
Bia mengerjap membuka matanya pelan. Ia merasakan perutnya terasa ada sesuatu yang menimpa. Saat ia telah membuka matanya dengan sempurna, Bia merasa sangat terkejut melihat Nathan yang tanpa baju tengah memeluk dirinya.
Apalagi di tambah Bia yang melihat dirinya juga tanpa sehelai benang. Ingin rasanya Bia berteriak namun, sesaat ia baru menyadari bahwa mereka telah menikah kemarin. Akibat permainan panas tadi malam Bia hampir melupakan statusnya saat ini yang telah berubah menjadi istri Nathan.
Seketika Pipi Bia menjadi merona kembali saat mengingat sebuah permainan yang selama ini belum pernah Bia mainkan.
"Sudah bangun?" Tidur Nathan terusik karena pergerakan Bia.
Tanpa aba aba lagi Nathan menarik tubuh Bia agar lebih mendekat lalu mengecup keningnya. "Selamat pagi istriku."
Bia terbelalak, dadanya terasa bergemuruh kembali.
"Kenapa diam? Mau lagi? Aku masih gak percaya lo Bi, ternyata kamu masih perawan," goda Nathan.
Saat itu juga satu cubitan mendarat di lengan Nathan yang membuat Nathan mengaduh kesakitan.
"Teruskan saja untuk meledekku," kesal Bia.
Bia pun segera menyibakkan selimut lalu memakai kimono yang tercecar di lantai.
"Nath, mana pakaian ganti kita?" tanya Bia.
Nathan yang juga memakai kimono segera menepuk jidatnya. "Astaga Bi, aku lupa."
Bia membuang kasar nafasnya. Saat ingin melangkah Bia merasakan bagian intimny terasa nyeri. "Aduh," pekik Bia.
Nathan dengan cepat menghampiri Bia."Ada apa Bi," tanya Nathan sangat khawatir.
"Nath, anu ku sakit." rengek Bia.
Nathan mengernyit. "Anu?" Nathan membeo.
"Ih... gara gara kamu nih! Coba aja kamu gak minta lagi dan lagi pasti gak sakit kayak gini. Lecet nih," gerutu Bia.
Nathan tak bisa membela diri lagi. Memang salah Nathan juga karena tadi malam harus mengulang dan mengulang hingga pukul 3 pagi.
"Iya maaf. Kan kamu juga menikmati." Nathan mencoba memapah Bia dengan pelan menuju kamar mandi.
"Bisa mandi sendiri?" tanya Nathan.
Dengan manja Bia menggeleng. "Gak bisa."
"Ya sudah sini aku mandikan."
Akhirnya mandi yang harusnya 15 belas menit siap kini menjadi hampir satu jam. Meskipun Bia mengatakan sakit, namun saat disentuh dengan milik Nathan rasa sakitnya hilang dan hanya tinggal sebuah kenikmatan.
Setelah mereka siap mandi. Nathan mencoba untuk mengeringkan rambut panjang Bia dengan Hair dryer yang tersedia sambil menunggu pakaiannya datang. Keduanya masih sama sama mengenakan kimono yang di pakai semalam.
Salah mereka sendiri, sudah tahu ingin menginap namun tak ada mempersiapkan apa apa. Bia hanya membawa tas kecilnya yang hanya muat untuk ponsel dan dompetnya. Bahkan Bia juga tidak membawa alat make up nya.
__ADS_1
Tak berselang lama ketukan pintu terdengar. Nathan sudah menduga itu adalah Dila yang di beri amanat untuk mengantar pakaiannya.
"Maaf Mas, eh- pak Nathan maksud saya. Pagi pagi seperti ini belum ada toko pakaian yang buka. Jadi saya membelikan pakaian ini di pasar dekat kompleks saya," tutur Dila sambil menyerah sebuah kantong plastik berwarna putih.
Mata Dila sengaja mencuri kedalam. Ia sangat penasaran dengan kondisi Direkturnya saat melihat Nathan yang hanya menggunakan handuk kimono dengan rambut yang masih basah.
Apakah Bia baru saja senam pagi atau masih tepar melawan Nathan.
"Ya sudah tidak apa apa. Terimakasih, ya." ujar Nathan.
"Bu dir tidak apa apa?" tanya Dila.
Nathan menakutkan alisnya. "Iya. Dia tidak apa apa. Kenapa memang?"
Dila mendekat kearah Nathan. "Tadi malam siapa yang menang? Sudah cetak berapa gol?" bisik Dila.
"Kamu kepo! Sudah sana ke kantor! Gangu aja!" Nathan mengusir Dila kemudian menutup pintu kamarnya.
Bia yang sengaja memilih berbaring enggan untuk menemui Dila karena kondisinya yang menurutnya mengerikan.
Bagaimana tidak, jejak kepemilikan Nathan bertebaran di sekitar lehernya. Sisa tadi malam saja belum hilang dan tadi saat mandi di tambah lagi.
"Lama amat sih, Nath," gerutu Bia.
