
Bia masih tersipu malu saat sudah turun dari bianglala. Ternyata ucapannya menjadi senjata makan tuan untuk dirinya sendiri. Niat hati hanya ingin mengerjai Nathan ternyata dirinya malah dikerjain balik oleh Nathan.
Malam yang sudah semakin larut namun masih terlihat ramai di sekitarnya. Sayang bagi Bia jika tidak mencicipi jagung bakar rasa keju. Makanan yang pantang terlewatkan jika sudah singgah ke pasar malam.
"Kita pulang kemana?" tanya Nathan sesaat sesudah jagung bakar itu masak.
Bia masih terdiam. Ia berpikir sejenak ingin pulang ke rumah utama atau ikut pulang ke apartemen bersama Nathan.
Tapi sudah seharusnya Bia pulang ke rumahnya karena bagaimanapun Bia tidak pantas seranjang dengan Nathan karena mereka tidak ada ikatan suami istri yang sah.
"Pulang ke rumah utama ajalah. Gak enak kelaman di apartemenmu."
Nathan mengangguk tanda mengerti. Meski dalam relung hatinya ia merasa kecewa karena pilihan Bia yang ingin pulang ke rumahnya. Namun, Nathan tetap menghargai keputusan Bia.
"Baiklah, ayo!"
Bia menikmati jalanan yang lengang sambil memakan jagung bakarnya. Berhubungan Nathan fokus mengemudi, Bia berinisiatif untuk menyiapkan jagung kepada Nathan.
"Buka mulut," pinta Bia.
Nathan sekilaa melirik Bia. Jagung pun sudah berada disamping bibirnya. Tanpa pikir panjang Nathan segera menggigitnya.
Bia tersenyum penuh arti kepada Nathan.
Saat ini perasaan tak bisa diungkapkan dengan kata kata lagi. Bia sudah merasa nyaman bersama dengan Nathan jauh sebelum ia menikah dengan Anyer.
Sudut bibir Nathan belepotan karena ia hanya fokus dengan jalan di depannya. Hl itu membuat Bia mengelap dengan ibu jarinya. Nathan yang terkejut segera menginjak rem secara dadakan.
"Aduhhh Nathan yang bener dong! Sakit tau!" Kepada Bia terantuk pada dashboard membuat ia sedikit meringis.
Nathan segera mengelus kepala Bia. "Maaf gak sengaja. Lagian kamu sih pakai kode kode segala!"
Bia yang masih mengelus kepalanya kembali melotot ke arah Nathan lalu menepis tangan Nathan yang juga mengelus kepalanya.
"Kode apa coba? Aku hanya ingin mengelap sisa jagung bakar yang menempel. Duh, kamu semakin hari semakin mesum ya? Aku baru tahu." keluh Bia.
Nathan tertawa kecil sambil menggaruk tengkuknya. Ya benar, akhir akhir ini pikiran Nathan hanya dipenuhi dengan sosok Bia. Bahkan lekuk tubuhnya, bibirnya dan buah tak bercangkang masih membekas dalam ingatannya.
"Aku pikir kamu minta cium lagi."
Plak
Satu pukulan mendarat di lengan Nathan. Meskipun Bia menikmati ciuman Nathan, bukan berarti ia nyosor sembarang. Apalagi saat sedang mengemudikan mobil.
__ADS_1
Mobil kembali Nathan jalankan. Nathan sengaja melambatkan lajunya agar lama untuk sampai rumah. Rasanya tidak rela jika berpisah dengan Bia saat ini.
"Nath, bisa cepatkan sedikit tidak? Aku sudah mengantuk," protes Bia.
Nathan menatap Bia yang beberapa kali telah menguap.
.
.
.
.
.
.
.
Tepat pukul 01.30 dini hari mobil Nathan telah berhenti di halaman depan rumah Bia. Suasana pun juga sudah sepi, hanya tinggal pak satpam yang masih terjaga.
Bia segera masuk kedalam rumah, sementara Nathan ingin segera kembali ke apartemennya karena dia butuh istirahat setelah satu hari menghabiskan waktu di kantor dan malam ini baru saja menghabiskan waktu bersama dengan Bia.
"Udah malam. Nginep sini aja! Lagian di dalam masih ada kamarmu." tawar Bia.
Bia sebenarnya juga kasihan jika Nathan harus kembali ke apartemennya sendiri, apalagi waktu sudah tengah hari. Pasti jalanan sudah sepi. Bia takut kawanan begal bertebaran di ruas jalan yang sepi.
"Tapi…."
"Sudahlah, ayo turun!" Bukan Bianca jika tidak suka memaksa.
Nathan sebenarnya setuju, namun sebagai laki laki ia harus jual mahal terlebih dahulu untuk menjaga harga dirinya.
Bia menaiki tangga, sementara Nathan masih menatap punggung Bia hingga tak kan terlihat lagi. Begitu juga dengan Bia yang beberapa kali menatap Nathan di bawah sana dengan sebuah senyuman.
Bia melambaikan tangan isyarat bahwa Bia sudah akan hilang dari pandangan mata. Nathan terkekeh melihat Bia yang terlihat menggemaskan.
Setelah kepergian Bia, Nathan segera masuki kamar yang sering digunakan saat tuan Wijaya masih ada.
Kamar yang selama ini menjadi tempat bernaungnya sebelum memiliki apartemen sendiri.
Nathan segera masuk ke dalam kamar yang terlihat masih rapi dan bersih. Beberapa potong pakaiannya pun juga masih tersimpan di lemari.
__ADS_1
Nathan merebah tubuh lelahnya. Berharap malam ini ia bisa tidur dengan nyenyak. Namun sebelum tidur ia memikirkan cara agar Bia dan Anyer segera bercerai.
.
.
.
.
.
.
.
Mbak Lia terkejut saat Nathan keluar dari kamarnya. Ia tidak tahu kapan Nathan kesini, tahu tahu sudah keluar aja.
"Pagi Li. Bia, eh maksud aku nona Bia sudah bangun?" tanya Nathan.
Lia menautkan alisnya merasa heran. Sejak kapan Bia pulang? Mengapa dirinya tidak tahu apa apa.
"Kalian kapan datangnya? Bahkan aku tidak tahu kalau nyonya pulang."
Lia segera naik ke lantai atas untuk memastikan apakah Bia sudah bangun atau belum. Biasanya ia paling susah untuk di bangunkan. Namun, ternyata dugaan Lia salah. Sebelum Lia mengetuk pintu kamar, Bia sudah keluar terlebih dahulu.
"Mbak Lia," gumam Bia.
Untung saja Lia tidak mengetuk pintu, jika iya pasti wajah Bia yang akan terkena.
"Nyonya, tumben anda sudah siap?"
Lia sangat terkejut dengan perubahan yang dialami Bia. Namun Lia merasa sangat bahagia jika Bia sudah lebih mandiri.
"Nathan sudah bangun, Mbak?" Hal pertama yang Bia tanyakan adalah Nathan, sebab saat ini pikiran Bia hanya ada Nathan seorang.
"Sudah Nyonya. Silahkan turun."
Bia menuruni anak tangga dengan lebih semangat. Pagi ini dia juga sudah siap untuk beraktivitas seperti biasa.
Namun, tiba tiba saja langkahnya terhenti saat melihat wanita yang tengah membersihkan lantai dengan perut sedikit buncit.
Mulut Bia ternganga tak percaya dengan pemandangan matanya pagi ini.
__ADS_1
"Lisa," gumamnya.