Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
BaB 24


__ADS_3

Bia duduk di sofa. Tangannya mengepal menatap Anyer yang sudah mulai terlelap.


Lelaki macam apa yang ia nikahi.


"Dasar!!" umpatanya kesal.


Ini adalah pertama kalinya untuk seorang Bianca Wijaya tidur di sebuah sofa. Selama ini Bia yang telah bergelimangan harta selalu disuguhkan segala kemewahan tak akan pernah terbayangkan baginya untuk tidur di sofa.


🌺     🌺     🌺


Bia mengerjap, merasakan tengkuknya pegal. Ia mendudukan tubuhny dan kiini semua tubuhnya juga terasa sakit.


Jika biasanya Bia akan bangun terlambat, kini tanpa sebuah alarm dirinya sudah bangun.


Melihat ke tempat tidur, dengan nyaman sosok Anyer masih terlelap di balik selimut.


Bia mendengus kesal. Ini tidak bisa dibiarkan! Siapapun tidak ada yang boleh menindas dirinya, termasuk Anyer.


Setelah mandi Bia menatap miris sebuah koper miliknya. Ingin berteriak sekuat tenaga, melemparkan koper ke depan wajah Anyer. 


Ponsel Anyer berdering membuat sang pemiliknya terbangun. Anyer mengernyit menatap ponselnya. Sebuah panggilan dari Lisa. 


Sekilas menatap Bia yang terduduk kesal di sebuah sofa.


"Iya." Anyer mengangkat ponselnya.


"Iya, nanti aku kesana." Sambungannya lagi.


Anyer meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas.


"Sudah bangun? Syukurlah tahu diri!" ketus Anyer.


Anyer segera beranjak ke kamar mandi. Sementara Bia ingin sekali keluar dari kamar Anyer namun, ia merasa canggung jika bertemu dengan keluarga Anyer.


Meski statusnya adalah istri Anyer, Bia sama sekali tidak mengenali anggota keluarga suaminya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian Anyer keluar dari kamar mandi. Kini ia telah berpakaian rapi. 


"Ada yang ingin saya sampaikan kepadamu. Pertama, pernikahan ini bukan atas  keinginan saya. Jadi… Jangan harap saya akan memperlakukanmu selayaknya istri saya. Asal kamu tahu, saya sudah mempunyai kekasih." Menarik nafas, Anyer menjeda.


"Kedua, saya harap kamu bisa menjaga sikap di hadapan keluarga saya. Saya ingin keluarga saya tahu bahwa hubungan kita baik baik saja! Dan… Satu lagi, jangan jatuh cinta kepada saya karena itu percuma! Saya tidak akan pernah membalas cinta kamu!" Anyer tersenyum sinis.


Begitu juga dengan Bia. "Narsis sekali dia! Siapa juga yang akan jatuh cinta kepada orang seperti dia!" umpat Bia dalam hati.


"Saya tidak peduli! Dan saya tidak akan pernah jatuh cinta kepada anda! Mimpi!!" ketus Bia.


"Baguslah!" Anyer mengangguk. "Mari keluar! Ingat, kita harus bisa berpura-pura menjadi suami istri yang baik baik saja!" Anyer keluar kamar lebih dulu.


Bia terdiam kesal seraya mengikuti langkah Anyer menuju meja makan.


Disana sudah ada anggota keluarga Anyer yang terdiri dari Oma Risa, Siska dan juga Aryo. Mereka sudah tampak siap untuk sarapan.


Semua menatap kedatangan Nathan dan Bia. Bia sendiri merasa risih dengan tatapan mereka.


"Oma tahu kamu pasti lelah. Tidak usah sungkan! Mari sini!" Oma Risa buka suara.


Bia mengangguk sungkan lalu duduk.


"Benar kata Papa. Kamu jangan sungkan!" Sambung Anyer.


Bia tersenyum sinis melirik Anyer.


"Oh iya, bagaimana dengan Wijaya? Sudah ada perubahan? Kamu jangan terlalu khawatir, kami akan ada untuk kamu!" Saran Oma.


"Belum ada perubahan, Oma," ucap Bia.


Disela sela sarapan, Bia hanya mengamati seluruh anggota keluarga barunya. Satu yang menjadi pertanyaan, mulai dari pertama kali pertemuan belum ada Siska menyapa dirinya. Bukan ingin di sanjung, tetapi sikap Siska seolah menunjukkan ketidak sukaan terhadap dirinya.


"Ya sudah kami berangkat dulu." Setelah menyiapkan sarapan Anyer segera berdiri meski Bia belum siap.


Bia pun mendongak, menelan saliva menatap Anyer.

__ADS_1


Tersenyum tipis Bia mengikuti lagi langkah Anyer. Sesampainya di dekat mobil, Anyer menghentikan langkahnya.


"Kamu berangkat dulu! Saya ada urusan. Pak Asep antar istri saya ke kantor! Titahnya pada Pak Asep


Sang supir hanya mengangguk seraya membukakan pintu untuk Bia. Tak ingin menolak, Bia pun masuk ke dalam mobil. Sementara iti Anyer menggunakan mobil lainnya untuk berangkat.


Saat ini bukan kantor tujuan Anyer, melainkan ke apartemen Lisa. Sesuai permintaan Lisa, Anyer menjemputnya.


"Sayang… Lama sekali," gerutu Lisa saat Anyer baru saja membuka pintu apartemen.


"Biasa, macet." kilah Anyer.


Lisa tersenyum puas saat pujaan hatinya telah hadir di depan mata.


"Udah siap?" tanya Anyer


Lisa mengangguk. "Udah. Ayo!" 


Anyer menggandeng tangan lembut milik Lisa menuju ke lobby. Andaikan saja tak terhalang restu, Lisa lah satu satunya wanita yang akan menyandang status sebagai istrinya.


"Sayang, kamu kenapa? Sakit?" Lisa merasa heran karena sejak tadi Anyer hanya diam.


Menggeleng pelan sambil menatap Lisa. "Aku tidak apa apa. Kamu tidak usah khawatir," 


"Sayang, aku mau bilang sama kamu kalo aku ada kerjaan keluar kota. Dan aku belum bisa pastikan kapan pulangnya." 


Anyer mendadak mengerem mobilnya. "Lho, kok gitu?"


"Iya… Soalnya aku kan juga belum tahu akan kelar berapa hari," jelas Lisa.


"Kamu tenang aja, aku perginya gak berdua sama bos aku. Ada Mery sama Darma yang ikut," lanjut Lisa kembali.


"Awas kalo mereka macam macam." Posesif Anyer.


Lisa hanya mampu menahan tawanya melihat wajah kesal Anyer. Ya, lelaki itu sangat sensitif dan posesif. Ia sangat mencintai Lisa hingga tak akan membiarkan siapa pun menyakitinya.

__ADS_1


__ADS_2