
Selamat Menjelang malam minggu untuk
kalian semua. Semoga kalian baca novel ini di waktu yang tepat agar bisa menghayati sendiri sebab aku tidak bisa menjabarkan dengan tulisan hihihi.
Happy Reading 😘
"Maaf tadi sudah mengabaikan kamu. Tapi percayalah, aku tidak bermaksud untuk mengabaikanmu."
"Maaf tadi sudah mengabaikan kamu. Tapi percayalah, aku tidak bermaksud untuk mengabaikanmu."
Bia menatap sendu kearah Nathan. Beberapa kali Bia memastikan bahwa suhu tubuh Nathan mereda. Namun juga belum ada perubahan.
Tak lama dokter Mada telah tiba dan langsung menuju kamar Nathan.
"Dok, bagaimana keadaan Nathan. Mengapa dia tidak sadar sadar?" Bia terlihat sangat khawatir.
Sementara itu dokter Mada yang sudah selesai memeriksa Nathan segera membuka salah satu mata Nathan untuk Membuktikan bahwa Nathan tidak apa apa.
"Anda tidak perlu khawatir, Bu. Pak Nathan tidak apa apa dia hanya…."
Belum sempat dokter Mada menyelesaikan ucapnya mata Nathan berkedip memberi isyarat agar dokter Mada tidak memberi tahu kondisi Nathan yang sebenarnya.
"Hanya apa dok?" Bia semakin penasaran.
"Pak Nathan hanya butuh istirahat. Mungkin dia kelelahan atau mungkin sedang stres. Maka dari itu tolong jaga Pak Nathan baik baik. Takutnya Nanti semakin menjadi," jelas Dokter Mada.
Bia hanya mengernyitkan keningnya. Apa hubungannya demam dengan stres? Kalau kelelahan masih bisa masuk akal karena memang tugas Nathan menumpuk akhir akhir ini. Apa mungkin karena tugas itu Nathan bisa stres?
Sementara itu Nathan mengeratkan giginya seraya mengumpat dalam hati.
"Dasar dokter tak berakhlak! Aku hanya demam bisa mengapa harus dibilang stres? Awas kamu ya!"
Dokter Mada tersenyum jahil sambil mengemasi alat yang baru saja digunakan untuk memeriksa Natha.
"Bu Bia, berikan saja obat ini nanti juga sembuh. Yang penting jangan telat makan karena asam lambung Pak Nathan juga Naik. Jaga pola makan juga ya! Jungan biarkan di bergadang atau memikirkan yang kiranya membebani pikiran beliau, takutnya saraf otaknya tidak mampu bekerja dengan baik jika dipaksakan."
Bi mengangguk tanda mengerti.
"Baik dok, saya mengerti."
Dokter Mada segera meninggalkan Nathan dan Bia
Sebelum ia benar benar meninggalkan keduanya, dokter Mada berkata, "Bu Bia tolong jangan biarkan Pak Nathan sendirian, takut akan terjadi hal buruk."
"Saya mengerti Dok. Saya akan menjaga Nathan dengan baik."
Dasar Dokter sableng! Dikira separah itu penyakitku. Hanya demam biasa saja. Ah, mengapa jadi terjebak begini sih.
Sepeninggal dokter Mada, Bia segera menghampiri Nathan dan menarik nafas beratnya.
__ADS_1
Pikiran Bia berputar mengingat kejadian malam itu saat Nathan menyuruhnya bercerai dari Anyer. Entah mengapa dengan bodohnya Bia malah menuruti ucapan gila dari Nathan. Lalu setelah perceraian ini, statusnya akan berubah menjadi janda. Masih adakah yang menerimanya dengan apa adanya.
Lagi lagi Bia terngiang saat Nathan pernah mengatakan bahwa ia pernah memiliki perasaan terhadap seseorang. Lalu apakah semua pengakuan Nathan saat itu adalah ia mengungkapkan perasaan yang sesungguhnya terhadap dirinya.
Berarti selama ini Nathan memendam perasaan.
"Nathan."
Jantung Nathan bertalu talu mendengar panggilan Bia. Entah mengapa setelah mengungkapkan pengakuan kepada Bia, perasaan Nathan semakin gelisah saat berdekatan dengan Bia. Bahkan hanya dengan mendengar suara Bia saja jantung Nathan sudah berdebar.
"Aku tidak tahu kamu sakit apa. Mengapa sampai saat ini kamu juga belum bangun juga. Separah apa sih penyakitmu?"
Bia berbicara sendiri seolah Nathan bisa mendengarkan dirinya.
Nathan yang berpura-pura tidak sadar ingin sekali membuka mata lalu ingin mengatakan kamu kena prank tetapi ia tidak mempunyai nyali.
"Semoga kamu baik baik saja. Aku tidak tahu jika tidak ada kamu bagaimana hidupku selanjutnya. Aku sudah kehilangan Papa dan hari ini aku menggugat Anyer. Aku dan Anyer akan bercerai sesuai keinginan kamu. Aku tahu apa yang kamu putuskan itu pasti adalah yang terbaik untukku. Cepat sadar ya! Aku ke dapur dulu."
