
Nathan telah membereskan tikus tikus kecil yang berusaha mengusik kehidupan Bia. Saat ini pelaku penyebar berita Hoax itu telah diamankan oleh pihak yang berwajib. Nathan tidak memberi maaf, karena ulahnya Bia menjadi tidak bisa leluasa beraktivitas seperti biasa.
Sebagai hukuman, Nathan menyerahkan para pelaku kepada polisi. Untuk sementara waktu para pelaku harus menerima dari apa yang telah mereka perbuatan.
Setelah berita Hoax itu diluruskan, Bia kembali bernafas lega. Akhirnya ia bisa keluar rumah lagi, meskipun tidak ke kantor.
Sore ini Bia sudah siap untuk jalan jalan bersama dengan Aura. Tak lupa Mbak Lia juga ikut untuk memantau Aura dan menyiapkan susunya nanti.
Aura yang sudah didandani cantik bak seorang putri segera di gendong oleh Bia. Meskipun Bia belum memiliki anak tetapi Bia sudah luwes dalam merawat Aura karena Bia sudah belajar merawat Aura sejak Aura berusia satu 3 hari.
Saat itu Lisa mengalami pendarahan sebelum melahirkan. Mau tidak mau Lisa harus menjalani operasi untuk menyelamatkan bayinya. Namun saat Bayi telah lahir, kondisi Lisa malah kritis hingga Lisa tak bisa terselamatkan lagi.
Melihat bayi mungil, Bia merasa sangat sedih dan kasihan. Lahir tanpa seorang ayah lalu ibunya juga pergi untuk selama tanpa melihat bayi yang baru saja dilahirkan membuat sisi wanita Bia sangat miris.
Sejak saat itu Bia memilih untuk merawat Aura. Memberikan kasih sayang layaknya seorang ibu. Dan Bia juga menggandeng Nathan untuk turut memberikan cinta kasihnya kepada Aura. Bia hanya ingin melihat Aura tumbuh besar dalam lingkungan penuh kasih sayang, mengingat Lisa yang sudah berjuang sendiri saat mengandung Aura.
Seperti biasa tujuan Bia adalah jalan ke Mall. Hanya sekedar cuci mata dan belanja untuk keperluan Aura.
[ Nath, aku di Mall XxX kamu nanti nyusul ya ]
Bia mengirim pesan kepada Nathan.
Sementara Nathan yang fokus pada layar laptopnya segera mengalihkan pandangannya pada sebuah notifikasi d ponselnya. Nathan jelas tahu bahwa itu adalah pesan dari Bia, karena Nathan memang sengaja menyiapkan satu ponsel yang khusus digunakan untuk menghubungi Bia.
Kedua garis bibirnya terangkat setelah membaca pesan dari Bia. Nathan pun segera menyelesaikan tugasnya. Ia harus tanggung jawab pada pekerjaan meski hatinya ingin segera bertemu dengan Bia.
Tepat pukul 4 sore Nathan sudah berhasil menyelesaikan pekerjaan. Dan tidak ada alasan lagi untuk Nathan meninggalkan kantor lebih awal. Namun sebelum ia benar benar meninggalkan kantor, ia meminta izin terlebih dahulu kepada atasan.
[ "Selamat sore Bu dir. Saya hanya ingin melapor bahwa pekerjaan saya sudah siap. Bolehkah saya pulang lebih awal karena ada urusan keluarga?" ]
Bia yang mendengar suara Nathan dari layar ponselnya terkekeh pelan. Apakah Nathan perlu meminta izin hanya untuk pulang cepat? Bukanlah Bia sudah mempercayakan perusahaan kepada Nathan lalu untuk apa Nathan meminta izin kepada dirinya.
[ "Baiklah aku mengijinkan asal kamu bisa sampai disini tepat waktu. Aku beri waktu kamu 10 menit." ]
Bia segera mematikan ponsel sebelum Nathan melayangkan protes nya kepada dirinya.
