Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Keluar Kota


__ADS_3

"Ah lupakan saja." Anyer mengurungkan niatnya. 


Bia mengangguk pelan. "Baikah. Oh ya Mas…" Bia menjeda ucapannya. Sungguh ia merasa risih dengan ucapnya sendiri. Menyebut Anyer dengan sebutan Mas. "Besok aku harus keluar kota." lanjut Bia.


"Lalu?" tanya Anyer.


Bia mengerutkan alisnya. Bibirnya pun juga  manyun, sungguh Bia menyesal telah mengatakan suatau hal yang tidak penting. Padahal ia berharap Anyer berbasa basi untuk menanyakan lebih dalam lagi namun ternyata hanya harapannya tak sesuai angannya.


"Mungkin aku akan di luar kota selama dua hari."


"Nathan ikut?" tanya Anyer lagi.


Bia mrngangguk. "Iya dia ikut," jawabnya singkat.


"Mengapa Nathan harus selalu nempel? Heran!" ketus Anyer.


Perasaannya kesal sebab, meskipun Anyer yang berstatus sebagai suami Bia namun Nathan lah yang paling menghabiskan waktu bersama Bia. Sungguh ini tidak adil.


"Karena dia asisten pribadi sekaligus ajudanku," ujar Bia.


Entah mengapa dada Anyer terasa seperti sedang terbakar. Anyer hanya mampu mengeratkan giginya. Jika tidak mengingat pekerjaan di kantor Anyer sudah pasti akan ikut bersama Bia namun, pekerjaan kantor juga lebih penting.


.


.


.


Pagi ini Bia sudah rapi dengan baju kerjanya. Meskipun akan keluar kota Bia sama sekali tidak mempersiapkan pakaian ganti. Ia hanya membawa alat make up yang tidak seberapa.


"Sudah siap?" tanya Anyer heran. Pasalnya ia baru saja bangun dan Bia sudah terlihat rapi.


"Iya. Karena kami mengambil penerbangan paling awal." Bia.


"Bi…" Bia mendekat. Bia yang sedang bercermin melihat gerakan Anyer mendekati dirinya. Kini Anyer sudah berdiri di belakang Bia hanya berjarak satu satu jengkal. Dada Bia kembali bergetar saat merasakan hembusan nafas dari Anyer. 


Tiba tiba tangan Anyer melingkar di pinggang Bia lalu kepalanya menyandar pada bahu Bia. "Jangan pergi ya!" lirih Anyer.

__ADS_1


Bia membeku. Kepala langsung ngeblenk saat ini juga. Sensasi getaran kupu kupu menjalar di tubuhnya membuat Bia merasa seperti sedang mual.


"Kamu kenapa? Sakit?" heran Bia.


Tak menjawab, Anyer semakin mengeratkan lingkaran tangannya membuat Bia semakin merasa mual yang hebat.


"Anyer! Kamu kenapa sih?" 


Tiba tiba saja Anyer membalikkan tubuh Bia. Kini keduanya saling berhadapan keduanya bisa saling  merasakan hembusan nafas. 


"Kamu mau apa?" tanya Bia gugup.


"Sepertinya kamu harus selalu diingatkan untuk menyebut suamimu ini ya." Wajah Anyer kian mendekat. Bia memejamkan mata sambil menggigit bibir bawahnya.


Satu centi lagi bibir mereka menyatu namun, mendadak ponsel Bia berdering membuat Anyer menghentikan gerakannya. Bia segera membuka mata dan mendorong pelan tubuh Anyer.


"Awas." Bia merutuki nasibnya.


Ponsel berdering disaat tidak tepat. Ini sudah keberapa kalinya keduanya harus menelan kegagalan dengan rasa kekecewaan.


"Nathan," gumam Bia saat melihat siapa sosok yang meneleponnya.


"Emm… Mas. Sepertinya aku harus segera berangkat. Nathan sudah menunggu di bawah." ujar Bia.


Anyer masih terpaku. Lagi lagi Nathan. Sudah kesekian kali Nathan selalu menggagalkan kegiatan untuk menyentuh Bia. Awas kau Nathan! Anyer mengepalkan telapak tangannya.


"Bi… Tunggu!" 


Bia menoleh. Anyer segera menghambur memeluk tubuh Bia. Kali ini Bia kembali membeku. Ini adalah kali pertama Anyer memeluk tubuhnya selama pernikahan ini.


"Jangan lama lama! Karena kita harus segera mengabulkan permintaan Oma," lirih Anyer.


Bia terbelalak. "Dasar mesum."


"Siapa yang mesum. Memang sudah semestinya kan. Aku akan menunggu kamu!"


Anyer segera melepaskan pelukannya. Ia menatap Bia sendu. Sungguh perasaannya sangat tidak rela melepaskan Bia untuk keluar kota. Padahal selama ini dia tidak peduli tentang Bia mau kemana dan dimana.

__ADS_1


"Ya sudah aku berangkat ya! Baik baik kamu di rumah! Sana mandi, bau acem," ledek Bia.


Anyer menyunggingkan senyumnya mendengar penuturan Bia.


Sebelum Bia benar benar keluar dari kamar, Anyer segera mengecup kening Bia.


"Hati hati ya," ucapnya.


Ah, Bia sungguh sangat terharu. Seperti inikah rasanya diperhatikan oleh seorang suami? Kalau saja sejak awal seperti ini Bia yakin akan terus berusaha mencintai sosok Anyer.


.


.


.


Nathan dan Bia duduk di kusri penumpang sebab keduanya diantar oleh pak Dadang, sopir Bia.


"Bu, melihat kasusnya sepertinya kita akan ada kendala di sana! Saya tidak bisa menjamin jika akan siap dalam waktu dua hari saja," ujat Nathan.


"Kok bisa begitu?" Bia merasa terkejut.


Apakah terlalu serius kasus proyeknya hingga harus memerlukan beberapa waktu.


"Saya belum menyelidiki lebih lanjut Bu. Sebab manager Lie baru saja memberi kabar."


Bia menghembuskan nafas kasarnya. Ia hanya memandang keluar jendela. Pikiran merasa tidak tenang melihat kelakuan Anyer pagi ini. Bia menarik kedua simpulnya saat mengingat kejadian pagi ini. Refleks ia mengusap keningnya kembali.


.


.


Haii haii selamat pagi... Jangan lupa tap like dan komen!! tabur bunga dan Vote 🙏🏻🙏🏻


Oh iya ini othor kasih rekomen dari sahabat othor yang keren. Novel yang lebih seru! Mampir ya, tinggalkan jejak disana!


__ADS_1




__ADS_2