
Tidak terasa besok adalah hari pernikahan adila dan bagas yang akan di laksanakan di salah satu hotel bintang lima di kota ini,
Malam ini adila sekeluarga sudah berada di hotel tempat acara di gelar, Sementara keluarga bagas menginap di hotel yang tak jauh dari hotel tempat adila menginap.
Semalam mereka tidur sangat larut karna banyak hal yang harus mereka persiapkan, Setelah sholat subuh adila beserta keluarga bersiap untuk di poles lebih cantik oleh para MUA profesional, Kurang lebih tiga jam adila di poles, adila sangat cantik dengan kebaya putih panjang lengkap dengan sanggul solo putri dan paes yang terukir indah,
Pagi ini akad di dominasi adat jawa yang cukup kental, semua keluarga menggunakan pakaian adat jawa, tak terkecuali si cantik queena yang menggunakan kebaya versi mini, rambut di ikat dengan poni yg menutupi dahinya.
"Ululululuuuuu, ponakan anty cantik bangeeettt." adila mencubit pipi queena gemas. "Momy bilang aku memang vely beautiful anty, milip momy." Ucap queena.
"Oh ya? jadi queena gak mirip dady ya?" goda adila. "Queena milip dady, tapi hidungnya sajah."queena memegang hidungnya yang memang sangat mancung persis dady nya.
"Iya deeehhhh hidung anty gak mancung kayak queena, tpi anty cantyk kayak queena kan?" adila menyimpan kedua tangannya persis seperti anggota girlband.
"Anty milip plincess, tapi plincess nya pake sanggul."ucap queena dengan polosnya.
Orang orang seisi ruangan pun sontak tertawa melihat tingkah lucu queena.
"dil, ayo turun, akad akan segera di mulai." Ucap mami saat memasuki kamar adila.
Adila tampak sangat tegang, terlihat beberapa kali menarik nafas panjang dan menghembuskan nya.
Acara di mulai dengan akad kemudian di lanjutkan dengan upacara panggih dan lain lain, Setelah acara akad selesai, malam harinya di lanjutkan dengan acara resepsi dengan mengusung konsep internasional, Adila menggunakan gaun berwarna nude dengan rambut di sanggul sederhana serta di hiasi mahkota cantik dan elegan, sementara bagas menggunakan kemeja dengan warna senada.
***
Setelah acara selesai seluruh keluarga inti kembali ke kamar hotel masing2, tidak terkecuali adila dan bagas, ada kamar khusus untuk mereka berdua,
Melihat kamar bertaburan kelopak bunga, disertai lilin2 aroma terapi, membuat adila merinding, jika orang lain memimpikan malam ini, maka adila justru ingin lari dari malam ini, jika orang lain berdebar karna gugup, maka adila berdebar karena takut,
__ADS_1
Ohhhh tuhaaaannn, bolehkah aku menghilang malam ini, aku tidak bisa tidur berdua dengan laki2 ini." Adila berbicara dalam hati sembari memandang punggung bagas yang tengah membuka jasnya.
Saat bagas akan membuka kemejanya barulah adila sadar dan membalikan tubuhnya membelakangi bagas.
"Yang benar saja dia buka baju di sini, apa dia tidak tau pintu kamar mandi." rutuk adila dalam hati.
"Kamu kenapa balik badan?" Suara bagas membuyarkan segala fikiran buruknya.
"E..enggak apa2." jawab adila singkat.
Setelah itu tidak ada lagi suara dari arah bagas.
Adila membalikan badan saat dirasa tidak ada tanda2 kehidupan di belakang nya, benar saja bagas sudah masuk ke kamar mandi.
"Huuuuuufffftttttt." adila menghembuskan nafasnya.
"Ya tuhan boleh gak sih aku bikin perjanjian nikah, kalau belum cinta jangan di apa2in dulu, ahhh tapi ini terlalu konyol." adila masih berkelana dengan segala macam fikiran2 nya.
"Mandi dulu, ada yang harus kita bicarakan." ucap bagas tanpa ekspresi.
"Oke, baiklah." adila bangun dari duduknya menuju kamar mandi.
"Di lihat dari ekspresi nya sepertinya dia biasa aja, gak ada tanda2 "sesuatu", kebayang kalau aku hamil dan masih kuliah, aku masih terlalu muda, aku masih pengen kuliah, dan aku belum cinta sama dia." adila memejamkan mata saat berendam di bathtub.
Setengah jam kemudian, adila keluar dari kamar mandi, di lihatnya bagas tengah berbaring sembari memainkan ponselnya, bagas melirik ke arah adila, kemudian bagas bangun dari tidurnya.
"Duduk di sini." bagas menepuk kasur di sampingnya.
Adila hanya menuruti saja kemudian duduk di samping bagas saling berhadapan.
__ADS_1
Gugup, tegang dan takut, itulah yang adila rasakan saat ini.
"Boleh aku bertanya sesuatu." tanya bagas.
Adila hanya mengangguk tanda setuju.
"Apa kamu menginginkan pernikahan ini?" bagas bertanya dengan ekspresi yang sulit di tebak.
Sontak adila mengangkat pandangannya, menatap mata bagas.
"Maksudnya.?" adila bukan tidak mengerti dengan pertanyaan bagas, hanya saja perlu penjelasan lebih.
"Apakah kamu ikhlas dengan pernikahan ini? apakah kamu menikah karena terpaksa, apakah kamu ada perasaan untuk saya?" bagas mengulang pertanyaan dan lebih banyak.
Adila menelan salivanya, bingung harus menjawab apa, meskipun adila tau jawabannya adalah iya dan tidak.
"Hmmm, boleh aku jawab sejujur mungkin?" tanya adila ragu.
"Tentu saja, bukankah pernikahan harus di landasi kejujuran dan keterbukaan! Saya menginginkan jawaban sejujur mungkin dari kamu" Jawab bagas.
.
.
.
.
.
__ADS_1
Hai teman-teman, terus dukung aku yang masih belajar ini, jangan lupa like dan komentar nya, terima kasih. ☺️