Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Ujian


__ADS_3

Berita hoax tentang Bia memiliki anak di luar nikah semakin menyebar luas. Bahkan ada yang beranggapan Aura adalah anak Bia bersama dengan Nathan.


Mereka tidak ada yang tahu bahwa Aura adalah anak malang yang tidak memiliki ibu dan ayah yang tak bertanggung jawab.


Bahkan untuk keluar rumah saja Bia sudah di hadang oleh para wartawan. Bukan ingin menghindar namun, Nathan melarang keras Bia untuk keluar rumah agar tidak terbebani oleh pertanyaan para wartawan yang pada akhirnya hanya akan menyudutkan dirinya. Nathan hanya ingin fokus pada pernikahan bulan depan. Nathan takut jika pikiran Bia akan terbebani hingga ia akan stres.


Bia sendiri sebenarnya juga tidak betah hanya berkurang diri di rumah, meskipun ada Aura yang menjadi tempat menghibur diri namun tetap saja Bia ingin kembali beraktivitas seperti biasa. 


"Mbak Lia, sampai kapan para wartawan akan berhenti mengincar berita tentangku. Aku sudah lelah, Mba." Bia mengadu keluh kesahnya pada Lia. 


Lia yang baru saja siap menyuapi Aura pun segera menatap Bia yang terlihat tidak tenang.


"Sabar, itulah ujian sebelum pernikahan. Besok juga hilang sendiri. Percayalah dengan mas Nathan. Dia pasti bisa menyelesaikan masalah ini," tutur Lia.


"Tapi, sewaktu aku menikah dengan Anyer tidak ada ujian apa apa. Pernikahan kami pun lancar." Sekilas Bia mengingat kisah masa lalunya saat bersama dengan Anyer.


Saat itu juga Bia terdiam sejenak. Sudah setahun berlalu semenjak perpisahannya dengan Anyer. Kabar mantan suaminya itu tak pernah terdengar lagi. Terakhir Bia mendengar dari Rafa bahwa Anyer sekarang menetap di Los Angeles, Amerika serikat dan membangun bisnis disana.


"Nyonya, Aura sudah tidur. Saya permisi ke kamar ya." Mbak Lia membuyarkan lamunan Bia akan sosok Anyer.


"Oh iya, Mbak. Aku juga ingin ke kamar." 


.


.


.


Tepat pukul 5 sore, Nathan sudah sampai di rumah Bia. Sebenarnya Nathan enggan untuk tinggal satu rumah dengan Bia tanpa ada ikatan apapun, tetapi demi untuk menjaga Bia dan juga Aura, Nathan mengambil resiko besar tinggal satu atap tanpa ada hubungan apapun. Beruntunglah ada mbak Lia yang juga tinggal di rumah Bia. Ada atau pun tidak ada Mbak Lia, Nathan tetap akan menjaga Bia tanpa merusaknya. Itu sudah janji Nathan.


Nathan segara mencari keberadaan Bia untuk memastikan bahwa di baik baik saja. Samar samar Nathan mendengar suara celotehan Aura dari halaman belakang.


Nathan pun mengangkat Aura sedang bermain bersama Bia. Semenjak kehadiran Aura, Bia mengubah halaman belakang rumahnya menjadi seperti sebuah taman bermain.


"Papa pulang." Nathan menghampiri Aura dan Bia. Mata Bia terbelalak saat Nathan mengecup pipinya lagi sambil memeluk dari belakang.


"Apaan sih Nath." Bia sangat merasa malu


"Gak malu di liatin Aura," protes Bia lagi.


Nathan pun segera mengangkat tubuh Aura yang berada dalam kereta dorongnya.

__ADS_1


"Papapapa." celoteh Aura.


Nathan menghujani Aura dengan ciuman di pipinya. Aura pun tertawa saat bulu brewok tipisnya menyentuh kulit Aura.


"Tumben udah pulang." Bia mengekori Nathan masuk ke dalam rumah. 


"Karena aku sudah kangen kalian," ujarnya.


Malam hari setelah menidurkan Aura, Nathan berpamit untuk keluar dari kamar Bia. 


Ya, Bia memutuskan Aura untuk tidur bersama di kamarnya. Beruntung saja Aura termasuk anak yang tidak lasak. Jika Aura lasak, bisa dipastikan setiap hari bocah itu akan jatuh karena Bia yang selalu bangun kesiangan.


"Nath, tunggu," cegah Bia.


Nathan kembali mendudukan pantatnya kembali. "Ada apa?" Mata Nathan menatap Bia yang sedang menggigit bibir bawahnya membuat Nathan ingin menerkamnya detik ini juga.


"Ada apa?" ulang Nathan.


