bia tetap memaksa agar Nathan tidak banyak bergerak.
__ADS_1
Setelah Nathan merasa cukup, Bia segera memberikan obat yang di berikan oleh dokter Mada tadi.
"Minumlah biar cepat sembuh."
Nathan bak seperti seorang anak yang patuh kepada ibunya. "Bagus," lanjut Bia lagi.
Bia berjalan keluar untuk membawa nampan kedapur. Sebenarnya Bia menghindari tatapan Nathan. Semakin hari perasaannya semakin aneh saat di tatap olegata Nathan. Ada desiran listrik yang menyengat keselut tubuhnya.
Jika aku bisa memutar waktu, maka aku akan memutar kembali waktu itu. Aku tidak akan mengijinkanmu menikah dengan Anyer saat itu. Andaikan saja aku memiliki keberanian, pasti aku akan meminangmu di depan Ayahmu saat itu.
Bia kembali lagi ke kamar Nathan. Sebisa mungkin ia menetralkankan jantungnya agar tidak berpacu lebih kencang.
"Nath, kamu menyimpan bajuku disini tidak?"
Nathan yang berbaring segera bersandar di dinding kasurnya. "Tidak ada. Memangnya kamu pernah menginap disini?" tanya Nathan.
Dengan bibir manyun Bia menggelengkan kepala. "Tidak."
Hari semakin sore. Bia tidak sengaja ketiduran di samping Nathan. Begitu juga dengan Nathan. Akibat obat tadi ia juga tertidur. Saat hendak membangunkan Bia, Nathan memilih mengurungkan niatnya.
Dengan jelas Nathan bisa melihat wajah mulus tanpa jejak jerawat. Ya, karena Bia rajin perawatan.
Nathan membelai pelan rambut Bia. Aku hanya ingin waktu cepat berlalu dan kamu cepat berpisah dari Anyer. Aku tidak masalah jika harus mendapatkan julukan perebutan istri orang dari pada aku harus melihatmu menderita karena Anyer. Percayalah aku akan membuatmu sebagai ratuku dan aku akan membutmu mencintaiku tanpa henti.
"Nathan... kamu butuh sesuatu? Maaf aku ketiduran."
Bia mengucek matanya hendak memeriksa suhu tubuh Nathan lagi. Saat telapak tanganya sudah menyentuh kening Nathan, Bia merasa bersyukur karena demamnya sudah hilang. "Syukurlah Nath, kamu sudah sembuh. Tapi jangan lasak ya!"
Jarak antara wajah Bia dengan Nathan yang dekat membuat kedunya saling menatap dan bisa saling merasakan hembusan nafas kedunya. Aroma mint yang membuat Bia merinding.
Nathan menarik pinggang Bia agar lebih mendekat lagi. Kini Bia hampir menindih tubuh Natha. Wajah Nathan yang semakin mendekat membuat Bia hanya mampu memejamkan mata. Katakan saja kali ini Nathan telah kurang ajar kepada bosnya namun melihat tidak ada penolakan dan protesan dari Bia, Nathan semakin memberanikan diri untuk mengulum bibir Bia.
Bia hanya terdiam saat bibir keduanya sudah saling nempel. Melihat lampu hijau menyala, Nathan segera memegang tengkuk untuk memperdalam ciuman mereka.
Dengan ahil Nathan menggigit pelan bibir Bia agar terbuka dan ia bisa leluasa memainkan lidahnya di dalam sana.
Nathan terhenti saat tidak ada tanda tanda Bia untuk membalas permainannya. Apakah Bia marah? Lalu mengapa tidak protes?
.
.
.
Nex lebih Hareudang lagi ðŸ¤ðŸ¤
Mana like dan komennya 🤔🤔
Hari senin waktunya vote...
Vote cerita othor amatir ini ya 😘
Tabur bunga dan kopi juga boleh
biar makin semangat nulisnya wkwkwk
__ADS_1
Maaf jika ada typo belum sempat edit.
Selamat menghayalkan cerita selanjutnya 😆😆