
Pertemuan dengan oma membuat mood sepasang suami istri itu buram. Bagaimana mungkin ide konyol oma bisa di turuti sementara sepasang suami istri itu tidak saling mencintai.
Memang siapa yang tidak tergiur dengan salah satu pulau pribadi milik oma yang berada di pulau KODOMO.( anggap aja ada pulau Kodomo )
Salah satu pulau langka dengan keekosisteman yang sangat indah. Jika Anyer bisa mendapatkan Pulau tersebut, Anyer akan membuka aset jalan menuju kesana. Yang paling utama adalah menyediakan jet pribadi sebagai sarana menuju pulau tersebut. Sudah bisa Anyer bayangkan keuntungan yang akan didapat jika memang Pulau tersebut benar benar jatuh ditangannya. Ah, lebih tepat di tangan mereka berdua. Anyer dan Bia.
Sepanjang perjalanan Bia hanya manyun. Sungguh permintaan konyol. Mengapa oma begitu sangat berharap segera mendapatkan cicit, sementara itu hal yang mustahil Bia berikan. Dan sebagai hadiah, oma akan merelakan salah satu Pulau pribadi peninggalan suaminya. Pulau itu adalah hadiah pernikahan dari Opa untuk Oma. Jika dipikir lagi, seharusnya pulau itu akan di turunkan secara menurun. Namun nyatanya oma lebih memilih Anyer sebagai pewaris selanjutnya.
Waktu yang sudah menginjak malam. Jalanan juga sudah sedikit lenggang.
Anyer mengemudi dengan kecepatan tinggi hingga ia sampai di rumah lebih cepat.
Bia segera menuju kamar, begitu juga dengan Anyer.
Anyer masih belum menerima kekonyolan oma yang sepihak.
"Kamu jangan memikirkan ucapan oma yang berlebihan tadi." Suara serak Anyer menggema di kamar.
"Untuk apa saya memikirkan ucapan beliau. Saya tidak butuh sebuah pulau untuk membahagiakan diri saya sendiri. Apa yang saya punya saat ini sudah lebih dari cukup," ujar Bia.
Anyer masih terdiam. Sebenarnya ia memang sangat menginginkan pulau tersebut tetapi ia juga tidak mungkin menyetujui permintaan konyol oma.
Oma bilang jika Bia hamil, maka setelah Bia melahirkan Pulau itu akan resmi menjadi milik mereka berdua.
"Jangan jangan kamu memang berharap ingin mempunyai anak dengan saya." pancing Bia.
Anyer segera menepis jauh perasaannya.
"Mimpi!" cibir Anyer kemudian memilih berlalu menuju kamar mandi.
__ADS_1
Didalam sana Anyer menatap lekat pada cermin yang memantulkan bayangannya. Ia meremas rambutnya. Bagaimana bisa Anyer mempunyai pikiran untuk memiliki anak dari seorang Bianca, sementa ia memiliki wanita yang ia cintai. Harusnya Anyer memiliki anak bersama dengan Lisa, bukan Bia.
Mengingat nama Lisa, Anyer baru mengingat bahwa Lisa telah menjadwalkan pertemuannya dengannya.
Dengan bodoh, Anyer melupakan hal itu.
Anyer segera merogoh ponsel yang berada di kantong jasnya. Benar saja sekitar 10 panggilan terlewatkan, dan itu dari Lisa.
Sebuah pesan pun Lisa kirimkan untuk menanyakan keberadaan Anyer. Mengapa tak menjawab panggilannya dan yang terakhir Lisa mengancam jika Anyer tidak datang Lisa tak ingin bertemu dengan dirinya.
"Ahhh… Sial." umpat Anyer. Kepalan tangan Anyer menghantam tembok.
Bia yang hendak membuka aksesoris merasa terkejut dengan teriakan Anyer.
"Anyer kamu kenapa di dalam?" Bia menggedor pintu kamar mandi. Wanita itu terlihat khawatir akan terjadi sesuatu terhadap Anyer di dalam.
Tak ada jawaban dari Anyer, Bia pun terus menggedor.
"Kamu kenapa?" tanya Bisa lagi. Tak ada jawaban dari Anyer namun, Bia melihat tangan Anyer mengeluarkan darah segar hingga menetes ke lantai. Bia sangat terkejut.
"Astaga Anyer, ini kenapa?" Bia panik melihat darah yang masih menetes ke lantai.
Entah apa yang terbesit di dalam pikiran Bia, dirinya malah segera mencari kotak p3k yang disimpan di laci mejanya.
"Ini harus segera dibersihkan, kalau tidak akan infeksi." Bia menuntut Anyer untuk duduk di tepi ranjang.
Dengan telaten, Bia memberikan sisa darah yang keluar sebelum membalutnya dengan kain kasa.
Anyer nyengir kala merasakan perih akibat obat yang Bia berikan.
__ADS_1
"Sakit tau," rengeknya
"Tau sakit juga rupanya?" ledak Bia.
Mata Anyer melotot sambil menarik tangannya paksa sebelum Bia menyelesaikannya.
"Eh, tunggu belum siap."
"Tidak perlu! Saya bisa sendiri." ketus Anyer.
"Ngambek? Kayak anak kecil aja. Udah sini!" Bia menarik paksa kembali tangan Anyer. Lelaki itu hanya bisa pasrah dan terdiam.
Dengan penuh kelembutan Bia melilitkan kain kasa. Meski lukanya tidak parah namun jika dibiarkan begitu saja takutnya akan menimbulkan luka.
Dalam diam Anyer mengamati wajah Bia yang hanya berjarak satu jengkal. Meski wajahnya putih halus namun jika dilihat lebih dekat lagi maka mata panda Bia akan terlihat sangat jelas. Selama ini Bia memang pandai untuk menutupi kekurangan dirinya sendiri demi terlihat kuat oleh orang lain.
Selama menikah dengan Bia, belum pernah Anyer memperhatikan dengan jelas guratan kelelahan di wajah Bia.
Ingin rasanya Anyer menyingkirkan rambut Bia yang menutupi sebagian wajahnya yang mengganggu pemandangannya saat ini.
"Nah sudah siap," ujar Bia.
Namun Anyer tidak menyadari. Ia masih terdiam menatap Bia.
"Hei…." Bia menjentikkan jari tepat di depan mata Anyer seketika Anyer pun sadar dari lamunannya.
Tap Like Like Like Like Like Like Like Like Like Like
dan Komen yang banyak. Author kentang ini butuh vitamin. Jan pelit untuk bersedekah ya!
__ADS_1