Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
S-2 Titik Terang


__ADS_3

Bia tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan oleh Anyer yang rela menjatuhkan harga dirinya dengan bersimpuh di atas lututnya. Apapun  alasan Anyer saat ini tidak akan merubah kenyataan bahwa Bia sekarang adalah istri dari orang lain. Rumah tangga Bia dan Anyer sudah berakhir di pengadilan setahun yang lalu. Jika Anyer memohon saat ini untuk meminta Bia kembali kepada dirinya itu sangat mustahil, bagaikan katak dalam tempurung yang merindukan bulan.


"Anyer, mengertilah! Kita sudah tidak sejalan lagi. Aku istri orang, kamu harus tahu itu. Cerita kita sudah usai! Aku tidak mau mengingat masa lalu lagi, karena di depan sana Ada Aura dan Nathan yang akan menjadi masa depanku," ujar Bia.


"Tidak Bi…! Kamu harus kembali kepadaku!" sentak Anyer.


Bia tidak habis pikir dengan pemikiran Anyer. Di luar sana masih banyak wanita cantik dan muda, bahkan Anyer bisa memilih yang dia inginkan, lalu untuk apa Anyer terus memaksanya sementara Bia sudah bersuami.


"Anyer… Jalan kita sudah berbeda. Kamu harus tahu itu." Sebisa mungkin Bia berusaha berbicara lembut agar tidak membuat Anyer berbuat nekad. Ia sangat takut dengan tatapan mata Anyer yang tajam.


"Aku tahu kamu pasti sangat terpukul saat mengetahui kebenaran yang ada. Tapi bisakah kamu memikir ulang apa yang sudah kamu perbuat saat itu? Aku sangat terluka, Anyer! Bisakah kamu rasakan perasaanku saat itu? Tidak kan?" 


"Baik jika kamu tidak bisa kembali kepadaku, maka tak akan ada satu orang pun yang bisa memilikimu kecuali aku," Anyer menyunggingkan senyumnya.


"Apa maksud kamu Anyer? Jangan macam macam!" teriak Bia.


"Aku sudah berbaik hati kepadamu, tapi sepertinya kamu malah keenakan. Mari kita tunjukkan permainan yang sesungguhnya," desis Anyer.


Kali ini Anyer benar benar nekad untuk membawa Bia pergi. Bahkan Anyer sudah menyiapkan tiket keberangkatan mereka. Bia benar benar tidak tahu apa yang harus ia lakukan saat ini. Bagaimana caranya ia bisa menghubungi Nathan. Pikiran Bia sangat kacau saat Anyer sudah membawa Bia ke dalam sebuah mobil. Sangat mustahil bagi Bia untuk bisa kabur dari tangan Anyer saat ini.


"Anyer, aku tidak mau pergi bersamamu! Pikiran baik baik Anyer! Ada Aura di dalam hidupku saat ini! Anyer tolong…mengerti lah," pinta Bia dengan raut wajah sendunya.


Anyer sama sekali tidak peduli dengan apa yang Bia ucapkan, karena saat ini yang dia tahu pedulikan hanya ingin pergi bersama Bia. Memiliki Bia seutuhnya.


Nathan yang baru saja tiba kantor mendapatkan kabar mengenai keberadaan Bia. Nathan semakin murka saat mendengar Anyer akan membawa Bia pergi keluar Negeri.


"Dila handle kantor hari ini! Saya ada urusan penting!" titah Nathan pada Dila yang merupakan sekertaris Bia.


"Baik, Pak." Dila hanya patuh. Wanita yang sudah lama mengenal Bia dengan baik itu merasa sangat prihatin atas apa sedang menimpa  direkturnya dan ia berharap semoga Bia segera ditemukan.


Nathan mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi. Beberapa kali ia menginjak rem secara mendadak saat kendaraan di depannya berhenti akibat lampu merah. Pikiran Nathan hanya satu yaitu Bia. Jangan sampai Anyer membawa Bia pergi.


Hampir setengah jam Nathan akhirnya sampai di bandara. Ia sudah menyebar orang orangnya di sana berharap segera menemukan Bia.


Disisi lain, Anyer tengah menunggu keberangkatannya bersama dengan Bia. Bia mulai berpikir keras agar bisa kabur dari Anyer. Tapi sepertinya Anyer tidak memberikan celah untuk Bia kabur.


Dengan tekad bulat, Bia akan memainkan sebuah sandiwara. Semoga berhasil, batin Bia.


Bia memegang perutnya seolah sedang merasakan sakit perut hingga membuat Anyer menatap lekat pada Bia. Awalnya Anyer tidak peduli, lama lama Bia semakin mengaduh merasakan sakit perut.


"Anyer…. Perutku sa..kit." Bia berusaha terbata bata agar mendapatkan respon dari Anyer.

__ADS_1


Dengan panik, Anyer segera mendekat. "Kamu kenapa, Bi?" 


