Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Episode 10


__ADS_3

Almira yang mendengarkan suara-suara aneh dari luar pun, hanya bisa terdiam. 'Sedang terjadi apa diluar sana' batinnya, Almira terus berusaha ingin melepaskan tangannya dari ikatan ini, tapi apapun usaha Almira itu nihil. Almira hanya bisa terdiam, tidak tahu harus apa, dia pasrah sekali jika memeang nanti dia dibunuh 'Mungkin takdir ku' batinnya lagi.


"BRAAKK" terdengar jelas sekali suara itu, Almira langsung membuka matanya spontan, dia yakin sekali jika ada suara orang jatuh, tidak mungkin suara barang lalu Almira mendengarkan teriakan suara Shaia, menyebutkan bahwa mereka psikopat. 'Siapa yang psikopat? Bukannya Shaia ingin menyiksa ku disini? Kenapa dia yang berteriak' kata kata itu bergulat di pikiran Almira. Almira menjadi panik, dia takut kalau misal dia ingin dibunuh tapi tidak langsung dibunuh, disiksa terlebih dahulu, Almira benar-benar kebingungan harus apa, tetap saja dia melakukan hal bodoh ingin lepas, tetapi tidak bisa, Almira semakin panik.


Sementara di Lantai 1


"AN*** YA LO NAV, LEPASIN RENI SEKARANG", Shaia tidak kuat, melihat Reni merintih kesakitan, lalu harus melihat anak buahnya yang lain Fina dia mati begitu saja didepannya, terjatuh dari lantai 2, dan satu lagi anak buahnya yang dia suruh menyelamatkan Reni kemana dia, dia tidak menemukannya, sambil menengok kanan kiri.


Navy pun tertawa jahat, dan memberhentikan aksinya.


"Lepasin Reni Nav, tolong" perintah Shaia kepada Navy.


"Lu mau gua lepasin anak buah kesayangan lu ini?" jawabnya sambil tersenyum seram, seketika Navy pun menusukan pisau itu ke telapak tangan Reni hingga menancap.


"AN*** LO NAV, APAAN APAAN LO" seketika Shaia berlari kedepan ingin memukul Navy dengan tangan kosong tanpa pikir panjang.


Navy pun berdiri, dan langsung mendorong Shaia sampe terjatuh keras hinga berbunyi "BRUKK".


"Lu main-main sama gua? Apa giliran lu aja kali ya, wajah cantik lu gua rusakin seperti si siapa anak buah lu, Rani ya?" jawabnya meledek sambil mentap wajahnya Shaia.


"Reni namanya, please lepasin gua nyerah, gua bakalan lepasin Almira ba***** itu, dan ga bakalan ganggu kehidupan Gio lagi, tapi tolong jangan siksa anak buah gua yang lain" jawabnya memohon.


Navy pun hanya tertawa jahat, lalu Navy langsung berjongkok dan mendekati telinga Shaia "Perintahkan anak buah lu sekarang juga untuk lepasin Almira, gua ga bakalan apa-apain lu lagi. Oh ya satu lagi, kalau lu berani melaporkan dengan yang berwajib, gua bakalan lebih dulu menghabisi lu, termasuk keluarga lu" bisiknya pelan namun tegas.


Shaia pun menganggukkan kepalanya, dan berteriak kencang "Rey lepasin Almira, udah gausah dilawan lagi yang lain", karena hanya Reyna saja yang menjaga pintu Almira, karena kembarannya mati begitu saja.


Reyna pun dengan sigap walaupun masih shock, dia tau dia kalah dengan mereka semua, akhirnya membukakan kuncinya dan membiarkan Carl memasuki ruangan itu.

__ADS_1


Almira tersadar bahwa ada yang memasuki ruangannya, dia langsung berpura pura pingsan lagi, karena dia takut jika dia langsung membuka mata, malahan langsung di siksa, lebih baik dia ingin mendengarkan suaranya dulu. Saat itu juga suara langkah kaki itu mendekat, berkata "Nona baik-baik saja? Tidak ada yang terluka", sambil membuka ikatan di tangan dan kaki Almira. Almira terkejut mendengarkan suara itu, itu suara tidak pernah ia dengar, dan dalam sekejap semua ikatan lepas hingga lakban yang ada di bibirnya, Almira tetap pura-pura pingsan saja tidak mau membuka mata, lalu orang itu langsung menggendong Almira dan membawa keluar.


Di Lantai 1


Navy sudah berdiri, dan menunggu anak buah yang lain turun ke bawah, Navy meunggu Almira, ia ingin memastikan bahwa Almira baik-baik saja, tidak menunggu waktu lama Carl menggendongnya Almira dan turun dari tangga.