"Siapa suruh dikit dikit lapor, dikit dikit lapor," kekeh Bia.
Aura saat ini ada dalam gendongan Mbak Lia. Ia sebenarnya Lia sanggup untuk membesarkan ponakan, namun secara finansial ia tidak bisa. Apalagi Aura juga membutuhkan kasih sayang yang utuh dari seorang ayah dan ibu. Merasa Bia dan Nathan mampu memberikan yang Aura butuhkan, Lia merelakan Aura dalam asuhan mereka. Toh Lia masih bisa ikut merawat Aura bersama.
"Mbak Lia, perlengkapan Aura masih lengkap?" tanya Bia. Karena semua keperluan Aura, Lia yang menghandle.
"Masih lengkap, Nyonya. Minggu lalu Mas Nathan baru saja membelikan keperluan Aura," jelas Lia.
Bia mengangguk. "Ya sudah kita beli baju saja." Bia melangkah ke salah satu toko pakaian. Kini Bia sudah siap untuk memborong apa yang ia kehendaki setelah beberapa minggu di kurung di rumah.
__ADS_1
Disisi lain, Nathan tengah berkemas untuk segera pulang. Dirinya sudah tidak sabar untuk bisa bertemu dengan Bia dan Aura. Dua orang wanita yang menjadi prioritas utamanya saat ini. Anak Bia berarti anak dia juga kan?
"Pak Nathan, jangan lupa malam ini ada dinner dengan salah satu klain penting dari luar kota. Saya harap anda ingat." Dila yang menjabat sebagai sekertaris Bia mengingatkan acara nanti malam.
"Oh iya, terimakasih Dila sudah mengingatkan saya. Jika tidak entah akan bagaimana."
Nathan mengendarai mobil dengan kecepatan rata rata. Jalanan juga belum terlalu padat. Mata Nathan sekilas mengankap sosok yang ia kenal, namun ia ragu karena tidak terlau jelas.
"Semoga saja bukan," lirih Nathan.
Sesampainya di Mall XxX Nathan segera masuk untuk mencari keberadaan Bia. Seperti yang Bia katakan lewat pesan singkat, Bia saat ini sedang berada di dalam toko pakaian X di lantai dua.
Karena Nathan sudah hafal tempat itu, ia pun segera menuju toko tersebut.
Nathan mengedarkan pandangannya, terlihat Bi dan Lia sedang memilih pakaian untuk Aura.
"Hai," Bia terkejut saat Nathan sudah mentoel pipi Bia. "Jahil sekali sih," gerutu Bia.
"Wah… Aura mau borong ya? Kenapa gak sekalian sama tokonya aja? Uang Mama gak bakalan habis kok jika hanya buat beli Mall ini," goda Nathan yang sudah melihat baju pilihan Bia di tangan seorang pelayan.
"Apaan sih, Nath. Baru juga segitu. Itung itung bayar kemarin gak bisa jalan jalan," ujar Bia.
"Karena kamu juga sih," lanjut Bia.
"Lho kok jadi aku?" Nathan terheran.
"Oh… Jadi kamu menyesal?" tanya Nathan. "Sudahlah, lanjutkan belanja kalian," lanjut Nathan.
Bia mengernyitkan dahinya. Tumben Nathan langsung down? Apakah Nathan sedang masa subur atau sedang PMS hingga ucapan Bia langsung dimasukkan kedalam hati.
"Hei! Mau kemana? Gitu aja ngambek. Gimana bisa jadi papa yang baik?" Bia malah mengejek Nathan lagi.
"Nath, kamu beneran ngambek?" Bia heran karena Nathan mengacuhkan dirinya.
"Iya iya maaf, aku kan hanya bercanda, Nath," lanjut Bia lagi.
Sebenarnya Nathan tidak tega melihat wajah Bia yang semakin sendu. Akhirnya pecah juga tawa Nathan membut Bia semakin bingung.