Sesaat Nathan ingin melompat mendengar pengakuan Bia. Ternyata direkturnya mengikuti ucapan gilanya itu. Jujur ia masih tidak percaya. Jantung Nathan pun semakin berdebar hebat.
Setelah memastikan bahwa Bia sudah benar benar tidak ada di kamarnya, Nathan segera membuka matanya dan membuang nafas kasarnya.
"Huuufft."
"Apa? Bercerai?
Nathan masih mengingat ucapan Bia. Sungguh diluar dugaan Nathan.
.
.
.
Dengan langkah kasar, Nathan segera menuju ruang kerjanya dan segera memanggil Mela.
"Kunci pintu!" titah Anyer saat Mela baru saja masuk keruangan Anyer. Dengan perasaan bingung, Mela pun menuruti perintah Anyer.
Dada Anyer naik turun menahan amarahnya. Ingin rasanya ia menghajar ****** di depannya saat ini.
"Katakan apa ini!" bentak Anyer sambil melempar amplop pemberian Bia siang tadi.
Mela yang sama sekali tidak mengerti maksud Anyer pun segera membuka amplop tersebut. Aneh, kenapa jadi mood singa seperti ini. Ada masalah apa?
Mata Mela terbelalak dengan mulut menganga. Bagaimana bisa ini….
Mela menggelengkan kepalanya. "Kenapa ini…."
"Kamu tidak perlu bersandiwara. Aku tahu kamu sengaja mengirim foto foto ini kepada Bia. Iya kan." Bentak Anyer lagi.
__ADS_1
Mela yang memang tidak melakukannya hanya menggeleng. "Tidak… Bukan aku yang melakukannya, Anyer."
"Cih… Dasar ****** tidak tahu berterima kasih. Seharusnya aku tidak membebaskanmu saat itu."
Anyer benar benar sangat frustasi. Ia menghantamkan kepalan tangannya diatas meja.
Mela benar benar sangat takut dengan tatapan mata Anyer. Sorot matanya sangat mengerikan.
"Anyer, kamu mau apa?" Mela terkejut saat Anyer berusaha mendekati Mela.
"Kamu lupa jika aku telah menjamin dengan harga mahal dan memberikan apa yang kamu mau. Kamu lupa sebagai ****** maka kamu harus melayani tuanmu bukan? Apa aku harus mengingatkan lagi jika kamu sudah aku beli?"
Mela gelagapan, ia tidak lupa akan status dan tujuan utamanya.
"Anyer ini di kantor." Anyer sudah membekap mulut Mela dengan mulutnya. Mela beberapa kali merasakan kesakitan saat bibirnya sengaja digigit oleh Anyer. Sungguh Anyer sangat kasar. Ini baru permulaan. Bagaimana jika Anyer melakukannya dengan kasar.
Mela memukul pundak Anyer agar lelaki itu bermain dengan lembut namun, percuma saja. Saat ini Anyer sedang diliputi amarah dan nafsu yang menggebu.
Anyer menyeret kasar lengan Mela menuju kamar mandi dan kembali memulai ciuman kasarnya.
Tangan Anyer berusaha melepas satu-persatu kancing Mela begitu juga Mela. Meski merasakan sakit dibibirnya, ia juga berusa membuka kancing kemeja Anyer.
Setelah baju Mela terlepas, Anyer segera membalikkan tubuh Mela. Tangan Mela bertumpu pada wastafel untuk menahan dirinya. Sementara Anyer bermain kasar dari belakang sana. Hanya rintihan ******* yang keluar dari mulut Mela meskipun Mela merasakan kesakitan karena Anyer bermain sangat kasar.
( Bayangkan sendiri bagaimana cerita. Othor tidak bisa menjabarkan. Takut ntar terlalu kebablasan pas nyeritain hihihi )
"Anyer… Pelan. Sakit," rintih Mela.
Anyer tak memperdulikan hingga dimana puncak kenikmatan itu sampai. Anyer mendesah kuat sambil memeluk tubuh Mela dengan erat. Begitu juga dengan Mela yang tubuhnya ikut bergetar. ******* panjang penuh kenikmatan akhirnya lolos juga dari mulut Mela.
Nafas keduanya saling menggebu. Setelah menuntaskan hasratnya Anyer segera mengenakan pakaiannya kembali.
.
.
.
.
🍃🍃 bersambung 🍃🍃
Mana nih suaranya 🤧
Novel ter- ngenes sepi kek kuburan. 😭😭
kenapa masih Nulis? karena aku mencoba untuk konsisten 🤧🤧😭😭
Oh ya please mampir ke novel Jodoh Duda Arogan
__ADS_1
dong 🙏🏻🙏🏻 Masukin ke Rak Buku tekan tanda Bintang 5, like dan komen.