Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Mantan calon mertua


__ADS_3

keesokan harinya mereka sarapan dengan menu seadanya.


"Mas Hari ini mau kemana? udah masuk kerja apa belum?." tanya adila.


''enggak kemana-mana, belum masuk kerja masih libur." jawab bagas.


"Ada apa?" tanya bagas sambil mengunyah rotinya.


"Ke supermarket yuk! di rumah gak ada beras sama lauk pauk nya juga." ajak adila.


"Oke, kapan?" tanya baga lagi.


"agak siangan aja, aku beres2 dulu, mau nyuci juga gak ada sabun cucinya." ucap adila.


"Aku emang gak pernah nyuci di rumah, nyuci di laundry aja." bagas menyeruput kopinya.


"Oooohhh, pantesan. Kopinya masih kemanisan mas?" tanya adila.


"Lumayan udah enggak." jawab bagas.


"Ya elahhh, masih lumayan, ternyata bikin kopi juga ada ilmunya." gumam adila.


"Aku ke kamar dulu, kalau sudah mau berangkat panggil aja."bagas beranjak dari meja makan.


Tok..tok..tok..


"Mas! mau berangkat sekarang.?" tanya adila di balik pintu namun tidak ada jawaban.


Adila kembali mengetuk pintu namun tetap tidak ada jawaban.


"Isshhhh,,, jangan2 ketiduran." rutuk adila.


"Mas, aku masuk ya?" adila kembali bersuara namun tidak terdengar suara bagas sedikitpun, Pelan2 adila membuka pintu kamar bagas, ternyata bagas tidak ada di sana.


"Mas bagas kemana sih." sungut adila.

__ADS_1


Tiba2 terdengar suara pintu kamar mandi terbuka.


Cklek.....


Adila membalikan tubuhnya ke arah pintu yang terbuka, keluarlah sosok yang di cari, memakai handuk dari pinggang hingga di atas lutut.


Aaaaaaaarrrrrrggggghhhhhh


Bagas kaget ada orang lain di dalam kamarnya, Bagas kemudian masuk kembali ke kamar mandi.


"Kamu ngapain di sini sih." bagas hanya mengeluarkan kepalanya saja dari balik pintu.


"Aku ketuk ketuk, aku panggil2, mas bagas gak nyaut2, kirain aku mas bagas ketiduran, makanya aku masuk."adila masih menutup matanya.


"Ya udah aku tunggu di luar, jangan lama2." adila membalikan badannya, kemudian berlari keluar dari kamar bagas.


"Apa'an sih tu anak." bagas menyunggingkan senyumnya.


Semenjak adegan tadi, adila lebih banyak diam, entah malu atau mungkin merasa bersalah karena sembarangan masuk ke kamar bagas.


"Ngapain ngomong kalau gak ada yang mau di omongin." ketus adila.


"Lahhhh dia yang salah, dia yg ngambek, dasar perempuan" bagas berkata dalam hati sambil tersenyum.


"Bagas, apa kabar?" Seseorang menepuk pundak bagas.


"Tante maya? Alhamdulillah baik, tante apa kabar?" bagas menjabat tangan bu maya.


"Alhamdulillah baik, ini siapa?" bu maya menunjuk ke arah adila.


"Kenalkan ini adila, istri saya tante." bagas mengenalkan adila.


Adila pun menjabat tangan bu maya dan berkenalan.


"Kamu nikah gak ngundang tante nih." bu maya tersenyum.

__ADS_1


"Maaf tante, aku fikir tante masih di belanda." jawab bagas.


"Sudah tiga bulan ini tante menetap kembali di sini, sepeninggal Naomi 6 tahun lalu, hidup tante benar2 hancur." Tiba2 bu maya menangis dan memeluk bagas.


Mereka berdua menjadi pusat perhatian orang-orang yang tengah berbelanja.


Sementara Adila hanya terdiam melihat apa yang terjadi di hadapannya.


"Maaf tante jadi ganggu waktu kamu." bu maya melepaskan pelukannya.


"Gak apa2 tante, aku ngerti perasaan tante." bagas tersenyum tipis.


"Syukurlah kalau kamu sudah punya pengganti naomi." bu maya tersenyum dan mengusap air matanya.


"What? pengganti, jangan bilang naomi itu mantannya mas bagas." adila menerka nerka.


Sekilas bagas melirik ke arah adila, berharap mendapat sebuah ekspresi dari wajah adila, karena bagas yakin adila pasti mendengar apa yang bu Maya ucapkan, namun ternyata ekspresi adila tetap datar, seperti tidak terdengar mengagetkan apa lagi membuatnya penasaran.


"Ya sudah, tante duluan, selamat ya atas pernikahan kalian, semoga hubungan kalian langgeng." Bu Maya mengusap lengan bagas dan adila secara bergantian.


Bagas dan adila pun melanjutkan acara belanjanya, Namun ekspresi adila tetap sama, tidak tersenyum apalagi bicara, Saat bagas meminta pendapat pun adila hanya menjawab seperlunya.


"Kalau ada apa2, bicarakan, jangan di pendam, aku bukan orang yang pandai menebak perasaan seseorang." ucap bagas saat tengah mengemudikan mobilnya.


"Gak ada apa2 mas, mungkin efek lagi datang bulan, bawa'annya suka tiba2 bad mood." ucap adila datar.


"Oooohhhh." bagas hanya ber oh ria.


Pokoknya kalau ada apa-apa itu bilang, jangan di pendam sendiri, kalau ada masalah kita usahakan selesaikan secepat mungkin." ucap bagas.


"Iya, mami sama kakak iparku juga bilang gitu." ucap adila.


"Baguslah kalau begitu." bagas tersenyum.


"Tetep aja manusia punya ego, kadang aku suka gengsi kalau mau ngomong, makanya kalau nanti aku ngambek nanya kenapa dan ada apanya jangan sekali, terus harus selembut mungkin, biar akunya cepet luluh." ucap adila panjang.

__ADS_1


Satu lagi yang bagas ketahui tentang istrinya ini, adila cukup terbuka dengan apa yang dia inginkan, tidak ada yang salah karena kadang laki2 itu memang tidak peka dengan perasaan perempuan.


__ADS_2