"Aku juga bercanda kok, Bi." Nathan terus tertawa. Sementara Bia yang merasa kesal langsung melayangkan pukulan ke lengan Nathan membuat Nathan mengaduh. Ternyata sakit juga pukulan Bia.
"Udah, ah. Bayar semuanya! Mbak Lia ayo kita pulang." Bia terlanjur kesal kepada Nathan. Ia sudah jantungan dengan apa yang ia ucapkan tadi apakah memang melukai hati Nathan. Ternyata Nathan malah mengerjai dirinya.
Nathan seketika menghentikan tawanya saat Bia benar benar meninggalkan tempat itu. Apesnya Nathan lah yang membayar semua belanjaan Bia yang membuat Nathan menggelengkan kepala.
Nathan membuang nafas kasarnya saat melihat totalan harga baju Aura yang harganya 2x lipat dari pakaiannya.
__ADS_1
"Sabar Nathan ini ujian," lirihnya.
Terpaksa Nathan harus menenteng beberapa paper bag. Bahkan beberap mata menatapnya dengan intens entah ingin mengejek atau hanya ingin menertawakan dirinya.
"Banyak Mas belanjaannya. Emang dimana istrinya?" ujar salah seorang ibu ibu yang sedang berpapasan dengan Nathan.
Nathan hanya tersenyum. Ia belum menjawab namun salah seorang teman ibu tersebut langsung berceloteh, "Sudahlah Mas, jangan mau di perbudakan sama perempuan model sekarang. Bisanya cuma nyuruh suami ini itu, eh gak taunya istrinya malah main belakang dengan laki laki lain."
Sontak Nathan hanya mampu menelan salivanya. Belum tau apa apa mereka sudah bisa mendeskripsikan sesuatu yang belum tentu kebenarannya.
"Maaf Bu, ini tadi istri saya yang belanja tapi anak saya sedang rewel. Makanya saya yang bawa belanjaan ini. Itu istri saya Bu." Nathan menunjuk kearah Bia yang ternyata masih menunggu Nathan sambil menggendong Aura di depan.
Kedua wanita itu terdiam malu lalu meninggalkan Nathan begiti saja.
Baru saja Nathan sampai, Bia sudah menatap Nathan dengan cemberut. "Kamu habis digodain lagi ya sama mamak mamak tadi? Kok bisa sih Nath? Apa coba yang di lihat dari kamu?" ketus Bia. Bohong jika Bia tidak mengatakan Nathan memang tampan.
Karena rasa gengsi, Bia selalu menutupi kelebihan dari seorang Nathan.
"Pasti aku ganteng, makanya mereka terpesona, Bi."
"Sudahlah, aku minta maaf tadi sempat pura pura ngambek. Jangan marah lagi ya! Kamu nambah cantik kalau lagi marah. Entar malah yang terpesona dengan mama muda yang satu ini," rayu Nathan.
"Mbak Lia pulang aja sama Pak dadang. Aku sama Nyonya muda ingin jalan sebentar," ujar Nathan pada Lia.
Bia mendongak. "Lho kok gitu, nanti kalau Aura rewel gimana?"
"Aura gak bakalan rewel selagi ada Papa Nathan."
Sepanjang perjalanan Bia diam diam mengagumi Nathan. Kurang apa coba? Selama ini Nathan terlalu sempurna untuk dirinya. Dari urusan kantor, segi fashion, make up, makanan dan semua yang Bia sukai Nathan hafal dengan jelas.
"Nath, kamu kok ganteng sih," lirih Bia.
Sontak mata Nathan menatap Bia. "Apa Bi?"
Ah, Bia baru saja kelepasan. Ia segera membenarkan duduknya sambil membenahi pangkuan Aura. "Tidak. Tidak ada," elaknya.
"Oh… Aku kira kamu bilang aku ganteng. Oh iya Bi, aku hampir lupa, nanti malam ada diner dengan klain penting. Kamu harus ikut. Ini adalah project pertama ku lo," ujar Nathan.
.
.
.
.
__ADS_1
Jejak kalian dong 😣😣