Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
S- 2 Pengakuan


__ADS_3

Bia menggeliat saat membuka pelan matanya. Gerakan tertahan karena Anyer segera menahan pergerakan Bia.


Saat menyadari itu adalah Anyer, Bia segera membuang muka.


"Jangan banyak bergerak," ujar Anyer.


"Kenapa kamu bawa aku kesini? Harusnya kamu biarkan aku mati saja."


Anyer menatap nanar mata Bia yang sudah membendung cairan beningnya. Jujur sebenarnya ia sangat tidak tega jika harus melihat seorang perempuan menangis.


"Kamu sudah gila Bi. Apa dengan mengakhiri hidupmu kamu akan merasa tenang?" cibir Anyer.


Sampai detik ini Bia masih enggan menatap Anyer, ia lebih memilih membuang muka dari pada harus menatap Anyer saat ini.


"Kamu yang sudah gila, Anyer!" 


Jika awal mulanya kedatangan Anyer hanya ingin balas dendam untuk merebut lagi apa yang seharusnya menjadi miliknya, kini sedikit tergoyahkan saat baru mengetahui sebuah kebenaran. Apalagi melihat Bia dengan bodohnya akan mengakhiri hidupnya. Anyer malh semakin merasa bersalah kepada Bia. Apakah tak seharusnya Anyer kembali dalam kehidupan Bia sekarang?


Tak lama dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Bia. Mengingat kondisi Bia sudah mulai membaik dokter meminta agar pasien dipindahkan ke ruangan rawat inap.


"Dok, bisakah saya membawanya pulang saja dan rawat jalan di rumah?" tanya Anyer.


"Mengingat pasien sudah membaik, seperti tidak masalah," ujar sang Dokter.


"Terimakasih, dok."


Sepeninggal dokter Bia semakin murka dengan Anyer yang mengatakan ingin membawanya pulang.


"Anyer jangan gila! Kamu tahu kan kalau aku sudah mempunyai anak dan suami?" gertak Bia.


Rahang Anyer semakin mengeras mendengar bahwa Bia telah mempunyai anak mengingat bahwa pernikahan Bia baru saja terjadi beberapa hari yang lalu.


Jadi selama ini Bia dan Nathan…?


"Anak kamu bilang? Jadi selama ini kamu tidak ada bedanya denganku?" sinis Anyer.


Bia ingin memaki Anyer. Hatinya benar benar sakit mendengar tuduhan Anyer yang sangat menusuk. Bagaimana bisa dirinya bisa dikatakan sama dengan Anyer?


Tetapi, demi untuk menyelamatkan Aura, saat ini Bia hanya pasrah dengan tuduhan Anyer.


...___...


Sampai saat ini Nathan juga belum mendapatkan kabar tentang dimana Bia berada. Ingin rasanya ia menghajar orang yang tidak becus dalam mencari keberadaan istrinya.


"Bi… Kamu dimana?" 


Nathan menatap foto pernikahan mereka beberapa hari yang lalu. Harusnya keduanya saat ini sedang bahagia menikmati bulan madunya.

__ADS_1


Kabar menghilangkannya Bia telah menyebar luas hingga trending di media sosial dan stasiun televisi. Tak heran jika para wartawan mengejar Nathan untuk memberi klarifikasi tentang Hilangnya Bia.


Bahkan polisi juga sudah turun tangan untuk mencari keberadaan Bia namun, belum membuahkan hasil juga.


Ketukan pintu terdengar lalu suara Lia menyusul. "Mas Nathan, Aura demam  Mas." Adu Lia pada Nathan.


Mendengar akan hal itu, Nathan segera membuka pintu dengan wajah yang semakin khawatir.


Aura yang terus merengek dalam gendongan Lia pun segera diambil alih oleh Nathan.


"Kita harus segera ke rumah sakit, Mbak," ujar Nathan.


Lia mengangguk. "Iya Mas, saya akan siapkan keperluan Aura dulu."


Kali ini Nathan tidak mengendarai mobil sendiri. Ada pak Dadang yang mengemudikan. Ia memilih menggendong Aura yang masih terus menangis meronta.


"Iya Nak, sebentar lagi kita sampai," lirih Nathan yang tak hentinya menenangkan Aura. Tapi apa daya, bocah yang belum bisa berpikir itu tidak akan paham apa yang diucapkan oleh Nathan.


Setelah beberapa menit perjalanan, akhirnya sampai juga di rumah sakit.


Dengan langkah cepat Nathan segera memanggil dokter untuk segera menangani Aura.


"Dok, anak saya demam. Tolong segera tangani dia!" panik Nathan.


Dokter pun segera membawa Aura ke ruang Poli anak untuk memeriksa keadaan Aura.


Aura masih saja meronta dan menangis sementara Nathan dengan lembut menenangkan gadis kecilnya dengan menggendongnya.


"Oh iya Pak. Bapak suami siaga ya. Biasanya yang akan panik itu ibunya. Ngomong ngomong dimana ibunya Pak?" 


"Istri saya sedang…." Nathan menggantung ucapannya saat Lia memotong pembicaraan Nathan.


