
Nathan yang baru saja sampai kantor segera merogoh ponselnya saat mendengar sebuah notifikasi pesan di ponselnya.
Nathan mengamati dengan jelas setiap gambar yang ia terima dari seseorang.
Tangannya mengepal lalu dihantamkan di atas meja. "Dasar brengsek!" makinya.
Nathan menyugar rambutnya kasar. Sungguh Anyer telah kelewat batas. Bisa bisanya dia melakukan hal ini terhadap Bia. Apa kurangnya Bia sehingga Anyer lebih tertarik kepada wanita luar sana.
"Lihat saja apa yang akan Nathan lakukan!"
Nathan masih dengan perasaan emosi segera menemui Bia yang sedang berada di ruangannya. Ingin rasanya Nathan segera menunjukkan semua kelakuan Anyer di luar sana namun, sejenak Nathan berpikir tidak seru jika permainan segera berakhir. Nathan ingin tahu sejauh mana Anyer bisa menyembunyikan semua ini.
"Ada apa?" tanya Bia heran. Pasalnya Nathan datang dengan nafas naik turun bak sedang menahan sebuah amarah.
"Emmm… anu Bu…" Nathan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Mendadak Nathan bingung akan menjawab apa.
"Gak jelas banget sih," gerutu Bia.
"Oh iya Nath, jadwalku hari ini apa ya? Kok aku belum membaca agenda hari ini?" tanya Bia.
"Maaf Bu, saya lupa. Sebentar saya ambilkan dulu." Nathan segera bergegas keluar dari ruangan Bia. Ia sendiri bahkan tidak tahu mengapa tiba tiba ingin mengulur waktu, ingin menyaksikan sebuah pertunjukan yang akan membuat Anyer malu bahkah bisa menghancurkan reputasi perusahaan. Nathan tersenyum jahat meski ia bukanlah orang jahat tetapi kali ini ia benar benar menjadi orang jahat yang membiarkan sebuah kemaksiatan di depan matanya.
"Maaf Bu, siang ini anda ada jadwal peninjauan proyek kerja sama kita dengan Tuan Anyer dan malam nanti ada acara dinner ulang tahun salah satu klien kita di hotel melati." Nathan membacakan rentetan jadwal sang direktur.
.
__ADS_1
.
Di sisi lain, Anyer yang datang bersama dengan Mela menjadi sorotan para karyawan. Mereka tidak percaya pelet apa yang telah Mela gunakan untuk dekat dengan bos mereka. Bukan hanya karyawan, Rafa yang melihatnya juga terbelalak tidak percaya terhadap apa yang ia lihat. Bagaimana mungkin bosnya bisa satu mobil dengan sekretaris barunya.
Rafa mengangguk memberi hormat kepada Anyer. "Pagi Tuan," sapanya. Namun, Rafa melirik sinis kepada Mela yang berada di belakang Anyer.
"Iya." Satu kata yang sangat singkat.
Rafa segera memencet tombol lift agar terbuka. Sementara Anyer tetap berdiri gagah sambil membenarkan kancing jasnya.
"Jadwal hari ini apa, Raf?" tanya Anyer.
Rafa segera mengecek tab nya.
"Siang nanti anda akan ada peninjauan ke proyek bersama dengan BI group dan malam nanti anda dinner ulang tahun perusahaan Pak Abu di hotel melati." Rafa membacakan agenda jadwal hari ini.
Tiba tiba saja Anyer mengingat Bia yang terlihat sangat polos untuk dirinya.
Setelah meninggalkannya pagi tadi, ternyata Tuhan berkata lain. Siang nanti ia akan bertemu. Anyer menarik kedua simpul bibirnya.
Setelah sampai di ruangan Anyer, Rafa segera memberondong berbagai pertanyaan mengapa bisa berada dalam satu mobil. Dimana bertemu bahkan Rafa terlihat lebih cerewet daripada Omanya.
"Tuan, sebenarnya apa yang sedang Tuan sembunyikan?" tiba tiba saja Rafa mempertanyakan kedekatannya dengan Mela.
"Maksud kamu apa? Kamu menuduh aku selingkuh?" Anyer nada bicara Anyer meninggi membuat Rafa mengernyitkan dahinya. Rafa merasa heran padahal ia tidak mengatakan Bosnya selingkuh, hanya menanyakan sedang menyembunyikan apa?
__ADS_1
Lain pertanyaan lain jawaban. Rafa sudah yakin jika bosnya sedang menyembunyikan sesuatu.
Selama bekerja dengan Anyer, Rafa tidak pernah melihat Anyer cepat naik darah seperti ini. Biasanya ia akan berdiskusi jika memang sedang ada masalah. Namun, sekarang Rafa melihat bahwa Anyer bukannya Anyer yang ia kenal.
Waktu berlalu dan jadwal pertemuan pun tiba. Bia dan Nathan sudah menunggu menunggu kedatangan Anyer yang terlihat molor hingga 30 menit.
Bia merasa kesal dengan orang yang tidak bisa on time. Lihat saja nanti jika ia sudah bertemu dengan Anyer. Dirinya akan segera menguliti atas keterlambatannya.
"Nih orang niat gak sih, Nath? Kalau gak niat cancel aja! Panas tahu," gerutu Bia.
Sebenarnya bisa saja Bia tidak ikut meninjau proyek mereka namun, Bia hanya ingin memastikan saja. Ia tidak ingin kejadian yang sama terjadi lagi disini.
Para staf manager dan mandor pun juga sudah berkumpul untuk menunggu kedatangan Anyer.
Nathan mencoba menenangkan Bia. "Tenang dulu Bu dir, mungkin Tuan Anyer terjebak macet. Sebentar saya hubungi Rafa dulu." Nathan segera menelpon tangan kanan Anyer yang selalu menempeli Anyer namun, Nathan membulatkan matanya saat mendengar penjelasan dari Rafa yang mengatakan bahwa Rafa sedang menghandle kantor karena yang meninjau adalah Anyer bersama sekretaris pribadinya.
Lagi lagi Nathan mengepalkan telapak tangannya. Ingin rasanya ia menghujani Anyer dengan bogem nya.
"Bagaimana Nath?" tanya Bia.
Belum juga Nathan sempat menjawab, sosok Anyer telah muncul di hadapan mereka. Sambil melepaskan kacamata, Anyer menyapa. "Maaf terlambat," ucapnya.
Bia yang awalnya merasa senang akhirnya Anyer datang mendadak menjadi kusut saat tahu siapa orang yang mendampingi Anyer kali ini.
Siapa dia? Mengapa bukan Rafa yang menemani Anyer ?
__ADS_1
Bia menatap sinis kepada Mela yang berusaha menyunggingkan senyumnya sebelum menjabat tangan Nathan dan Bia. "Maaf kami terlambat," pungkasnya.