Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Bab 28


__ADS_3

Hari pun semakin larut, suasana duka pun telah sepi. Hanya tinggal tuan rumah dan para pelayanan yang tersisa. Mata Bia terasa bengkak, kepalanya pun berdenyut. 


"Nyonya, anda belum makan. Mari saya antar anda makan." bujuk Lia.


Masih dengan dada naik turun menahan isaknya, Bia menggeleng pelan.


"Tidak Mbak. Aku ingin istirahat saja," ujar Bia.


Sedikit pun Bia tak merasakan lapar. Saat ini dirinya hanya ingin menyendiri. Ia menaiki pelan anak tangga. Tujuannya adalah ke kamar ingin segera merebahkan tubuhnya di ranjang. 


Saat Bia membuka pintu kamar, matanya tertuju kepada Anyer yang sudah terkapar di kasur miliknya. Ia segera menghampiri. Ingin rasanya ia menyeret lelaki itu yang sudah seenaknya tidur diatas ranjang miliknya. Sementara sewaktu di rumah milik Anyer, sama sekali Bia tak di izinkan untuk tidur diatas tempat tidur. Ia hanya tidur di sofa.


Namun, saat ia ingin membangunkan Anyer ia tidak tega. Wajah lelahnya membuat Bia mengurungkan niatnya, meredakan emosinya.


"Huhh…." 


Bia malah mengambil selimut untuk menutupi tubuh Anyer. Meski dalam hatinya ia merasa kesal namun dalam hatinya ia tidaklah tega.


Mengambil posisi di sebelah Anyer, Bia memiringkan tubuhnya membelakangi Anyer.


Suasana hatinya masih sedih. Bahkan untuk untuk membangunkan Anyer pun ia enggan. Lama mata Bia tak bisa terpejam. Semua kenangan tentang dirinya dan ayahnya terlintas kembali. Sungguh bagaikan sebuah mimpi buruk saja. Walaupun ia berharap esok saat ia terbangun ia akan menemukan Wijaya di meja makan yang sedang menunggu dirinya.


🌺   🌺    🌺


Anyer meregangkan otot ototnya. Ia merasa tidur terlalu nyenyak hingga tak bangun tengah malam untuk minum.


Saat menoleh kesamping ia merasa sangat terkejut karena sosok Bia juga tengah tidur terlelap. Anyer ingin marah kepada Bia. Beraninya ia tidur di tempat tidur yang sama dengannya. Namun, hal itu ia urungkan kala ia tersadar sedang berada di kamar siapa.


"Sialan," umpatnya pelan.


Anyer pun segera turun dari ranjang. Ia menuruni anak tangga. Disana terlihat hidangan sudah siap di atas meja dan beberapa asisten rumah tangga membersihkan rumah.

__ADS_1


"Tuan, Tuan mau kemana?" Lia yang menyadari sosok Anyer segera menyapa.


"Saya mau ke kantor," ujar Anyer.


Lia sedikit menahan tawanya. "Dengan pakaian seperti ini?"


Anyer segera mengamati dirinya. Bahkan ia juga melupakan bahwa ia baru saja bangun tidur dan belum berganti pakaian apalagi mandi.


"Terserah saya." Agung menahan rasa malunya.


"Jika anda ingin ke kantor saya akan siapkan pakaian anda. Kebetulan sebelum pergi mendiang telah menyiapkan keperluan anda disini." jelas Lia.


Anyer tak percaya jika Wijaya akan melakukan hal seperti ini kepada dirinya. Andai saja mendiang mertuanya tahu jika Anyer hanya terpaksa menikahi anaknya pasti ia akan hancur. Namun itu sudah terlambat, kini Wijaya telah tenang di alam sana.


"Tuan," panggil Lia.


Anyer tersentak. Sedari tadi Anyer hanya memperhatikan Lia. Jika di lihat lihat wajah Lia hampir mirip dengan Lisa, kekasihnya.


"Mari ikut saya." Lia mengajak Anyer menuju salah satu kamar di rumah itu.


"Ini adalah ruangan khusus yang telah mendiang siapkan untuk anda. Semua keperluan anda ada di dalamnya. Bahkan Nyonya Bia saja tidak mengetahui akan hal ini. Silahkan jika Tuan ingin melihatnya. Saya permisi." undur Lia.


Anyer masih tak percaya. Dengan rasa penasaran Anyer membuka kamar tersebut. Anyer merasa takjub saat membuka salah satu pintu lemari. 


Ia masih tak menyangka bahwa Wijaya akan menyiapkan semua ini untuk dirinya. Bahkan papanya sendiri tak pernah mau tahu tentang dirinya, apalagi tentang kebutuhannya. Tapi… Wijaya yang sama sekali belum Anyer kenal lebih jauh sudah memberikan yang tak pernah ia dapatkan dari keluarga, meski sesungguhnya ia bisa membelinya sendiri.


Tak ingin menyia nyiakan waktu yang tersisa, Anyer segera membersihkan dirinya.


"Tuan, anda tidak sarapan?" Kini Lia mengagetkan Anyer kal ingin membuka pintu luar.


"Saya belum lapar. Katakan pada… " Anyer menjeda ucapannya.

__ADS_1


"Katakan pada Bianca, saya sudah berangkat ke kantor lebih awal. Katakan kepadanya, jangan memaksakan diri untuk ke kantor!" pesan Anyer sebelum pergi.


Lia mengangguk. "Baik Tuan."


Sepeninggal Anyer, Bia pun terlihat menuruni anak tangga. Ekor matanya berkeliaran mencari sosok Anyer.


Saat ia terbang ia sudah tidak menemukan lelaki yang berstatus suaminya itu.


Melihat ke meja makan pun masih utuh. kemana dia. 


"Mbak Lia…" terik Bia.


Lia yang mendengar segera menghampiri Bia. "Iya nyonya, ada apa?"


Bia sedikit canggung ingin menanyakan sosok Anyer kepada Lia.


"Anu…" Bia menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Mbak Lia melihat… Anyer?" Bia melemahkan suaranya.


Saat mendengar Lia ingin tertawa. "Tuan Anyer baru saja berangkat ke kantor, Nyonya."


Bia mengernyit. Ternyata pernikahan ini tak berarti sedikitpun dimata Anyer. Wajah Bia terlihat murung kembali.


"Tadi sebelum Tuan Anyer berangkat, beliau mengatakan jika anda tidak boleh pergi ke kantor dulu." Lanjut Lia.


Bia menaikkan kedua alisnya. Serius?Apa ini yang dikatakan sebuah pengertian?


Bia mengembangkan senyumnya. Ia berharap Anyer tidak mempermainkan pernikahan mereka.


Like… like… Like

__ADS_1


Guys aku kasih rekomen novel yang gak kalah seru dari cerita ini judulnya SOLD karya R.ANGEL



__ADS_2