Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Hadiah Dari Bia


__ADS_3

"Bi, kamu ngomong apa? Jangan bercanda?" Anyer kaget bukan kepalang. Tidak ada angin tidak ada hujan mendadak Bia ingin bercerai darinya.


"Anyer, aku serius. Untuk apa pernikahan ini dilanjutkan jika tak ada cinta antara kita berdua. Pernikahan ini terjadi karena permintaan papaku. Dan sekarang beliau sudah tidak ada. Jadi kita sudah bebas, bukan begitu."  Sebisa mungkin Bia menahan butiran kristal yang hendak lolos.


Anyer masih tidak menyangka Bia bisa mengatakan hal itu. Memang benar adanya jika pernikahan dengan Bia hanya sebatas untuk orang tua Bia. Dan Anyer saat itu memang tidak mencintai Bia.


"Aku tidak mau!" tolak Anyer.


"Kenapa tidak mau? Bukankah kamu tidak mencintaiku? Lalu untuk apa kamu menahanku dengan sebuah status yang tidak jelas seperti ini?" 


"Bi, tenang. Kamu kenapa sih sebenarnya?" Anyer masih saja merasa ada yang aneh pada tubuh Bia. Apakah Bia telah kesurupan?


"Anyer, kamu tahu mengapa seorang Binca Wijaya tidak pernah memiliki kekasih selama ini? Itu karena tidak mau disakiti dan dikhianati lagi. Mungkin kamu pernah mendengar atau kamu sengaja lupa?"


Sesaat tubuh Anyer mendadak gemetar dan bibirnya kelu saat Bia menekan kata dikhianati. Apakah Bia tahu hubungannya dengan Mala? Tidak, tidak mungkin  Bia tahu.


"Ada yang ingin kamu jelaskan? Kalau tidak aku akan pergi. Oh ya, jika kamu Menganggap seorang Bianca lemah, kamu salah. Karena kamu tidak akan pernah tahu siapa orang hebat dibelakang Bianca selama ini. Satu lagi, mulai hari ini aku akan pulang ke rumahku sendiri." Bia segera berdiri. Ia masih menatap Anyer yang terdiam tanpa perlawanan.


Hembusan nafas kasar Bia sangat terdengar. "Oh ya aku hampir lupa. Aku mempunyai hadiah untukmu sebagai tanda perpisahan kita." Bia segera memberikan sebuah amplop berwarna coklat kepada Anyer kemudian dengan perasaan berat Bia meninggalkan Anyer.


Sepanjang perjalanan Bia masih saja menghapus jejak air matanya. Bohong jika Bia tidak merasa sedih. Siapapun itu pasti tidak akan pernah menginginkan hal seperti ini, termasuk juga Bia.


Padahal Bia sudah berharap jika Anyer akan benar benar memulai dari awal. Mengulang pernikahan pernikahan mereka dengan sebuah ikatan cinta namun, ternyata Anyer malah salah jalan. Apakah ia tidak bisa bersabar sedikit lagi?


Semua sudah terlambat. Tak akan ada lagi yang perlu disesali.


"Nathan."


Tiba tiba saja Bia mengingat Nathan. Lelaki yang selalu menemaninya suka dan duka. Bahkan sudah dianggap seperti saudaranya sendiri.


"Pak, kita langsung ke kantor saja ya!" titah Bia pada sopirnya.


Pak Dadang hanya mengangguk tanda setuju.


Sesampainya di kantor, Bia segera mencari keberatan Nathan yang sempat ia abaikan. Ada setitik rasa penyesalan di relung hati Bia.


"Dilla, dimana Nathan?" tanya Bia pada sang sekretaris saat Bia tak mendapatkan Nathan di ruangannya.


"Pak Nathan ijin keluar Bu."


"Sudah berapa lama?" Bia ingin memastikan.


"Kalau tidak salah, setelah ibu keluar pak Nathan pun juga keluar," jelas Dilla.


Bia mengernyitkan keningnya. Apakah Nathan mengukuti dirinya atau memang ada acara lainnya.


2 jam Bia menunggu akan kedatangan Nathan namun, sepertinya tak ada tanda tanda akan datang. Sudah puluhan kali Bia menelepon Nathan namun, tetap saja tak ada jawaban darinya.


"Kamu kemana sih Nath?" gumam Bia.


"Apa dia marah?"

__ADS_1


Bia masih berpikir dalam angannya. Memikirkan keberadaan Nathan. Belum ada satu hari ia mengabaikan Nathan rasanya sudah gelisah.


Sebenarnya tidak ada niat Bia untuk mengabaikan Nathan namun, Bia benar benar canggung dan grogi saat bertemu dengannya. Ucapan Nathan selalu terbayang di dalam ingatan saat ia melihatnya.


Tak sabar, Bia pun segera menyambar tas miliknya lalu mengemasi barang barangnya. Sebelum pulang, Bia ingin memastikan apakah Nathan sudah berada di ruangannya atau belum.