"Carl, apakah dia baik-baik saja?" tanya Navy


"Ya Tuan, sepertinya Nona masih pingsan" jawab Carl santai


Navy mendekatkan dirinya ke arah Almira, dan mengeceknya 'Pura-pura pingsan, pintar sekali Nona Almira' batinnya. Navy menyuruh Carl dan anak buah yang lain untuk segera pulang dan membawa Almira kerumah Tuan Gio. Sebelum mengangkat kakinya dari markas tersebut, Gio membuka ponselnya dan menelfon seseorang untuk membereskan mayat dan anak buah dari Shaia yang terluka untuk segera di obati.


"Saya sudah menelefon seseorang untuk membantu mu membereskan semuanya, kau juga akan segera diobati, ingat kata-kata saya" dengan senyuman devilnya, dan pergi begitu saja.


Shaia yang melihat semua ini "Gua ga habis pikir kita bakalan kalah seenteng ini, dari dulu kita ga pernah kalah" ucapnya


…………


Di mobil, Carl mengendarai mobil Navy, dan Navy dibelakang bersama Almira yang sedang berpura-pura pingsan, Navy menatap Almira dengan tegas, tanpa sadar Navy berkata "Nona Almira jangan berbohong seperti itu, tidak baik". Almira mendengar hal itu langsung membuka matanya, "Maaf Tuan Navy, saya tidak bermaksud berbohong" sambil membenarkan posisinya.


Navy langsung kembali ke posisi duduknya, dan tidak menjawab Almira. Suasana mobil sangat sepi, Navy sengaja satu mobil dengan Almira karena dia masih tidak yakin dengan anak buahnya, kalau Almira kenapa-kenapa yang disalahkan langsung pasti dirinya. Mobil terus melaju hingga pintu gerbang rumah Tuan Gio, dibukakan lah pintu rumah itu, dan Carl memarkirkan mobilnya kedepan rumah Tuan Gio, disana para maid sudah berkempul menyambut mereka, meskipun tidak ada Tuan Gio, mereka tetap menyambut dikarenakan Nona Almira adalah istri Tuan Gio, walaupun pernikahan nya tidak ketahui faktanya oleh para maid.


"Sini Nona Almira biar saya bantu langsung ke kamar Nona Almira" ucap kepala pelayan bernama Fira, ya kepala pelayan ya adalah perempuan. Fira mengantarkan Almira bukan ke kamar utama, melainkan kamar yang sederhana di lantai 2, sedangkan kamar utama di lantai 3. Karena sebelum pernikahan Gio memberitahukan kepada kepala pelayan untuk membereskan kamar untuk Almira, dia masih belum bisa berbagi privacy nya kepada sang istri. Dibukakannya pintu kamarnya, dan terlihat bahwa barang-barang Almita sudah tertata rapih.


"Terima Kasih Bu" ucap Almira


"Eh iya sama-sama Nona Almira, oh ya saya belum memperkenalkan diri saya, nama saya Fira Darasita, saya kepala pelayan disini, jika Nona Almira butuh apapun itu bisa panggil saya ya" ucap Fira

__ADS_1


"Bu saya mau tanya, apakah Tuan Gio tidur disini juga?" tanyanya ragu-ragu


"Tidak Nona, Tuan Gio memilik kamar sendiri di Lantai 3" jawabnya


Almira menghelakan nafas, dia lega sekali mempunyai privacy. Fira pun melihat Almira dan mengernyitkan dahinya, dia bingung dengan tingkah Almira, tapi Fira tidak terlalu memperdulikannya "Nona, masih butuh bantuan lain?" tanyanya dengan lembut.


"Tidak bu, ibu bisa langsung kembali" jawabnya tersenyum.


"Baik nona, kalau begitu saya permisi" ucap Fira.


Almira pun menatap kepergian Fira, dan langsung mengunci pintu kamarnya dengan cepat. Almira pun mencari handuk, dan langsung ke kamar mandi untuk membersihkan diri, meskipun dia sangat capek, tapi tetap saja Almira habis disekap, sehabis itu dia ingin tidur.


……………


Di Rumah Sakit


"Bagaimana tadi Navy?" tanya Gio yang menyadari Navy datang ke ruangannya.


"Lancar, tapi maaf ya Tuan Gio aku melakukannya lagi" jawabnya sedikit lesu


"Berapa orang yang kau bunuh?" tanyanya


"Tidak ada yang kubunuh, aku hanya merusak wajah seorang wanita" jawabnya


"Baiklah, kerja mu bagus akan aku tambahkan bonus untukmu, aku tidak perlu turun tangan dengan semua kekacauan yang dibuat Shaia" ucap Gio, dan menambahkan "Tapi mulai sekarang kita harus lebih berhati-hati lagi, karena bagaimanapun Shaia tidak dapat dipercaya omongannya, kau tau dia kan?".


Navy hanya mengganguk dan terdiam

__ADS_1


"Kita harus tetap waspada, ketatkan keamanan" ucap Tuan Gio


__ADS_2