Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
S-2 Kabar kebenaran


__ADS_3

Bia membuka matanya. Dirinya kaget saat mendapati dirinya tengah berada di dalam kamar yang terlihat mewah. Bukankah tadi malam dirinya disekap di dalam gudang? Lalu apakah Nathan sudah menemukan dirinya? Lalu kamar siapa ini? Mengapa begitu asing?


Semua pertanyaan berputar dalam kepala Bia. Ia mengerjapkan matanya sambil mengedarkan pandangan ke segala penjuru arah. 


Bia sama sekali tidak menemukan siapa siapa di dalam kamar tersebut. Namun, di atas nakas telah tersedia makanan dan pakaian ganti untuk Bia.


"Jangan lupa sarapan! Aku juga sudah menyiapkan pakaian ganti untukmu. Aku pergi karena ada urusan."


Sebuah pesan tertulis di atas nakas.


Perasaan Bia semakin kesal ternyata Anyer yang membawanya ke kamar ini. Lalu apa maksud dari semua ini?


Sebenarnya apa yang diinginkan oleh Anyer.


"Arrrggghhh." teriak Bia.


Bia segera bangkit untuk membuka pintu, namun sayang pintu terkunci tidak bisa dibuka. Ia pun tak putus asa, segera Bia lari ke balkon. Tetapi matanya terbelalak saat melihat ketinggian yang nyata. Ternyata dia berada di sebuah apartemen dengan lantai paling atas.


"Sial! Anyer." teriak Bia.


Tidak sampai  disitu, Bia pun mencari telepon yang biasanya yang tersedia di kamar. Namun usaha Bia hanya sia sia. Anyer sudah menyingkirkan telepon di kamarnya.


Pikiran Bia semakin kacau saat dirinya sudah tidak mempunyai akses jalan untuk keluar.


...___...


Pagi ini Nathan segera berangkat ke kantor tanpa ingin mengisi perutnya yang kosong. Sebelum menemukan Bia, Nathan tidak akan bisa tenang meskipun ada Aura yang menjadi pusat tenaganya saat ini.


Aura telah diserahkan kepada Mbak Lia. Bahkan Nathan juga menyewa beberapa orang untuk menjaga rumah saat dirinya tidak ada.


Dalam perjalanan, pikiran Nathan tidak menentu. Ingin berteriak namun itu percuma. Saat ini hanya ingin menemui Bia.


Nathan mengambil ponselnya lalu menelepon seseorang. 


[ Bagaimana? ]


Nathan terdiam sejenak saat mendengar penjelasan dari dalam teleponnya.

__ADS_1


"Sial." Makinya lalu menutup ponsel.


Jika tidak mengingat perusahaan Bia, Nathan akan turun tangan detik ini juga. Tetapi mau bagaimana lagi, tugas yang Nathan emban sekarang sudah sangat banyak. Ia tidak akan pernah mungkin mengecewakan keluarga Wijaya.


Sesampainya di kantor, wajah Nathan masih saja masam. Bahkan ia tidak menanggapi sapaan dari karyawan yang lain bahkan saat itu juga Nathan bisa mendengar bahwa Nathan sudah sombong sebab bisa menikahi direktur. 


"Pak, bagaimana dengan Bu direktur? Apakah sudah ada kabarnya?"  Dila juga terlihat sangat panik saat mendengar bahwa Bia hilang.


"Belum," desah Nathan.


"Mengapa tidak segera lapor polisi, Pak?" 


"Kamu kira saya bodoh? Tanpa saya lapor, pihak cafe telah melaporkan kasus ini tetapi saya melarang mengekspos ke media. Kamu tahu sendiri kan banyak orang yang sedang mengincar perusahaan ini 'kan?"


Dila mengangguk mengerti lalu mengingatkan Nathan akan ada rapat dengan para para petinggi pemegang saham terbesar.


Di dalam kamar Bia hanya meringkuk merenungi nasibnya. Harusnya ia menghabiskan waktu bersama dengan Nathan dan Aura, tidak di tempat seperti ini.


Bia menangis sejadi jadinya saat mengingat bahwa Anyer lah dalang penculikan ini dan luka lama itu kembali ternganga lagi. Dimana Bia melihat dengan jelas Anyer yang saat itu adalah suaminya tengah bermain gila dengan seorang ******.


Bia menghempas semua yang ada di meja. Saat ini dirinya benar benar frustasi. 


Kamar  memang sengaja diberi CCTV oleh Anyer untuk mengetahui gerak gerik Bia. Anyer masih memantau Bia, meskipun dalam hatinya seperti teriris namun dirinya harus kuat untuk bisa mengembalikan apa yang seharusnya menjadi miliknya.


"Bia… Bia…" gumam Anyer dengan tatapan kosong pada layar monitornya.


Anyer segera mematikan layar monitor dan meninggalkan ruangan tersebut. Anyer tidak bisa keluar dengan bebas. Dirinya harus menutup wajahnya agar tidak ada yang mengenali dirinya, termasuk keluarganya sendiri.


