
Rico telah berhasil menyentuh kekasih sahabatnya. Sungguh Rico benar benar merasa sangat puas saat menjelajahi Lisa.
Lisa ternyata tidak seperti yang ia bayangkan. Bahkan Lisa lebih berkuasa saat menjelajah.
Sisa keringat permainan panas masih membasahi tubuh keduanya. Tanpa sehelai benang, tubuh mereka tertutup boleh selut tebal.
"Sungguh Anyer sangat beruntung memiliki kamu Lis. Pasti dia selalu merasa puas oleh milikmu yang terasa menggigit ini," gumam Rico.
Lisa mendesah. "Siapa bilang? Bahkan Anyer sama sekali belum pernah mencobanya. Setiap kali aku pancing, dia selalu menolak. Aku jadi ragu, apakah dia benar benar mencintaiku?" keluh Lisa.
Mata Rico terbelalak. Bagaimana mungkin Anyer sama sekali belum menyentuh Lisa. Pacaran bertahun tahun mereka ngapain aja?
Namun, jika Anyer belum pernah menyentuh Lisa lalu siapa orang pertama yang sudah membuka gadis cantik di sampingnya saat ini.
"Anyer sungguh bodoh! Menyia-nyiakan perempuan secantik dirimu dan se… Sempit anu." Rico tersenyum licik kearah Lisa.
"Bagaimana kalau kita ulang lagi. Sungguh milikmu membuatku candu, ingin mengulanginya lagi. Kali ini biarkan aku yang berkuasa," bisik Rico nakal.
Tangannya sudah bergerilya menggerayangi tubuh polos Lisa dengan penuh nafsu. Lisa tak bisa berkata apa apa lagi selain mendesah. Ternyata berada dalam kendali Rico lebih nikmat.
Disela sela permainan, Rico berpacu melambat. Tangannya bertumpu pada kasur. "Jadi katakan siapa yang telah membuka segel milikmu?" bisik Rico tepat di daun telinga Lisa.
Lisa terus menikmati setiap gerakan Rico sambil mendesah pelan.
"Ren...Rendy…" desah Lisa.
Rico menatap Lisa dan menghentikan gerakannya membuat Lisa heran.
"Stop! Disaat kamu sedang bermain denganku jangan sebut laki laki lain selain aku. Sebut namaku Lisa!" Rico memacu dengan gerakan cepat hingga Lisaerasa kesakitan.
Dengan patuh Lisa mendesahkan nama Rico. "Ri.… Rico…"
Lelaki itu sangat puas. Begitu juga dengan Lisa yang tersalurkan hasratnya. Keduanya sama sama mencapai puncak bersama. Tubuh Rico segera tumbang ke samping saat pelepasannya sudah berakhir.
…
Pagi hari Bianca bangun dengan keadaan bingung. Sebab, yang ia ingat dirinya belum sempat mengganti pakaian kerjanya dan kini saat melihat pakaiannya telah berubah. Ia melihat Anyer yang tidur membelakanginya. Jangan jangan Anyer…?
"Anyer bangun!" Lisa menggoyangkan tubuh Anyer.
Merasa terganggu, Anyer menggeliat menatap Bia sudah bersedekap dada di hadapannya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Anyer malas.
"Apa yang kamu lakukan terhadap saya tadi malam?" ketus Bia.
Anyer mengernyit tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Bia. "Maksud kamu apa? Saya tidak mengerti."
"Kamu ini pura pura lupa kan? Kamu yang sudah mengganti pakaian saya kan?" tuduh Bia langsung. Anyer mengerutkan alisnya. "Ngarep banget kamu di gantiin sama saya?" Malas berdebat Anyer bangun hendak ke kamar mandi.
"Hei tunggu! Anyer!" teriak Bia.
"Saya gantiin baju kamu? Gak sudi." Anyer menjulurkan lidahnya, mengejek Bia.
Sementara Bia masih mematung merasa kesal terhadap Anyer.