"Biasalah… Kayak gak tahu Dil aja," sahut Nathan.
"Dila bilang belum ada toko yang buka dan ini hanya beli di pasar. Kamu gak papa kan?" Nathan memastikan terlebih dahulu sebab ia tahu selera Bia seperti apa.
"Oh iya. Nih make up nya." Nathan memberikan sebuah tas kecil yang khusu berisi make up saja.
Bia mengernyit. Bukan ka dirinya tidak memesan untuk membelikan make up?
"Ini sengaja Dila kasih ke kamu. Dila takut kamu gak berani keluar tanpa make Up," tambah Nathan lagi.
Setelah keduanya siap berganti, Nathan memberi pilihan kepada Bia untuk segera pulang atau memilih menghabiskan waktu sejenak berdua.
Tanpa pikir panjang Bia memilih menghabiskan waktu sejenak Karena ia masih sangat malu untuk bertemu dengan Mbak Lia dengan keadaannya yang seperti saat ini. Jalan yang seperti bebek ditambah lagi tanda kepemilikan Nathan yang bertebaran.
"Nath, kamu tanggung jawab dong! Lihat nih, ****** yang kamu buat!" gerutu Bia sambil mengaca
"Bisa gak sih pakai kira kira," lanjut Bia lagi.
Nathan hanya cengengesan. Sebenarnya bukan niat untuk meninggalkan jejak yang bertaburan, itu semua karena refleks.
"Dila tau aja ukuran aku segini." Bia kembali menatap pantulan dirinya dalam cermin. Meskipun baju yang di kenakan bukanlah dari branded terkenal namun terasa nyaman saat dipakai. Apalagi dadanya yang terlihat lebih menonjol.
"Iya, karena aku yang bilang kalau ukuran emang segitu," celoteh Nathan. Sesaat Kemudian Nathan menutup rapat mulutnya ia kelepasan.
"Maksud kamu….? Kamu tahu ukuran bra aku, Nath?" Bia melotot kearah Nathan. Sejak kapan Nathan tau ukuran cup nya.
__ADS_1
"Iya jelas dong Bi. Kan aku selalu memantau." lagi lagi Nathan keceplosan.
"Nathan….!" geram Bia.
Berada di dalam kamar satu harian membuat Bia tiba tiba merindukan Aura. Wajah imutnya selalu terbayang. Sedang apa dia? Rewel gak? Semua ingatan tentang Aura memenuhi pikiran.
Bia melihat Nathan yang malah sibuk dengan ponselnya. Bia merasa penasaran dengan siapa Nathan berbalas pesan.
"Hp terus?" sindir Bia.
Seketika Nathan mendongak melihat Bia yang sudah duduk disampingnya.
"Maaf. Bukan maksud mengabaikanmu. Aku hanya berbalas pesan dengan Dila. Dia mengatakan bahwa ada kunjungan dadakan dari klain kita yang dari luar negri."
"Oh,"
"Kenapa? Kami cemburu ya," goda Nathan.
...______...
Bia dan Nathan sampai dikediaman Bia tepat pukul delapan malam. Bia sengaja pulang malam karena enggan di lihat orang lain tentang keadaan dirinya saat ini.
"Ah, akhirnya bisa bebas juga." Bia segera merebahkan tubuhnya di ranjang miliknya.
Saat ini dirinya sudah tidak merasa canggung lagi saat berada satu ruangan dengan Nathan.
"Kamu gak makan lagi?" tanya Nathan.
Bia hanya menggeleng. "Aku tidak lapar. Aku hanya ingin tidur."
"Tidak ingin bertemu dengan Aura? Tadi katanya sudah rindu berat." tanya Nathan lagi.
"Besok saja. Aku lelah. Ini semua juga karena ulahmu."
Nathan tak memaksakan Bia untuk menemui gadis kecilnya. Namun Nathan ingin menyempatkan diri memberi ucapan selamat malam pada Aura.
Berhubungan kamar yang di Aura ada di samping kamar Bia, Nathan pun segera melangkahkan kakinya ke kamar itu.
Jelas terlibat wajah lelah Lia masih menggendong Aura yang sedikit lebih manja hari ini. Mintanya di gendong terus.
"Papapapapa…" celoteh Aura saat baru saja melihat Nathan. Telunjuknya pun mengarah pada Nathan seolah ia ingin mengadu.
"Aura kenapa, Mbak?" tanya Nathan.
"Dari tadi malam Aura sedikit manja Mas. Gak mau ditinggal. Gendongan terus," terang Mbak Lia.
Nathan pun segera menggendong tubuh mungil Aura yang kini terlihat sangat riang.
"Mbak, siapkan keperluan Aura ke kamar Bi, ya!" titah Nathan.
__ADS_1
Mbak Lia dengan patuh mengiyakan ucapan Nathan.
Setelah sampai kamar ternyata Aura sudah tidur. Bahkan mbak Lia sendiri juga heran. Hampir 2 jam dia mencoba menidurkan Aura tetapi bocah itu malah berceloteh ria.