Anyer sengaja berhenti di sebuah restoran untuk membeli makanan untuk Bia. Sebenarnya bisa saja ia memesan, tetapi entah mengapa kali ini ia ingin mendatangi lokasi dimana hilangnya Bia sambil mendengar gosip yang beredar.


Saat hendak masuk ke restoran tersebut, tak sengaja mata Anyer melihat sosok yang sangat tidak asing lagi dengan penampilan yang berbeda dari dahulu.


"Bener gak sih berita bahwa Bianca Wijaya di culik di restoran ini?"


"Maksud kamu, Bianca mantan istri Anyer?" tanya Mela heran.


"Yah… Mentang mentang sekarang udah nikah udah jadi orang rumahan gak tahu berita terupdate?" cibir teman Mela.

__ADS_1


"Bukan gitu juga kali. Aku tuh jadi merasa sangat bersalah banget sama Bianca. Gara gara aku, mereka cerai. Eh… Bukan kok. Salah in emaknya Anyer aja. Masa dia rela bayar aku mahal demi membuat anaknya pisah sama istrinya. Kan emak gila tuh."


"Jadi kamu pernah tidur sama Anyer dong?"


Mela hanya mengangguk. "Iya dong. Bahkan kalau diingat ingat jadi jijik sendiri aku." Mela terkekeh geli.


Siapa yang menyangka bahwa Anyer dengan jelas mendengar pengakuan Mela. Dan apa…? Semua ini adalah ulah dari sang mama? Ada apa ini mengapa dirinya sama sekali tidak tahu apa apa soal ini? Apakah dirinya sengaja di jebak oleh mamanya?


"Ya sudahlah. Jangan diingat ingat lagi. Aku tahu kamu sudah insaf sekarang."


"Iya sih. Tetep aja aku kasian. Apalagi dia baru aja nikah beberapa hari yang lalu. Gak tau gimana nasibnya sekarang." 


Anyer semakin mengepalkan tangannya. Mengapa baru detik ini ia mengetahui sebuah kebenaran dan yang paling membuat Anyer murka adalah saat Mela mengatakan bahwa saat pertemuan pertamanya memang sudah direncanakan, hingga Anyer terpengaruh obat perangsang.


Detik ini juga Anyer ingin menghajar Mela namun, belum sempat ia beranjak Mela sudah masuk ke dalam mobil.


Ingatan Anyer berputar pada Bia yang masih dikurung di dalam kamar apartemennya. Tanpa pikir panjang Anyer segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi agar segera sampai di apartemennya.


Anyer bahkan tidak sabar menunggu lift yang dianggapnya terlalu lambat dalam berjalan. Anyer harus segera memberi tahu semua kebenaran itu pada Bia.


Saat Anyer membuka pintu kamar, alangkah terkejutnya Anyer mendapati Bia sudah tergeletak di lantai dengan pergelangan tangan berlumur cairan darah segar.


"Bia bangun." Anyer benar benar sangat panik. Mengapa seorang Bia yang mempunyai jiwa kepemimpinan sampai melakukan hal seperti ini.


Anyer segera membopong tubuh Bia. Tujuannya saat ini adalah rumah sakit.


"Bi.. Bertahanlah. Aku akan jelaskan semuanya. Aku mohon Bi, maafkan ku."


Anyer tidak akan pernah bisa memaafkan kebodohan jika terjadi sesuatu dengan Bia. Meskipun niat awal kembalinya dirinya hanya akan menuntut balas dendam atas apa yang telah terjadi pada dirinya. Namun sebenarnya Anyer bukanlah orang jahat. Ia tetap tidak tega melihat Bia kedinginan di dalam gudang hingga akhirnya memilih menyekapnya di dalam kamar apartemennya.


Saat ini Bia tengah mendapatkan perawatan. Beruntung saja Anyer segera membawa Bia ke rumah sakit jika tidak, kemungkinan Bia tidak akan terselamatkan akibat pendarahan yang dialami Bia.


Anyer sangat tidak tenang hingga ia terpaksa harus mengabari Rafa tentang kejadian ini. Bukanya mendapat simpati, Rafa malah menyalahkan Anyer yang sudah kelewat batas.


"Raf, aku menyuruhmu kesini untuk menenangkan ku, bukan untuk menyudutkan ku!" gerutu Anyer.


"Tetapi memang begitu kenyataan. Kamu sudah keterlaluan, Anyer. Bukan begitu cara menyelesaikan masalah," tegur Rafa.

__ADS_1


Anyer melotot menatap Rafa dengan tajam. "Kenapa? Keberatan? Ingat sekarang kamu bukan bos ku dan aku bukan asisten pribadi mu. Disini kita hanya teman. Bukan begitu?" Kali Rafa sudah berani menentang Anyer. Dan… Memang benarkan kalau Rafa bukan lagi ajudan Anyer?


__ADS_2