
Anyer memilih mengikuti langkah Oma dan Bia. Namun sebelum itu ia meminta maaf terlebih dahulu kepada Siska.
"Ma, maaf Anyer tidak bisa menenangkan Mama. Tetapi nanti setelah ini Anyer akan temui mama. Maaf ya, Ma." Anyer benar benar pasrah jika dikatakan sebagai anak durhaka.
"Kamu sudah keterlaluan Anyer." Siska sangat kecewa dengan keputusan Anyer yang lebih memilih mertuanya ketimbang ibunya sendiri.
Didalam sebuah kamar oma Risa dan Bia sudah terlihat berbincang. Nampak oma begitu perhatian kepada Bia.
"Bagaimana nak, sudah sampai tahap mana percetakan kalian? Oma benar benar sudah tidak sabar lagi mendengar kabar baik ini?"
Bia hanya mampu menelan kasar ludahnya. Pertanyaan macam apa ini.meskipun oma memakai bahasa isyarat namun, Bia sudah mengerti maksud sesungguhnya.
"Masih dalam proses, Oma." Kilah Bia.
Tidak mungkin ia mengatakan bahwa dirinya masih tersegel rapat. Bahkan Bia sendiri juga belum terpikiran untuk segera memiliki buah hati. Masalah pertama adalah pekerjaan. Bia tidak mungkin meninggalkan tanggung jawabnya di perusahaan meski telah ada Nathan dan juga Anyer.
Kedua, Anyer saja tidak tergoda oleh dirinya. Meskipun tidur satu ranjang, Anyer tidak tergoyahkan imannya. Buktinya saja sampai sekarang ia masih perawan.
"Kalian proses terus tetapi tidak jadi jadi,* gerutu Oma kesal.
Tak berselang lama, Anyer pun datang membuka pintu kamar sang Oma.
Kedatangan mendapat sorotan tajam dari Oma.
"Ada apa?" tanya Anyer bingung.
Oma segera menjewer telinga Anyer.
"Kamu sebenarnya bisa buat anak gak sih? Lihat lah, kalian hanya bisa memproses saja tetapi tidak jadi jadi!"
Anyer mengaduh kesakitan dan meminta ampun agar oma melepaskan jewerannya.
__ADS_1
"Oma sakit," rengek Anyer.
Oma pun melepaskan jeweran lalu menatap Anyer dalam. "Kamu payah," ejek Oma.
Anyer dan Bia saling bersitatap saat oma menagih permintaannya beberapa waktu lalu. Bagaimana Anyer akan mengabulkan permintaan sang Oma jika selama ini dirinya sama sekali belum pernah melakukan pelepasan bersama Bia.
Mengingat pelepasan, mendadak Anyer teringat sesuatu. Saat ia hilang kesadaran apakah Mela menggunakan pengaman atau tidak?
Itu adalah pelepasan Anyer yang pertama. Seharusnya itu hanya untuk istrinya tetapi Mela menghancurkan semuanya. Sebenarnya apa mau Mela?
Anyer tersentak saat sebuah pukulan kecil menabok bahunya.
"Apa yang sedang kamu pikiran?" Oma membuyarkan lamunan Anyer.
"Apaan sih, Oma," gerutu Anyer.
"Anyer, Bia. Kalian tahukan Oma sudah tidak muda lagi. Waktu Oma juga tidak akan lama lagi. Kalian tega saat Oma di panggil Tuhan belum sempat menggendong cicit?"
"Oma ngomong apa sih? Oma gak boleh ngomong seperti itu. Kita sudah berusaha tetapi memang Tuhan belum memberikan kepercayaan kepada kami. Oma sabar ya, terus berdoa semoga kita cepat diberi kepercayaan. Iya kan Mas?" Bia mengedipkan mata memberi kode agar Anyer mengiyakan.
"Nah kan bengong lagi," gerutu Oma
"Oh iya… Iya Oma. Maaf Anyer tidak konsen karena ada sedikit kendala di kantor. Oma tenang aja aku dan Bia sudah berusaha. Bahkan setiap malam Oma."
Mendengar ucapan Anyer Bia bergidik ngeri. Setiap malam? Ah, bagus sekali sandiwara ini. Oma, maafkan Bia telah membohongi Oma.
"Baiklah akan sabar menunggu kabar baik selanjutnya. Besok saat kalian datang kesini harus sudah membawa kabar baik itu. Kalau tidak pulau KODOMO tidak akan Oma berikan kepada kalian," ancam Oma.
.
.
__ADS_1
.
Bia merebahkan tubuhnya di sofa. Kini ia sudah kembali ke rumahnya. Begitu juga dengan Anyer yang segera memanggil mbak Minah untuk membuatkan minuman dingin.
"Bi, jangan pikiran ucapan Oma ya. Biasa orang jika sudah lewat tua seperti itu."
Bia membuang kasar nafasnya. Sungguh ia benar benar merasa sangat bersalah karena telah membohongi Oma.
"Tapi tetap saja aku merasa berdosa pada Oma, Anyer." ujar Bia.
Anyer menakutkan alisnya. "Bi aku ingin kamu memanggilku seperti di rumah Oma tadi!" pinta Anyer.
"Yang mana?" Bia pura pura lupa. Jujur lidahnya masih kelu menyebut Anyer dengan sebutan Mas.
"Yang tadi, waktu kamu panggil aku Mas. Aku ingin kita lebih akrab dan dekat. Bisa kan?"
Bia menggigit bibir bawahnya lalu mengangguk pelan. "Iya, Mas." ucapnya ragu.
Anyer tersenyum puas. Melihat Bia seperti ingin sekali ia mengabulkan permintaan Oma.
"Bi..."
"Iya," sahut Bia cepat.
"Kita…" Ucapan Anyer terjeda.
"Maaf Tuan ini minumannya." Mbak Minah meletakkan dua gelas orange jus. Kedatangan mbak Minah membuat ucapan Anyer menggantung.
Anyer mengumpat dalam hati. Kenapa mbak Minah datang di waktu yang kurang tepat.
"Kita apa?" tanya Bia penasaran.
__ADS_1
Anyer merasa canggung lagi saat Bia menantikan kelanjutan ucapannya. Haruskah Anyer membuang gengsinya dan jujur kepada Bia untuk meminta nganu.
Ah itu tidak mungkin. Anyer segera menggelengkan kepalanya. Mana ada siang siang nganu. Tetapi Anyer telah merencanakan nanti malam ia harus segera memproses permintaan sang Oma.