
Benar saja yang dibayangkan Bia. Saat baru saja membuka pintu exit hotel, keduanya diserbu oleh beberapa wartawan yang memang sudah menunggu Anyer. Kilatan kamera terus menjepret keduanya hingga Bia sangat merasa gugup. Namun tidak dengan Anyer, lelaki itu tetap santai menanggapi berbagai pertanyaan wartawan. Hingga pada saatnya mereka mempertanyakan siapa sosok misterius yang terlihat intim dengannya.
"Coba bisa jelaskan siapa wanita ini? Apa dia kekasih anda?"
Begitulah desakan dari para wartawan.
"Tuan Anyer, anda datang ditemani seorang kekasih. Sungguh sangat romantis."
Saat menyangkut pernyataan tersebut Anyer memilih berlalu, enggan untuk menjawabnya. Toh itu tidak penting!
"Any, gimana ini kalau mereka mengenali saya. Bisa habis reputasi kalau seperti ini. Saya tidak mau memiliki skandal dengan kamu," lirih Bia.
"Kepedean banget sih. Sudah tenang aja mereka tidak akan mengetahui kamu, asal kamu diam."
Anyer dan Bia langsung berjalan menuju mobil. Naasnya disana juga ada satu orang wartawan yang juga sedang menunggu Anyer. Lelaki itu sangat penasaran sejak tadi pagi, hingga akhirnya ia memilih menunggu Anyer di tempat tadi pagi.
Saat melihat Anyer dan Bia sudah mendekat, diam diam dari belakang wartawan itu melepas paksa jaz yang membungkus identitas Bia.
Dengan sekejap jas itu menyingkap. Bia segera menjerit karena syok. Disaat itu juga wartawan bisa menjepret siapa wanita misterius yang sedang digandeng Anyer dalam pertemuan bisnis penting ini.
"Anda jangan kurang ajar! Saya bisa tuntut anda!" Bentak Anyer marah saat wartawan sudah berhasil mengambil foto Bia.
Wartawan itu tidak menggubris. Setelah mendapatkan foto Bia dirinya hendak kabur.
"Kami masuk duluan," titah Anyer pada Bia.
Dengan segera Bia berlari ke dalam mobil Anyer dan saat itu juga tangan Anyer dengan cepat menahan langkah pemuda tersebut.
"Mau kemana? Urusan kita belum selesai. Saya tahu kamu wartawan yang telah dibayar seseorang untuk mengikuti saya, iya kan?" tekan Anyer.
Pemuda itu diam tak berkutik. Mamang jika bukan karena cuan, pemuda itu enggan menanggung resiko berat dengan mengusik sosok Anyer.
"Maaf Tuan…. Saya…"
Anyer segera mengeluarkan sebuah cek lalu menandatanganinya.
"Ambilah ini dan pergilah jauh jangn pernah muncul dihadapan saya lagi jika kamu masih ingin hidup." tegas Anyer.
Dengan penuh rasa ketakutan pemuda itu mengambil cek yang diberikan Anyer. Mungkin ini cara terbaik agar dirinya bebas dari tuntutan seseorang. Menghilang memang pilihan tepat dari pada ia harus mati di tangan Anyer.
"Te….terama kasih Tuan." Setelah memberikan hormatnya pada Anyer, pemuda itu kemudian pergi dengan langkah cepat.
Saat Anyer memasuki mobil, Bia telah menatapnya tajam.
"Bagaimana?" tanya Bia segera.
__ADS_1
"Kamu tidak perlu khawatir, saya sudah membereskan masalah."
……
Kali ini mobil telah berhenti di depan sebuah perusahaan besar. Selama menjabat sebagai Direktur perusahaan, Bia sama sekali belum pernah menginjakkan kakinya di gedung tinggi yang ada di depannya saat ini.
Ya, Anyer membawa Bia ke perusahaan. Setelah kejadian tadi, Anyer mengurungkan niatnya meeting bersama Bia di luar. Sebab, pasti diluaran sana akan ada yang mengikuti gerak geriknya.
Dan kantor adalah tempat yang aman baginya dan Bia saat ini.
"Kenapa? Takjub dengan bangunan perusahaan saya?" sindir Anyer.
Cih, siapa juga yang takjub, aku hanya kagum saja. Ahh… Apa bedanya takjub dengan kagum? Bia menggelengkan kepala.
"Maaf, untuk apa saya takjub jika saya juga mempunyai perusahaan sendiri ya, meskipun tidak sebesar ini." Diakhir kalimat Bia memelankan suaranya.
"Ah, sudahlah. Niat saya setuju datang ketempat ini karena hanya meeting saja. Jika tidak, saya pun tak sudi menginjakkan kaki ketempat ini," ketus Bia.
Tak ingin terlalu lama berdebat, Anyer segera membawa Bia memasuki perusahaan. Saat baru saja masuk, banyak pasang mata yang takjub dengan kedatangan Bia bersama Anyer. Mereka sudah terlihat sangat cocok.