"Mas… Mas,  Nyonya Bia sedang dibawa seseorang. Sepertinya beliau baru saja keluar dari rumah sakit ini karena masih mengenakan pakaian pasien." Adu Lia dengan nafas tersengal karena ia berlari untuk segera memberitahu kepada Natah.


"Dimana Mbak?" Nathan terbelalak.


Dengan cepat Nathan menyerahkan Aura kepada Lia. "Tolong urus Aura dulu ya, Mbak!"


Tak memperdulikan orang disekitar, Nathan terus berlari agar sampai di depan, mengingat ruang poli anak ada di bagian paling belakang.


Mata Nathan berkeliaran mencari keberadaan Bia yang sudah tak terlihat lagi. Jika memang benar yang dikatakan Lia, berarti Bia sedang tidak baik baik saja.


"Bia…!" teriak Nathan.


Percuma meskipun Nathan berteriak sekuat tenaga, nama yang dipanggil tidak akan menyahut karena memang Bia sudah tidak disana lagi.


Dengan cepat Nathan mendatangi petugas keamanan untuk meminta data rekaman CCtV. Disana Nathan bisa melihat Bia yang memang terekam kamera CCtV sedang di dorang menggunakan kursi roda oleh seseorang yang memang sangat misterius dengan wajah tertutup masker dan topi.

__ADS_1


Ya, Nathan mengingat dengan betul dengan jaket yang dikenakan oleh orang tersebut sama dengan orang misterius yang berada di cafe beberapa hari yang lalu sebelum Bia menghilangkan. Sudah bisa dipastikan bahwa dia adalah orang yang sama. Namun, Nathan kehilangan jejak karena CCTV tidak bisa merekam lagi mobil apa yang membawa Bia pergi.


Sementara itu, Bia yang masih merasa lemas tidak bisa memberontak saat Anyer membawanya pergi dari rumah sakit. Sepanjang perjalanan Bia membungkam mulutnya enggan untuk berbicara dengan Anyer hingga Anyer membukakan pintu mobil untuk Bia. Keduanya sudah sampai di sebuah gedung apartemen.


Dengan segera Anyer membopong tubuh Bia. "Lepaskan Anyer!" Bia memberontak sambil memukul dada Anyer.


"Diam jika tidak ingin menjadi trending topik hari ini juga. Kamu lihat disana ada beberapa wartawan sedang mewawancarai seseorang. Benamkan wajahmu!" titah Anyer.


Bak ditarik sebuah magnet, Bia patuh akan perintah Anyer membenamkan kepalanya dalam ceruk leher Anyer dengan tangan melingkar di leher Anyer.


Saat berpapasan dengan para wartawan jantung Bia berdetak kuat, ia sangat takut jika sampai ada yang mengenali dirinya apalagi saat ini sedang bersama laki laki lain. Meskipun memberi penjelasan, pasti akan ada saja berita yang dipanaskan. Bia tidak ingin itu terjadi karena saat ini perusahaan sedang berada di puncak.


Bia bisa menghela nafas tenang saat Anyer sudah masuk ke dalam sebuah kamar apartemennya. 


"Aku tidak menyangka kamu malah menikmati momen ini?" kekeh Anyer.


Seketika Bia memukul keras pundak Anyer. Kali ini harga dirinya sudah jatuh.


"Turunkan sekarang Anyer!" teriak Bia.


"Kamu kalau marah imut ya? Aku baru tahu atau aku sudah lupa," kekeh Anyer.


Anyer meletakkan tubuh Bia diatas ranjang tempat tidurnya dengan pelan.


Saat itu juga Anyer berlutut di kaki Bia sambil menggenggam telapak tangan Bia.


"Bi… Bisakah kamu mendengarkan penjelasanku lima menit saja?"


Bia mengernyitkan keningnya. Apalagi yang sedang Anyer mainkan. Pertama dia menculik lalu memperlakukan dirinya sebaik mungkin menjadi pahlawan yang tidak Bia inginkan.


"Aku tahu aku salah saat itu. Aku tergoda oleh seorang ******. Aku salah telah melampiaskan semuanya kepada orang yang salah. Tidak seharusnya aku mendapatkan kepuasan itu dari wanita lain. Bi… Asal kamu tahu, aku terlalu takut untuk menyentuhmu saat itu. Aku tidak ingin kamu terpaksa untuk melayaniku. Bi… Aku cinta sama kamu."


Lagi lagi Bia terbelalak. Bahkan ia sudah mengubur dalam sayatan luka itu dalam dalam tetapi mengapa Anyer datang dan mengungkit luka lama?


"Bi… Jika aku mengatakan ini apakah kamu akan percaya?" Anyer membuang nafas beratnya.


"Semua ini ulah Mama. Mama yang merencanakan semuanya. Mama yang menyuruh Mela untuk menghancurkan rumah tangga kita dan dengan bodohnya aku malah tergoda." Kali ini Anyer benar benar menangis bersimpuh diatas lutut Bia. "Terserah kamu percaya atau tidak," lanjutnya lagi.


.


.


.


.


Sepi amet novel ini 😭😭

__ADS_1


__ADS_2