
"Mas, besok aku ke kampus sama Nasya ya?" Adila merapikan bekas makan malam mereka.
"ngapain sama Nasya kan aku bisa nganterin kamu." Bagas menyeruput kopinya.
"katanya sih biar sekalian gitu mas, biar dia ada temennya juga, terus biar kita bisa banyak ngerumpi sepanjang jalan." Adila nyengir kuda.
"gini nih perempuan kalau ada temennya pasti enggak jauh-jauh dari ngerumpi." ketus bagas.
"jangan gitu dong Mas, nggak semua perempuan suka ngerumpi, biarpun banyak ngobrol mungkin itu obrolan yang bermanfaat, bukan ghibah ghibah." bela adila.
"terus kalau kamu obrolan apa?" tanya bagas dengan nada meledek.
"ya tergantung, kadang obrolan bermanfaat kadang dibumbui ghibah dikit." adila nyengir menampilkan deretan giginya yang putih.
"Tuuuuhhhh kan, gak bisa di biarin ini mah." bagas pergi menuju kamarnya.
"Gimana mas? boleh kan?" adila sedikit berteriak.
"Hmmmmm." bagas hanya mengeluarkan suara itu tanpa menoleh ke arah adila.
"Gini nih kalau punya suami yang lahir di kutub utara." gerutu adila.
*****
Sudah hampir 1 bulan Adila berstatus sebagai seorang istri, tidak ada yang terjadi diantara mereka, semuanya berjalan biasa saja belum ada gelenyar2 aneh yang mereka rasakan.
Adila tetap kuliah seperti biasa, menyiapkan makan dan pakaian untuk bagas, begitupun bagas, memberikan uang bulanan untuk adila, menanyakan apa saja keperluan adila dan lain sebagainya.
"Dil, weekend ini kamu ada acara nggak?" bagas menghampiri adila yang tengah menonton tv.
"Gak ada, kenapa mas?" tanya adila.
"Bisa temenin aku ke suatu acara?" bagas duduk di samping adila.
"Acara apa?" adila bingung, selama menikah bagas tidak pernah mengajaknya ke suatu acara atau suatu pesta.
"Reuni SMA."jawab bagas singkat.
__ADS_1
"Nggak ahhh, nanti aku ketemu barisan mantan mas bagas." jawab adila asal.
"Gak bakalan." bagas mengambil pop corn yang adila pegang.
"Mas ihhhhh." adila merebut bowl yang berisi popcorn dari tangan Bagas.
Saat adila merebut bowl, adila kehilangan keseimbangan, adila hampir terjengkang karna ia menarik bowl dengan kencang sementara bagas tidak memegangnya dengan erat.
Bagas menahan tubuh adila agar tidak terjatuh ke belakang, lebih tepatnya memeluk bukan menahan, wajah mereka sangat dekat, bahkan hidung mancung bagas menyentuh hidung mungil adila.
Waktu seolah berhenti beberapa detik hingga keduanya tersadar, adila bangun kemudian bagas mengambil jarak dari adila.
"Makasih." adila merapikan bajunya yg sedikit tersingkap.
"Sama2." bagas bangun dari duduknya.
"Aku tidur duluan." bagas tersenyum tipis.
Adila pun mengangguk tanpa menoleh ke arah bagas.
***
"Oh iya, aku sudah memesan pakaian untuk kita berdua, nanti siang akan ada orang yang mengantar nya." jawab bagas.
Adila hanya mengangguk saja.
"Kamu gak akan kemana mana kan?" tanya bagas
"Enggak, aku di rumah aja, mau me time." jawab adila.
"Kenapa gak ke salon atau ke spa aja?" tanya bagas.
"Aku bukan tipikal orang yang suka nyalon." aku lebih suka perawatan sendiri di rumah.
Bagas hanya ber Oh ria.
****
__ADS_1
Pakaian mereka berdua sudah datang, Warna ungu pastel, itulah warna yang bagas pilih, karena bagas bilang tema reuni kali ini adalah warna pastel.
Adila mencobanya.
"Ohhh no, ini punggung melambai lambai, aku bisa masuk angin." keluh adila.
"Gak bener nih punya suami milihin baju yang beginian, tangannya sih panjang, bawahnya menyapu lantai, tapi belakangnya bolong." adila mengangkat angkat bajunya.
Sudah pukul 6 sore bagas belum juga pulang, padahal jam 7 ini mereka sudah harus berangkat.
Adila sudah memoles wajah nya, memakai baju yang bagas belikan, meskipun dirasa tidak nyaman, tapi mau protes juga orangnya belum pulang2.
Setengah jam kemudian deru mobil bagas terdengar, bagas masuk kedalam rumah dengan tergesa-gesa.
Bagas mengetuk pintu kamar adila.
"Dil, kamu udah siap?" tanya bagas
Adila membuka pintunya.
dilihatnya wajah bagas yang sangat lelah.
"Aku udah siap mas, mas bagas mandi dulu nanti telat. jawab adila datar.
Sesampainya di tempat acara, bagas menyapa teman2 nya, sementara adila hanya berkenalan dan tersenyum canggung.
"Bagas, lo married gak ngundang2." niko menepuk pundak bagas.
"Sory bro, tamu undangan gue terbatas." jawab bagas.
"Gimana, udah ada tanda2 bakal jadi bapak belum." Steve menaik turunkan alisnya.
"Belum nih, do'ain aja ya bro." bagas tersenyum.
"Berarti harus lebih sering lagi bro, gue dulu juga gitu pas pengen dapet momongan, pagi, siang, sore, malem, kebut terus, dan usaha memang tidak mengkhianati hasil." niko berbicara antusias, Sementara istri niko hanya mencubit lengan suami nya yang tidak bisa menjaga mulutnya.
"Bisa di coba tuh bro." Steve ikut menimpali.
__ADS_1
"Iya nanti gue coba." ucap bagas asal.
Di liriknya adila yang tengah melotot ke arahnya.