Semua karyawan menunduk saat berpapasan dengan keduanya. Hingga saatnya mereka hendak menaiki lift untuk menuju ruang kerja Anyer.
"Lewat sini!" Tanpa sadar Anyer menarik tangan Bia yang hendak masuk kedalam list khusus karyawan.
Namun, saat menyadari tangannya tengah di pegang oleh Anyer, Bia segera menghempaskan.
"Curi curi kesempatan," umpatnya.
Anyer terkekeh melihat wajah Bia yang terlihat malah semakin imut jika sedang manyun. Memang jika dibandingkan dengan wanita lain, Bia adalah wanita yang berbeda. Jarang terdengar gosip skandal ataupun gosip diam menjalin hubungan dengan seorang pria. Pantas saja nama Bia dikenal sebagai wanita karir yang tangguh.
Selam berada di dalam lift entah mengapa degup jantung Bia begiti sangat keras. Hingga seakan Anyer bisa mendengarnya.
Anyer menatap Bia tajam, begitu juga dengan Bia. Lama mereka saling menatap hingga akhirnya Anyer melempar pertanyaan kepada Bia.
"Apa selama ini kamu tidak pernah dekat dengan laki laki lain selain Nathan?"
Deg, Bia menggigit bibir bawahnya. Ia tidak tahu apa yang akan Anyer lakukan setelah memberikan pertanyaan konyol seperti itu pada dirinya. Sungguh Bia tidak bisa menjawab pertanyaan konyol itu.
"Hei…. Tidak usah gugup seperti itu. Saya jadi yakin bahwa kamu tidak pernah jalan berdua dengan laki laki lain selain Nathan." lanjut Anyer.
"Sok tahu!" sanggah Bia dengan ketus.
"Kamu tidak pandai berbohong Bianca! Detak jantung kamu itu sangat jelas terdengar," kekeh Bia.
Dengan cepat Bia menutup dadanya agar detak jantungnya tak terdengar oleh Anyer.
__ADS_1
Anyer malah tertawa keras. "Bianca, Bianca. Kamu ini polos banget sih?" ledek Anyer.
"Saya hanya bercanda." lanjut Anyer.
Mendengar ucapan terakhirnya Bia segera menginjak kaki Anyer dengan kesal.
"Rasain," umpt Bia.
Anyer meringis menahan rasa sakitnya.
Namun, tak sampai di situ Bia terus menghujami Anyer dengan pukulan kecil di lengannya sambil terus mengumpat.
Anyer memohon ampun, tapi sayangnya Bia tak menghiraukan. Hingga pintu lift terbuka.
Di luar lift sudah ada Aryo, sang ayah yang telah menonton kedua orang didalam lift seperti anak kecil sedang berantam. Hingga Aryo berdeham.
Saat itu juga Bia menghentikan aksinya. Begitu juga dengan Anyer yang dengan seketika menetralkan kondisinya.
"Kalian ini apa tidak puas bermain dirumah? Lain kali tidak usah masuk kantor jika belum puas bermain di rumah," ujar Aryo.
Anyer dan Bia hanya menunduk sambil berjalan keluar lift. Keduanya sangat meras malu. Ulah kekonyolan ini bisa menjatuhkan reputasi seorang Bianca.
"Pak Ardi, mari!" Aryo mempersilakan soaok yang dipanggil pak Ardi untuk masuk ke dalam lift.
Setelah kepergian Aryo Bia terus menyalahkan Anyer.
"Semua ini karena kamu!"
"Lho, kenapa saya? Harusnya saya yang bilang seperti itu kepada kamu. Semua ini salah kamu." ketus Anyer.
"Kamu lah. Kenapa sih laki laki seperti kamu tidak mau mengakui kesalahan?" rajuk Bia.
Sepanjang perjalanan menuju ruanga Anyer, keduanya tetap saling menyalahkan. Saat hendak masuk ke ke ruangan Anyer seorang sekertaris menahan tawanya kala sang atasan beradu mulut dengan wanita yang belum pernah ia lihat sebelumnya.
"Apa lihat lihat," sentak Bia kepada sekertaris Anyer. Seketika wanita cantik yang ber tag name Sinta itu terdiam lalu menunduk.
Baru kali ini ada yang berani beradu mulut dengan Tun Anyer, saya yakin wanita itu bukan wanita biasa. Dan baru kali ini juga beliau membawa masuk seorang wanita. Bisa di pastikan wanita itu sangat istimewa.
..........................
Haii haii terima kasih untuk kalian yang sudah membaca pembaca setia BUKAN PERNIKAHAN IMPIAN.
Terus dukung othor ya, biar othor selalu semangat untuk mengetik. Jangan lupa LIKE dan KOMEN.
Taburan bunga juga othor tunggu 🌹🌹 wkwkwkwk
__ADS_1