
Halo Halo... Bagaimana kabar kalian?
Terimakasih sudah mengikuti kisah yang muter muter ini. Disini, kisah Bia dan Anyer sudah berlalu tinggal kisah Bia dan Nathan.
Dalam cerita selanjutnya hanya akan ada cerita rumah tangga Bia dengan Nathan namun karena othor merasa kasihan dengan Anyer, maka dia akan tetap hadir dalam kehidupan Bia dan Nathan.
Tetap ikuti terus ceria ini ya ❤
Selamat Membaca.
"Kenapa?" Nathan mengernyitkan dahinya melihat Bia tak berkedip saat melihatnya sejak keluar dari kamar mandi.
"Tidak ada, hanya kurang nyaman saja menggunakan kimono ini," elak Bia.
"Oh… Aku telepon mbak Lia dulu agar menyiapkan baju ganti," ujar Nathan.
Namun dengan cepat Bia mencegah. "Jangan. Kasian mbak Lia pasti kelelahan menguru Aura dari tadi pagi. Besok pagi aja biar pak Dadang yang mengantar."
Nathan menyetujui ucapan Bia. Memang kasian juga Lia jika harus mengantar baju ganti Bia, apalagi hari sudah hampir larut malam.
Bia masih menyandarkan tubuhnya di dinding tempat tidur. Jantungnya terasa berbebar saat Nathan juga mulai merebahkan tubuhnya diatas kasur.
Mungkin Bia pernah tidur satu ranjang dengan Nathan namun tanpa perasaan apapun namun, kali ini rasanya berbeda.
"Kamu kenapa? Ada sesuatu yang mengganjal pikiran?" Nathan mendongak, menatap Bia yang hanya memainkan jari jarinya.
"Tidak ada. Aku hanya belum mengantuk saja," elak Bia lagi. Bohong jika Bia tidak merasa ngantuk. Tetapi ia gugup ingin menjawab apa.
"Sudah tidurlah, aku tahu kamu sudah lelah dan mengantuk. Sini!" Nathan menepuk bant yang berada di sampingnya. Memberi isyarat kepada Bia untuk mendekat.
Dengan gerakan pelan Bia mulai patuh ucapan Nathan. Ia meletakkan kepalanya di bantal dekat kepala Nathan.
"Bi, katakan dengan jujur. Apakah kamu mamang mencintaiku atau hanya merasa kasihan terhadapku saja." Tiba tiba Nathan menanyakan hal tak pernah Bia pikirkan. Bahkan Bia sendiri tidak tahu untuk mengartikan perasaannya kepada Nathan. Hanya saja ia ingin selalu bersama dan di dekat Nathan.
"Jujur Nath, aku tidak tahu apakah rasa ini rasa cinta atau rasa iba saja. Tapi… Setiap kali kaku berada di dekatmu, aku merasa sangat nyaman dan ingin selalu bersama denganmu."
Nathan memiringkan wajahnya. Kini wajah kedua saling menatap dalam kedekatan.
Nathan mulai menggerakkan wajahnya untuk maju. Sekali kecup Bia hanya tertegun sambil menahan nafasnya
Awalnya hanya kecupan bisa lama lama menjadi kecupan panas hingga tanpa sadar tangan Nathan sudah meraba aset dada milik Bia. ******* pelan mampu membuat Nathan terangsang hingga pucuk ubun ubun.
"Bi," Nathan menyelipkan anak rambut Bia sambil menatapnya dalam. Dadanya masih naik turun menyapu sisa ciuam panas mereka.
"Boleh," tanya Nathan.
__ADS_1
Bia memggigit bibir bawahnya. Jika ditanya saat ini maka jawabab Bia adalah iya. Bohong kalau ia tidak terangsang atas sentuhan lembut dari Nathan.
Bia mengangguk pelan sebagai tanda persetujuan darinya.
Nathan tersenyum saat Bia tak menolak sesuatu yang sudah ia tahan selama ini. Bohong jika Nathan tidak merasakan sesuatu saat mereka sedang saling bertukar saliva.
Satu kecupan mendarat di kening Bia lalu sebuah doa Nathan hembuskan di ubun ubun Bia.
Bismillah, Allahumma jannib naassyyaithaana wa jannibi syaithoona maarazaqtanaa.
Artinya: "Dengan menyebut nama Allah, ya Allah jauhkanlah kami dari (gangguan) setan dan jauhkanlah setan supaya tidak mengganggu apa (anak) yang akan engkau rezekikan kepada kami."
Setelah selesai mengucap doa tersebut Nathan mengecup kembali kening Bia.
"Jangan lupa baca Bismillah," bisik Nathan sambil menggigit pelan daun telinga Bia.
Bia semakin tersipu malu. Saat ini dirinya bersyukur memiliki suami seperti Nathan yang tidak lupa akan Tuhan nya.
Sebelum melakukan pembobolan, Nathan sengaja meninggalkan jejak kepemilikannya di leher Bia.
Hanya sekali tarik, tali kimono sudah terlepas. Nathan menelan saliva saat melihat apa yang berada di balik kimono Bia.
