
Hingga sampai malam pikiran Bia masih tidak tenang memikirkan Nathan yang belum juga pulang meskipun Nathan baru saja siap melakukan video call kepadanya.
Aura yang sudah tidur membuat Bia semakin tidak bersemangat. Berulang kali mbak Lia membujuk Bia untuk makan malam namun, Bia masih malas untuk beranjak.
Sementara itu Nathan yang sedang melakukan dinner bersama salah satu klein terpenting juga tidak merasa tenang karena berulang kali Bia mengirim pesan meminta pesanan yang ia pesan tadi pagi.
Dila yang sengaja mendampingi Nathan menyadari ketidak tenanganya atasannya yang merasa gelisah.
"Pak, Bu dir bisa manja juga ya? Saya pikir Bu dir itu orangnya kaku. Eh… Gak taunya bucin juga ya," bisik Dila yang duduk di samping Nathan.
Nathan menyenggol lengan Dila, "Jaga ucapan mu!"
Dila terkekeh pelan sambil menikmati sajian yang telah terhidang. Sementara itu Nathan telah berbincang membahas proyek yang berada di Bali yang terancam akan pindah tangan karena pengalihan saham.
Waktu berjalan begitu lambat membuat Nathan harus menahan kekacauan hatinya yang terus bergemuruh memikirkan Bia.
Setelah acara selesai Nathan baru bisa menghela nafas leganya namun, ia harus bekerja kerasa lagi untuk mendapatkan pesanan Bia. Sejak kapan Bia menyukai martabak manis? Setahu Nathan, Bia tidak menyukai makanan yang terlalu manis.
Jangan bilang Bia hanya sedang mengerjai Nathan saja.
Waktu sudah menunjukan pukul 10 malam. Sebagian pedagang kaki lima sudah mengemas dagangan mereka. Sedari tadi Nathan memutar mutar mencari penjual martabak, namun belum juga Nathan dapatkan.
"Dil, carikan martabak manis sekarang juga!"
Satu satunya jalan adalah menghubungi Dila.
Sementara Dila yang baru saja hendak masuk ke rumah mengernyitkan dahinya saat membaca pesan dari Nathan.
Langkah Dila terhenti membuat suami Dila menoleh ke belakang. "Ada apa?" tanya Suami Dila.
Dila membuang nafas kasarnya saat menunjukkan pesan dari Nathan.
"Aneh aneh nih orang! Gak tahu apa ini udah malam," gerutu suami Dila.
"Entahlah, Mas. Makin hari pasangan ini makin aneh," kesal Dila.
"Iya. Sudah seperti orang ngidam aja, tengah malam minta aneh aneh," celutak suami Dila.
Seketika mata Dila terbelalak seakan baru menyadari sesuatu yang mungkin ada benarnya. Bisa saja saat ini Bia tengah hamil muda seperti dirinya waktu itu?"
"Jangan jangan emang bener Mas kalau Bu Bianca sedang hamil muda. Kalau begitu ayo kita cari, Mas." Dila terlihat begitu heboh sambil menarik lengan suaminya membuat suami Dila menggeleng tak mengerti.
Sepanjang jalan, mata Dila mengembara mencari sosok yang menjual martabak pesankan Nathan.
"Kamu aneh, orang yang ngidam kamu yang heboh. Orang yang bikin kita yang kena getahnya," gerutu suami Dila.
__ADS_1
"Hus… jangan begitu, Mas. Aku ikhlas kok," seru Dila.
Perdebatan kecil mengiringi perjalan mereka. Sepanjang jalan yang biasanya menjajakan martabak tak satupun menampakkan jualannya.
Suami Dila putus asa untuk mencarikan pesanan Nathan.
"Putar balik, Mas! Kita ke alun alun kota!" perintah Dila. Dila yakin di sana pasti ada, mengingat alun alun selalu ramai hingga dini hari. Dengan patuh, suami Dila menuruti ucapan Dila. Siapa yang ngidam siapa yang repot. Itu adalah mantra yang sejak tadi terucap dari mulut suami Dila.
Benar saja, suasana alun alun masih terlihat ramai meski hari telah hampir larut. Para pedagang kaki lima pun masih banyak yang membuka tendanya.
"Ayo turun!" titah Dila.
Suami Dila yang belum Author beri nama pun segera turun dari mobil lalu mengikuti langkah Dila menyusuri pinggiran jalan demi menemukan martabak manis.
Langka Dila terhenti saat melihat apa yang mereka cari ada di hadapan mata. Namun bukan dengan judul yang Martabak Manis.
Martabak Bangka, itulah tulisan pada gerobaknya. Dila kemudian mengirim pesan kepada Nathan bahwa yang mereka temukan bukan Martabak Manis namun Martabak Bangka.
Nathan memeluk jidatnya saat membaca pesan Dila. Apa bedanya antara Martabak Manis dengan Martabak Bangka? Toh keduanya sama sama Martabak.