"Kemana dia?" Bia kecewa saat mendapati ruangan Nathan kosong.


.


.


.


.


Bia yang diantar oleh pak Dadang segera menuju Apartemen Nathan. Tadi sebelum Bia pulang, Dila mengatakan bahwa Nathan meminta izin karena ada kepentingan mendadak. Sebenarnya Bia tidak yakin jika Nathan berada di apartemennya, karena bisa saja Nathan sedang mempunyai pekerjaan lainnya.


"Pak, bapak tunggu disini dulu ya."


Pak Dadang lagi lagi mengangguk. Mana mungkin pak Dadang berani meninggalkan Bia disini. Berani meninggalkan Bosnya berarti sudah siap juga untuk meninggalkan pekerjaan.


Setelah sampai di apartemen Nathan, Bia segera menekan angka angka yang digunakan Nathan untuk mengunci pintunya. Nathan pernah mengatakan jika password pintu apartemen adalah tanggal dan tahun Bia lahir. Alasan Nathan klasik, karena itu adalah apartemen dari jerih payahnya selama bertahun tahun mengabdi pada keluarga Wijaya saat itu.


Bia segera mencari keberadaan Nathan, sekilas Bia melihat sepatu yang sering dipakai oleh Nathan ada di rak sepatu. Itu tandanya Nathan ada di dalam.


"Nath," panggil Bia.


Kini hanya tinggal satu ruangan yang belum Bia telusuri yaitu kamar Nathan.


Dengan perasaan ragu, tangan Bia terulur untuk membuka pintu kamar Nathan.


Dengan jantung berdegup kencang, Bia melihat sosok Nathan tengah berbaring di tempat tidurnya. Bia mengernyitkan alis.


Tumben jam segini tidur.


"Nath," panggil Bia.


Tak ada pergerakan dari Nathan. Selemah itukah Nathan hingga tertidur pulas. Tetapi…  mengapa tidak ganti pakaian..


"Ini orang tidur kayak kebo." Bia berusaha melepas kaos kaki yang masih terpasang. Saat tangan Bia menyentuh kulit Nathan, mata Bia terbelalak. 


"Nathan." 


.


.


.


.

__ADS_1


.


Sementara itu tangan Anyer berusaha untuk membuka amplop pemberian dari Bia. Sungguh ia sangat penasaran apa isinya.


Dengan sangat pelan, Anyer membuka amplop.


"Astaga." Nathan sangat terkejut. Hampir saja ia mencampakan kejutan dari Bia.


Darimana Bia mendapatkan semua ini? Apakah Bia memasang mata matanya untuk dirinya. Mengapa Bia bisa mendapatkan foto dirinya dengan Mela, bahkan sewaktu keluar masuk apartemen Mela. 


Apakah pelakunya adalah Mela?


"****** sialan," umpat Anyer.


Anyer mengepalkan tangannya. Pantas saja Bia terlihat aneh ternyata masalahnya ada disini.


Anyer menjambak rambutnya frustasi.


Ia segera meninggalkan cafe. Beberapa kali ia memukul stir mobilnya.


"Arrggghhh…."


Tak menghiraukan lagi mobil yang ia salib, saat ini pikiranku sangat kacau.


.


.


.


Di tempat lain dengan telaten Bia sedang mengompres Nathan. Ya, saat Bia hendak melepaskan kaos kaki Nathan tadi, Bia sangat terkejut saat menyentuh kulit Nathan yang sangat panas. Ia pun seger menempelkan telapak tangannya di kening Nathan. Ternyata benar, Nathan sedang demam.


"Pak, bapak pulang saja ke rumah utama jangan pulang ke rumah baru. Dan satu lagi jika Anyer mencari saya, katakan bapak tidak tahu saya berada dimana."


Setelah mendapat jawaban iya dari pak Dadang, Bia segera mematikan ponselnya.


Ada rasa sesak di dada Bia melihat Nathan belum juga bangun. Dokter pribadi keluarga Bia pun sudah dipanggil, mungkin sebentar lagi juga sampai.


"Nath, jangan sakit dong! Aku jadi merasa bersalah lho." Bia bergumam sambil mengganti kain kompres.


Hanya demam biasa. Sebenarnya Nathan hanya perlu istirahat saja. Bukan tidak mendengar panggilan Bia tetapi Nathan rasanya tidak sanggup untuk menjawab karena seluruh badannya terasa lemas. Bahkan untuk membuka mata saja Nathan tidak bisa.


Melihat Bia memasuki kamar, jantung Nathan semakin berdebar debar.  "Ya ampun Bu dir, kenapa kamu harus masuk kesini? Pura pura tidur saja lah." 


🍃🍃 Bersambung 🍃🍃


Haii haii Author tak pernah lelah untuk selalu menyapa kalian semoga kalian selalu sehat dalam lindungan-Nya.


Terimakasih sudah selalu mendukung Author amatir ini 🤧🤧


Oh ya, Aku bawa satu rekomend Novel yang keren, kalian harus mampir ya.

__ADS_1



__ADS_2