Sesampainya di meja makan, Bia masih saja terdiam. Ia memikirkan apakah memang bukan Anyer yang menggantikan bajunya.
Lalu siapa? Atau mbak Lia?
Anyer melihat Lia tengah menyiapkan sarapan untuk kedua majikannya yang sama sama diam. Tak heran jika setiap hari kedua majikannya akan sama sama diam. Mungkin mereka butuh waktu, pikir Lia.
"Mbak Lia, bisa katakan siapa yang menggantikan pakaian nona Bianca tadi malam?" tanya Anyer.
"Maaf tuan saya tadi malam telah lancang. Setelah kepergian tuam, saya hanya menyiapkan air putih. Tetapi saya melihat nyonya Bianca tertidur dengan pakaian kerjanya. Jadi tanpa pikir panjang saya segera mengganti pakaian nyonya. Karena nyonya Bianca seperti itu tidak bisa mengurus dirinya sendiri dengan benar," jelas Lia.
"Mbak Lia apa apaan sih? Ngapain pakai di buka kartu As ku?" bisiknya pada Lia.
Anyer terkekeh pelan melihat Bia yang sudah salah tingkah. Sedangkan Lia yang tak tahu permasalahannya memilih berlalu.
"Maaf nyonya, saya permisi."
Sepeninggal Lia, Anyer masih tak percaya bahwa Bia yang terbilang wanita tangguh masih saja tidak bisa mengurus diri sendiri.
"Kenapa, ada yang lucu?" sinis Bia.
Anyer menggeleng. "Tidak. Hanya merasa kagum saja. Seorang Bianca dengan julukan wanita tangguh dan menguasai pasaran industri, belum bisa mengurus diri sendir."
"Stop. Saya tidak butuh komentarmu!" ketus Bia.
Bia sudah tidak mempunyai mood lagi. Semua ini gara gara mbak Lia. Membuka aib di depan Anyer, sungguh mau diletakkan dimana wajahnya?
Setelah selesai sarapan, Bia segera berkemas. Pagi ini ia tidak dijemput oleh Nathan. Sebab, Nathan sibuk mengurus presentasi untuk nanti siang.
__ADS_1
Ya siang ini akan ada meeting dengan beberapa pengusaha ternama untuk penanaman saham. Tak terkecuali Anyer.
Anyer juga masuk dalam salah satu daftar pengusaha ternama se-indonesia raya.
Terlihat Bia duduk di teras. Ia menunggu pak Dadang sang sopir yang sedang kebelakang untuk panggilan alam
Anyer yang hendak berangkat pun akhirnya turun dari mobilnya sambil melepaskan kacamatanya.
"Nungguin Nathan?" tanya Anyer.
"Tidak," jawab Bia cepat.
"Lalu?"
"Lagi nunggu pak Dadang."
Diam sejenak, lalu Anyer mengambil sebuah keputusan berat.
"Masuklah!" perintahnya.
Bia mengernyit. Ia berusaha meyakinkan pendengarannya, takut jika ia salah dengar atau salah tanggap.
"Kemana?" tanya Bia ingin pasti.
Anyer menatap Bia tajam.
"Kalau tidak mau saya tidak memaksa."
Anyer kembali masuk ke mobil.
Dan tanpa berpikir ulang, Bia segera berlari kecil ke arah mobil Anyer.
Tidak biasanya Anyer akan memberikan tumpangan kepada dirinya. Saat ada kesempatan, Bia tidak akan menyia nyiakan hal itu.
Selamat hari minggu ❤
Ayo dong, tinggalin jejak kalian.
cukup Like dan komen setelah baca, biar othor kentang ini semangat. Syukur² kalin sawer sama bunga gitu 🌺🌺
Oh iya sambil nunggu novel ini up, yuk singgah dulu di karya temen aku Wheena The Pooh
__ADS_1
yang judulnya bodyguardku suamiku