Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Bab 22


__ADS_3

Atas rekomendasi Nathan, akhirnya Bia mendatangi salah satu rumah sakit terbesar untuk menemui dokter syaraf yang terbaik.


Mendengar berita dari Bia tentang kondisi Wijaya, Nathan merasa sangat iba.


"Oh ya, Bu Dir. Siang tadi saya berhasil mendapatkan tanda tangan kontrak kerja bersama dengan perusahaan Tuan Anyer. Tapi kami juga menggandeng salah satu perusahaan ternama juga. Untuk itu, saya mohon maaf atas kelancangan saya. Sebenarnya siang tadi saya sudah berusaha untuk menelepon anda tapi, ponsel anda tidak bisa di hubungi." Nathan memberi penjelasan.


Bia menatap Nathan tajam. Bagaimana mungkin Anyer menandatangani kontrak kerja jika sing tadi dirinya dan Anyer...


"Kamu jangan asal bicara ya, Nath!! Saya memang berharap bisa berkerja sama dengan perusahaan tersebut tapi saya tidak percaya kalau Anyer menandatangani kontrak kerja dengan kita." 


l


Yang Anyer tanda tangani itu surat nikah, Nath!!  Hati Bia menjerit.


"Tapi ini benar, Bu. Asisten pribadi Tuan Anyer yang menyerahkan tanda tangan kontrak tersebut." Nathan ngotot dengan kebenarannya.


Bia hanya menggeleng. "Tidak mungkin," lirih Bia.


🌺      🌺      🌺


Pukul delapan malam, Nathan dan Bia baru bisa bertemu dengan dokter Eldo. Dokter terbaik untuk spesialis saraf.


Beruntunglah Bia dan Nathan langsung bertemu dengan dokter Eldo mengingat jadwal praktek yang terbatas.


"Dok saya minta tolong segera tangani papa saya." Bia penuh memohon setelah menceritakan kondisi ayahnya.


Dokter Eldo menarik nafas. "Baiklah. Saya akan usahan lusa. Sebab untuk besok saya masih mempunyai pasien."


Meski tak sesuai harapan Bia namun, ia merasa lega meski harus menunggu dua hari lagi.


Setelah urusan dengan dokter Eldo siap, Bia dan Nathan memutuskan untuk pulang.


Bia memijit tengkuknya yang teras pegal. Badannya sudah merasa lelah membuatnya memejamkan mata sejenak.

__ADS_1


"Bu Dir. Sudah sampai."


Bia mengerjap. Perasaan baru saja ia memejamkan mata, kini tahu tahu sudah sampai.


"Lho, kok ke sini." Bia kaget bukan main. Ia sampai melupakan ucapan Anyer tadi siang.


Nathan mengernyit heran. Tidak ada yang salah. Dan benar… Ini adalah rumah Bia, tapi mengapa Bia merasa terkejut. 


Apa sedang bermimpi? Batin Nathan.


"Ini sudah benar, Bu. Ini memang rumah Bu Dir." Nathan meyakinkan.


Bia menggeleng. Segera mengecek ponselnya mencari kontak yang ingin ia hubungani.


"Ah, sial," umpat Bia.


Nathan merasa lebih heran lagi dengan tingkah Bia yang terlihat khawatir.


"Ada apa Bu Dir? Apa Bu Dir ingin ke rumah sakit?" 


"Nath!" panggil Bia.


"Iya, Bu," sahut Nathan.


Diam sejenak, Bia merasa canggung untuk menanyakan kepada Nathan.


"Cari tahu nomer telepon Anyer sekarang!" titah Bia dengan ketus.


"Untuk apa Bu? Jika ada masalah, serahkan kepada saya."


Lagi lagi Bia ingin mengumpat.


"Tinggal kerjaan apa susahnya!!" 

__ADS_1


"Tapi… Bagaimana caranya saya mendapatkan nomer tuan Anyer." 


"Pikir sendiri caranya!!" ketus Bia.


Nathan membuang nafas beratnya. Dari mana ia bisa mendapatkan nomer Anyer sekarang juga.


Mengambil ponsel, Nathan mengecek ponselnya. Saat ini ia harus berpikir dengan cepat mengingat waktu sudah menunjukkan pukul sembilan malam sedangkan Bia tak mau keluar dari dalam mobil.


🌺      🌺      🌺


Sudah tiga jam semenjak kepulangan Anyer, lelaki itu sama sekali tak kepikiran dengan Bia. Entah karena lupa atau tidak peduli.


Begitu juga dengan Siska, perempuan itu sama sekali tidak peduli. Ada ataupun tidak sosok Bia di dalam rumahnya.


Hanya Oma Risa yang menunggu kedatangan Bia. Bahkan Oma sendiri tidak mengetahui bahwa Anyer sudah lama pulang.


Mungkin Bia dan Anyer sedang mengemasi perlengkapan Bia untuk dibawa pindah. Pikir Oma.


Oma mondar mandir di ruang tamu hingga waktu menunjukkan pukul 20.30. 


Aryo yang baru saja pulang kerja karena sempat lembur merasa heran. Tak biasanya sang ibu menunggu dirinya pulang kerja.


"Ibu kenapa belum tidur? Tumben Ibu nungguin Aryo." lelaki itu pun menyalami ibunya.


"Kamu tidak usah besar kepala. Buat apa ibu nungguin kamu, toh ada istri kamu! Ibu lagi menunggu kedatangan Anyer dan Bia." Oma terlihat cemas.


Aryo mengernyit. "Memang mereka kemana, Bu?" Aryo berjalan menuju meja makan.


"Kamu ini bagaimana sih? Anyer dan Bia sejak mereka menikah tadi siang belum pulang sampai sekarang," ujar Oma.


"Ooo, pantas saja anak itu cepat pulang dari kantor. Ternyata lagi berdua sama istrinya. Kemarin kemarin nolak, nah…. Sekarang baru sah udah…"


"Udah apa Pah?" suara Anyer menyahut dari arah belakang.

__ADS_1


 


__ADS_2