"Seperti tamu bulanan aku datang. Aww… Sakit." keluh Bia.


Anyer semakin panik. "Jadi harus bagaimana ini?"


"Belikan aku pembalut, aku akan menunggu di toilet. Tidak mungkin aku pergi dengan keadaan seperti ini kan?" Bia sungguh bisa memainkan peran. Mengapa tidak ikut casting saja untuk menjadi seorang artis? 


Itu karena Author yang sudah nentuin aku mau jadi apa, protes Bia.


"Apa?" Anyer terkejut. Yang benar saja, membeli pembalut? "Tidak… Aku tidak mau! Yang benar saja aku seorang Adipati Anyer harus membeli pembalut? Dimana harga diriku?" ketus Anyer.


Bia mengernyitkan dahinya. "Jika bukan kamu siapa lagi? Aku tidak mungkin berkeliaran di depan umum dengan bercak noda di belakang ini, Anyer. Kumohon sekali ini saja ya?" pinta Bia. 


Ya sekali ini saja, karena setelah ini Bia akan memastikan tidak akan pernah lagi bertemu dengannya.


Anyer menghela nafas beratnya. Baiklah saat ini dirinya harus mengalah dari pada melihat Biq menjadi pusat perhatian yang akan memancing orang lain.


"Baiklah. Ayo aku antar ke toilet. Ingat jangan coba coba untuk kubur!" ancam Anyer


"Iya iya… Bawel amat sih," gerutu Bia.


"Mas… Mas!" panggil Bia. 


Beruntunglah disana ada seorang cleaning service yang sedang bertugas membersihkan toilet.


"Iya Mbak."


"Mas, bisa saya minat tolong pinjam ponselnya? Saya ingin menelepon suami saya. Tolong ya Mas?!" Bia memohon dengan penuh berharap.


"Tapi jangan lama lama ya Mbak! Pulsanya dikit lagi." Mas cleaning service memberikan ponsel pada Bia.


"Makasih, Mas. Gak lama kok. Nanti saya ganti berlipat ganda."


Dengan cepat Bia mendial nomor telepon Nathan yang memang sudah hafal di luar kepala. Panggilan tersambung tetapi Nathan belum juga mengangkat panggilan dari Bia.


Sementara itu, Nathan yang merasakan ponselnya bergetar menghentikan langkahnya. "Siapa sih, ganggu aja," umpat Nathan.


Dengan malas, Nathan mengangkat ponselnya. 


"Halo Nath, ini Bia. Nath tolong aku! Aku mau di bawa Anyer ke AS. Sekarang aku berada di toilet Bandara.  Please utus orang orang untuk menghentikan."

__ADS_1


Nathan terpaku saat mendengar suara Bia. Badannya gemetar, tetapi ia segera sadar. 


"Kamu jangan khawatir, aku akan segera datang! Kamu tenang dan umur waktu sampai aku datang ya."


Sesuai janji Bia, ia tidak akan lama lama menggunakan ponsel Mas Cleaning Service. Bia pun segera mematikan ponselnya. 


Bisa saja saat ini Bia kabur, namun Bia tidak tahu arah. Salah salah nanti Anyer akan segera menangkapnya dan tidak akan melepaskan Bia lagi.


"Makasih ya, Mas," ucap Bia.


Setelah Nathan tahu dimana posisi Bia, ia pun segera mengabari orang orangnya untuk segera menuju toilet yang ada di Bandar sebab Bia sedang berada disana.


Nathan berlari tanpa peduli orang yang ia tabrak, karena pikiran hanya ingin cepat bertemu dengan Bia.


Bia sudah menunggu beberapa menit namun, Anyer maupun Nathan belum juga sampai di toilet. Bia benar benar sangat ketakutan.


"Bia." Sebuah panggilan menggetarkan jantung Bia. Ternyata Anyer lebih dulu sampai. Ya jelas Anyer yang akan sampai lebih dahulu karena jarak tempuh Anyer lebih dekat.


"Ini pesananmu! Cepat sakiti pesawat akan segera berangkat!" ujar Anyer.


"Iya, aku tahu. Tapi Anyer, aku butuh ****** ***** karena tidak mungkin aku memakainya lagi." 


"Bia yang benar saja? Apa kamu akan menyuruhku membeli itu?" protes Anyer.


Bia yang berada di dalam toilet menahan tawanya. Biar saja, dengan begitu setidaknya Bia bisa mengulur waktu untuk menunggu kedatang Nathan.


.


.


.


Author udah capek muter muter, Fix akhir bulan END meskipun berat 😭


Oh iya Aku cuma mau bilang Ramaikan Novel baru Teh Ijo ya 🙏🏻 Terbit besok pagi JANGAN LUPA!!!


JUDUL NOVEL : SENANDUNG PITALOKA


Aku Tunggu kalian disana!!!!


__ADS_1


__ADS_2