Dengan pelan Nathan menuntun miliknya untuk menyentuh milik Bia. Bia hanya menggigit bibirnya saat merasakan sesuatu menusuk miliknya. Meski itu pelan, namun terasa sakit.
"Nath, pelan," lirih Bia.
"Awuu," ringis Bia.
Natah menghentikan gerakannya. Ia menatap Bia yang seolah sedang menahan rasa sakit.
"Sakit banget ya?" tanya Nathan.
"Emang sih, masih sempit," lanjut Nathan lagi.
Bia tidak bisa menjelaskan dengan kata kata bahwa dirinya memang masih tersegel meskipun sudah menikah. Apakah Nathan tidak mengingat ucapan Bia saat itu?
"Kalau kamu belum siap, ya sudah kita tunda saja." Nathan tidak tega saat melihat wajah Bia.
Bia segera menggeleng. "Tidak Nath. Aku udah siap kok."
Jika Bia sudah mengatakan hal seperti itu maka Nathan akan dengan senang hati untuk melanjutkan belah duren malam ini.
Dengan pacuan pelan, Nathan berusaha menerobos pintu gerbang yang masih tersegel rapat. Tak hentinya Bia mencengkram punggung Nathan menahan rasa sakitnya.
"Nath, sakit," rengek Bia seakan menangis saat Nathan berusaha membobol keperawatannya
__ADS_1
Nathan terbelalak saat merasakan sesuatu di dalam sana.
"Kamu masih tersegel, Bi." Nathan benar benar sangat terkejut. Bagaimana bisa seorang wanita yang sudah menikah masih dalam keadaan tersegel seperti ini?
Nathan tidak membuang waktunya lagi. Ia pun mengecup kening Bia. Haruskah Nathan merasa bersyukur? Ya seharusnya seperti itu sebab Nathan lah orang pertama yang membobol segel tersebut.
"Aku lanjutin ya. Abis ini pasti enak kok. Itu kata pak Dadang," bisik Nathan.
Bia segera melayangkan pukulan kecil. Bisa bisanya saat seperti ini malah ngomongin pak Dadang.
Natah kembali memacu gerakannya pelan. Hal yang belum pernah ia rasakan selama ini. Milik Bia yang masih sempit menjepit miliknya di dalam sana menaburkan getaran dalam setiap saraf sarafnya.
Bia berusaha menahan desahannya. Ia menggigit bibir bawahnya. Rasanya yang tidak bisa diartikan dengan sebuah kata kata lagi. Begitu juga tangan Nathan yang meremas aset depan dada Bia membuat Bia semakin melayang saat ini.
Nathan semakin mempercepat gerakannya membuat Bia tidak bisa menahan desahannya lagi. Tanpa rasa malu Bia mendesah kuat membuat Natha ln semakin kuat dalam memacu gerakannya.
Tubuh keduanya sama sama bergetar hebat saat milik Bia semakin menjepit dan milik Nathan mengembang.
"Nath… " Tangan Bia dengan kuat mencakar punggung Nathan.
Nathan tak menghiraukan, saat ini ia hanya fokus pada satu titik dimana ia harus segera sampai puncak kenikmatan dunia.
******* panjang keluar dari mulut Nathan tak lepas dari itu tangan Bia semakin kuat untuk mencengkeram bahu Nathan.
Bahkan Bia juga tidak menghiraukan jika bahu Nathan tengah terluka.
Nafas keduanya masih naik turun menikmati sisa kenikmatan yang baru saja mereka rasakan.
Nathan segera mengecup kening Bia sebelum mencabut miliknya kedalam milik Bia.
"Aku gak pernah nyangka kalau ternyata kamu janda tapi masih perawan lho, Bi."
Nathan merasa kagum kepada Bia yang masih dalam tindihannya.
Bia segera mendorong tubuh Nathan lalu menarik selimut untuk menutupi tubuhnya.
Pipinya pun terasa panas.
Sementara Nathan masih terkekeh pelan mengingat pergulatan yang baru saja terjadi, dimana Nathan mengambil kendali sepenuhnya atas diri Bia.
"Bi, aku tidak pernah menyangka kamu mau menikah denganku. Aku sangat bersyukur, karena sejak pertama kali aku melihatmu, aku sudah jatuh cinta. Tetapi aku sadar siapa diriku. Bia terimakasih sudah mau menjadi istriku. Aku berjanji akan membuatmu bahagia hingga akhir hayatku," bisik Nathan kemudian memeluk Bia yang masih menahan malu.
..._____________...
Sebelumnya Author Teh Ijo ingin meminta maaf jika sering meminta kalian untuk meninggalkan jejak Like dan Komen namum tidak Author balas. Itu bukan berari Othor acuh. Komen kalian tetep othor bacae meskipun kadang tidak othor balas. Tapi othor tetep kasih Like pada komenan kalian. Soalnya kadang othor sendiri juga bingung mau balas apa 😣😣
__ADS_1
Sungguh tanpa kalian semua apalah othor remahan ini 🤧🤧