"Aku ingin kembali bekerja, boleh?" tanya Bia ragu. Bia sudah yakin jawaban Nathan pasti tidak.


Nathan membuang nafas kasarnya. "Tidak, Bi. Kamu bisa minta apa saja, tetapi aku tidak akan mengijinkan kamu untuk bekerja lagi meskipun itu adalah perusahaanmu. Aku akan buktikan bahwa aku bisa mengelolanya dengan baik. Apa kamu tidak percaya denganku?"


"Aku tahu kamu bosan berada di rumah. Aku juga tahu kamu pekerjaan keras. Namun itu dulu sebelum Nathan menjadi bagian dari hidupmu. Apalagi saat esok aku menjadi suamimu, kamu tidak akan pernah aku ijinkan untuk bekerja lagi. Biarlah aku yang bekerja. Tugas kamu cukup menjadi ibu yang baik dan menghabiskan uangku, meski gajiku tidak sebanding denganmu," kekeh Nathan.


Bia mengerucut bibirnya. Namun dalam hati ia merasa bersyukur Nathan sangat peduli dengan dirinya tidak dengan Anyer yang tak pernah tahu tentang dirinya.


"Iya, iya aku mengaku kalah." Bia pasrah.


Nathan pun tersenyum puas. "Nah, gitu dong. Jadi istri itu harus nurut dengan suami." Nathan mencubit pipi Bia yang mulai terlihat tembem seperti Aura.


"Auw… Sakit tau," protes Bia sambil menggosok bekas cubitan Nathan. Sebenarnya tidak sakit, tetapi Bia hanya berpura pura saja.


Sebagai naluri seorang laki laki pasti ada desiran lain saat sedang berdua dengan seorang wanita, terlebih itu adalah wanita yang sangat di cintai.


Wajah Nathan semakin mendekat membuat Bia memejamkan mata dan menahan nafasnya. Ia sudah merasakan getaran kupu kupu menjalar di seluruh tubuhnya.


Namun pikiran Bia salah. Nathan malah mengusap pipi Bia bekas cubitannya tadi.


"Gak apa apa kok," ujar Nathan.


Seketika Bia membuka mata lalu mendorong tubuh Nathan.

__ADS_1


Entah dalam relung hatinya Bia merasa sangat kecewa.


"Lho kok malah di dorong sih, Bi," protes Nathan.


"Kami nyebelin!"


"Hei, aku nyebelin apa? Aku hanya ingin melihat apakah beneran sakit, kan aku hanya pelan," ujar Nathan.


"Udahlah sana keluar." Dengan paksa, Bia menyeret Nathan untuk keluar dari kamarnya.


"Tunggu Bk, aku ingin belum mencium Aura."


Bia pun memberi waktu Nathan untuk mencium Aura, karena itu sudah menjadi rutinitas setiap harinya.


"Bobok yang nyenyak ya, Nak. Papa ada di kamar sebelah kok.  Sabar ya, bulan depan kita udah bisa bobok bareng kok. Doain lancar ya, sayang." Setelah membisikan kalimat mantra, Nathan segera bangkit. 


Ia mengamati seperti ada yang salah sehingga membuat Bia manyun seperti ini.


"Kamu kenapa? Ingin dimanja juga?" goda Nathan.


Bia tersentak saat tangannya ditarik Nathan. Kini tubuh mereka seperti sedang menempel. Bahkan aroma nafas keduanya bisa mereka rasakan.



Nathan mengangkat dagu Bia lalu memiringkan wajahnya. Perlahan dan pelan, Nathan menikmati bibir Bia yang sudah membuatnya candu. Rasa stroberi yang manis.


Tak ada penolakan dari Bia, karena sentuhan Nathan membuatnya merasa nyaman. Munafik kalau Bia tidak menginginkan sentuhan hangat dari Nathan. Karena Bia benar benar sudah merasa candu akan ciuman dari Nathan. Nathan lah orang pertama yang mengajari banyak hal tentang berciuman. Bahkan sekarang Bia sudah tidak kaku lagi.


Disini Bia juga ikut hanyut dalam permainan Nathan.


Tangan Nathan memenang tengkuk Bia dan semakin memperdalam ciumannya hingga terdengar suara decakan.


Nathan menghapus sudut bibir Bia lalu tersenyum puas.


"Bagaimana sudah puas? Mau tambah lagi?" goda Nathan.


Bia menggeleng pelan. Katakan saja saat ini Bia tidak punya harga diri di hadapan Nathan. Ingin selalu di sentuh dengan Nathan namun ia terlalu gengsi untuk mengakui perasaannya sendiri.


...——————...


Tinggalin jejek dong biar gak sepi kek kuburan 🤧

__ADS_1


__ADS_2