Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Gaya Baru


__ADS_3

Dua hari sudah berlalu. Kini Bia dan Nathan sudah kembali ke ibukota lagi karena masalah yang sudah aman terkendali. Bua sudah menyerahkan 


masalah ini kepada Nathan dan sang pengacaranya untuk memproses kasus ini.


Begitu juga dengan  Nathan yang harus terus mencari tahu siapa yang bersembunyi dibawah selimut ini.


Pagi ini Bia melihat Anyer telah rapi padahal hari masih menunjukkan pukul 06.30 pagi. Sementara kantor buka pukul 08.00 pagi.


"Tumben udah rapi?" tanya Bia.


"Ah, iya pagi ini aku ada urusan mendadak. Aku duluan ya. Nanti kalau kamu mau berangkat suruh antar pak Dadang," ujar Nathan yang segera memakai sepatunya.


Bia masih bengong. Tidak biasanya Anyer tidak sarapan terlebih dahulu. 


Bia hanya mengamati punggung suaminya hingga tak terlihat lagi. Tak ingin berpikiran yang tidak tidak, Bia akhirnya menyantap sarapannya sendiri. Sepi nan sunyi. Mbaknya sedang ke pasar, sementara pak Dadang di depan sana memanaskan mesin mobil.


Tiba tiba tangan Bia terhenti di udara. Selera makannya pun hilang seketika.


"Miris sekali hidup ini," keluh Bia.


Bia pun segera mengambil ponsel lalu menghubungi Nathan agar segera menjemputnya di rumah.


Tak menunggu lama, Nathan telah sampai di rumah Bia.


"Selamat pagi Pak Dadang?" sapa Nathan dengan girang.  Lelaki setengah baya itu mengangguk, "Selamat pagi juga Mas Nathan. Tumben klimis dan wangi?" 


Nathan mengendus ketiaknya lalu merapikan belahan rambutnya."Sudah ganteng belum, Pak?" tanya Nathan.


"Mas Nathan ini sudah ganteng dari lahir ya pasti gantenglah," ujar Pak Dadang.


Nathan nyelonong masuk dengan kedua simpul bibirnya yang di tarik lebar. Perasaannya pagi ini lebih segar sebab, setelah sehari kepulangannya dari luar kota Bia memberinya izin libur satu hari.

__ADS_1


Dan kini waktunya ia bertemu dengan sang atasannya.


"Selamat pagi, Bu dir," sapa Nathan.


Bia yang masih berada di meja makan segera menyuruh Nathan mendekat. "Duduklah!" titah Bia.


Nathan pun segera menggeser tempat duduk. Bia mengamati Nathan dengan jeli. Sepertinya ada sesuatu yang berbeda pada Nathan. Bia menatap tajam rambut Nathan. "Gaya baru?" tanya Bia.


Nathan merapikan kembali rambutnya. Ia berharap penampilannya terlihat  lebih perfect dari biasanya.


"Begitulah Bu dir. Mencoba sesuatu yang baru. Keren tidak?" tanya Nathan.


"Biasa aja. Lebih keren Nathan yang sebelumnya," ketus Bia.


"Kamu tahu tidak? Gaya kamu pagi ini sudah seperti bapak bapak 40 tahunan keatas. Lagian ngapain sih rambutnya di klimis kayak gini?" protes Bia.


Nathan yang awalnya sudah terlanjur bahagia kini harus menerima kenyataan bahwa ternyata penampilannya biasa saja.


Nathan mengernyit, "Memangnya Tuan Anyer kemana, Bu dir?" Nathan terheran.


Bia menghempaskan nafas beratnya, "Sudah pergi. Katanya ada urusan."


Nathan mengangguk tanda mengerti kemudian mengambil ponselnya untuk mengirim pesan kepada seseorang.


.


.


.


 

__ADS_1


Sesampainya di kantor, Bia segera menuju ruang kerjanya. Sementara itu Nathan segera menghubungi seseorang dengan ponselnya.


"Bagaimana? Sudah kamu selidiki?" tanya Nathan pelan.


Nathan pun mengangguk tanda puas. "Bagus." Kemudian Nathan menutup ponselnya kembali.


"Lihat saja apa yang akan terjadi nanti. Kamu harus bertanggung jawab," lirih Nathan.


Di lain tempat, terlihat Anyer sedang berada di sebuah apartemen yang disewa oleh Mela. Berkat uang dari Anyer Mela mampu menyewa sebuah apartemen elit di ibukota.


"Baru satu minggu kamu di tinggalkan istrimu sudah tidak tahan," cibir Mela yang masih terbalut selimut tebal. Sementara Anyer terlihat sudah merapikan kancing bajunya. 


"Bagaimana? Lebih memuaskan aku atau istrimu?" goda Mela.


"Kamu tidak perlu tahu yang perlu kamu tahu adalah bagaimana kamu bisa memuaskan aku. Ingat aku sudah memberi imbalan yang fantasi untukmu." Pandangan Anyer menatap lurus jendela kamar. 


Mela pun segera memungut pakaiannya lalu memakai satu persatu. Hanya daster pendek yang ia kenakan.


"Kamu jangan khawatir, asalkan aku tetap menjadikan aku sekretaris di perusahaan mu, aku akan memberikan pelayanan terbaik untukmu." Tanpa rasa malu, Mela memeluk tubuh Anyer dari belakang. Aroma maskulin yang sangat menggoda membuat Mela tak ingin jauh darinya.


Sungguh diluar dugaannya. Kedatangannya seminggu lalu ke perusahaan membawa dampak baik untuk Mela. Pelan dan pasti Mela akan mendapatkan Anyer beserta harganya.


"Sudahlah cepat bersiap untuk ke kantor." Anyer segera menepis  tangan Mela yang melingkar di perutnya.


Mela terpaksa melepaskan lingkaran tangannya lalu beranjak ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Mela mengguyur tubuhnya, ternyata banyak jejak yang Anyer tinggalkan bahkan di lehernya Anyer juga memberi jejak. Mela tersenyum puas karena Anyer sendiri yang datang menyerahkan diri kepada dirinya.


🍃🍃 Bersambung 🍃🍃


Aku hanya mau berterima kasih kepada kalian yang masih mendukung aku, memberi semangat untuk aku. Meskipun aku tahu satu persatu kalian pergi meninggalkan ceritaku 😭😭🤧🤧


Terimakasih tak terhingga pokoknya.

__ADS_1


Sekarang aku tahu mengharapkan lebih dari seseorang itu hanya akan menyakitkan maka dari itu aku akan mengikuti arusnya saja. Kalian masih stay, aku bersyukur, kalian pergi aku akan tetap melanjutkan novel ini hingga end. 😭😭🤧🤧


__ADS_2