Tepat pukul 11 malam Nathan baru menepikan mobilnya di garasi. Rumah besar telah terasa sunyi. Nathan yakin bahwa Bia sudah tertidur pulas mengingat sudah larut malam.
Pintu kamar di buka, mata Nathan terbelalak saat melihat Bia tengah menangis sambil menciumi baju Nathan di atas tempat tidur.
Bia segera menoleh, matanya berbinar saat melihat Nathan diambang pintu.
"Kamu lama amat sih, Nath?" Bia segera turun dari tempat tidur untuk menghampiri Nathan.
Nathan mengecup kepala Bia. "Kan aku udah bilang tadi ada dinner. Terus nih, nyari pesanan kamu muter-muter sampai alun alun." Biar saja Nathan berbohong jika dirinya pergi ke alun alun kota. Toh sama aja sekarang udah dapat martabaknya.
"What? Kamu sampai alun alun kota? Padahal Kang martabak ada yang mangkal di depan kantor lho," ujar Bia.
Nathan menelan saliva, jadi sebenarnya Bia tahu jika di depan kantornya ada kang Martabak yang mangkal di sana? Lalu mengapa Bia tidak mengatakan sedari awal. Nathan menepuk jidat.
_____
Jika biasanya Nathan bangun terlebih dahulu, maka pagi ini Bai lah yang bangun lebih awal. Pagi ini rasanya Bia lebih bersemangat. Martabak yang Nathan bawa pun telah disikat habis oleh Bia.
"Pagi mbak Lia," sapa Bia dengan berbinar.
"Pagi juga Nyonya. Tumben berseri?"
Bia pun juga tidak tahu mengapa suasana hatinya berbunga seperti saat ini. Rasa mual pagi ini pun juga ada.
Bia membantu mbak Lia menata sarapan di atas meja. Sedangkan Aura baru saja keluar dari kamarnya. Kamar Aura sekarang berada di bawah bersama Suster Linda.
__ADS_1
"Mama." Dengan jelas Aura sudah bisa memang Bia dengan sebutan Mama membuat hati Bia terenyuh.
"Sini sayang."
Bak seperti anak yang sudah mengerti, Aura tertatih melangkah membuat suster Linda bersiap siaga untuk menangkap jika terjatuh.
Aura sudah berada dalam gendongan Bia. Wangi bedak serta minyak wangi yang khas membuat Bia ingin terus mencium Aura.
"Mbak aku tinggal ke atas dulu ya."
Tanpa menunggu jawaban dari Suster Linda maupun Mbak Lia, Bia segera membawa Aura menuju kamarnya.
Di sana Nathan masih menggulung tubuhnya dengan selimut tebal. Bia membiarkan Aura merangkak untuk membangunkan Nathan.
Meskipun Nathan masih mengantuk ia tak bisa marah jika Aura yang mengganggu tidurnya.
Aura telah berhasil membangunkan Nathan. Gadis kecil itu pun mendapatkan kecupan berulang kali dari Nathan.
"Kenapa udah bangunin Papa sih?" gerutu Nathan. "Kan Papa Nathan masih ingin bobok," lanjut Nathan.
"Udah siang masih aja molor. Gak ke kantor?" Bia menjatuhkan tubuhnya dalam pelukan Nathan bak tak ingin kalah dari Aura.
"Hari ini mau izin masuk siang
Bolehkan Bu dir?" goda Nathan.
"Beri aku alasan yang tepat agar aku bisa memberimu izin."
"Aku ingin menghabiskan waktu sebentar dengan anak dan istriku yang semakin hari semakin manja." Nathan melirik ke arah Bia membuat Bia semakin memeluk tubuh Nathan. "Baiklah jika untuk istrimu aku akan beri izin. Asalkan istrimu bahagia." gelak tawa Bia terdengar keras.
Sesuai ucapan Nathan, kini Bia dan Aura tengah berada di taman belakang. Tak luput juga Suster Linda yang juga bermain dengan Aura.
Bia dan Nathan duduk di sebuah ayunan. Bia memeluk erat lengan Nathan dan menyandarkan pada dada Nathan. Sekali kali Nathan membelai rambut Bia dan mengecupnya.
"Nath, kamu sebenarnya tulus cinta gak sih sama aku? Atau hanya merasa iba terhadap nasib pernikahanku yang gagal?" Tak ada angin, tak ada hujan mendadak Bia mempertanyakan ketulusan Nathan.
Sebenarnya tak ada yang perlu diragukan dengan ketulusan Nathan saat ini yang mampu menerima Bia dan Aura tanpa pernah mempermasalahkan status mereka. Karena bagi Nathan saat ini adalah kebahagiaan Bia.
Nathan akan melakukan apa saja asalkan Bia merasa bahagia namun jangan menyuruh Nathan untuk pergi menjauh, karena itu tidak akan pernah Nathan lakukan seumur hidupnya.
.
.
Mon maap baru bisa Up. Baru sempat buka Hp 😊
__ADS_1