
"Lisa," gumam Bia.
Seketika Lisa menoleh kearah tangga. Tatapannya terpaku pada sosok Bia yang tengah menatap dirinya. Ternyata Bia yang di maksud Anyer kemarin adalah Bianca orang yang pernah bertemu dengannya saat itu.
Memori ingatan Bia berputar pada beberapa bulan yang lalu. Lisa menggeleng tidak percaya.
"Bi… Bianca."
.
.
.
.
Nathan dan Bia masih sama sama terdiam setelah menyantap sarapan. Begitu juga dengan Lia dan Lisa.
Pagi ini Lia mengenalkan adiknya yang ternyata masih hidup dengan keadaan yang menyediakan. Lisa yang berbadan dua ditinggalkan oleh kekasihnya.
"Katakan dengan jujur, apakah benih dalam perut itu ada benih milik Anyer?" Bia berusaha mengawali pembicaraan.
Lisa segera menggeleng. "Tidak… Bayi ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan Anyer. Bayi ini benih Rico." Lisa menunduk sangat malu. Tetapi itulah kenyataan yang ada.
"Jadi dimana Rico?" sambung Nathan.
Lisa dengan berurai air mata menjelaskan semuanya tentang hubungannya yang tidak mendapatkan restu dari orang tua Rico.
Sedangkan Lia yang mendengar penuturan sang adik hanya bisa kecewa. Lia benar benar kecewa saat Lisa tidak bisa menjaga harga diri seorang wanita.
Lia turut malu akan perbuatan yang dilakukan oleh Lisa. Apalagi Lia baru mengetahui fakta bahwa Lisa adalah mantan kekasih Anyer, suami Bia.
Nathan dan Bia sudah sampai di kantor. Setelah dua hari menunda meeting, kini pagi ini Bia harus memimpin jalannya rapat kembali. Banyak masalah yang harus dipecahkan secepatnya, agar tak ada celah untuk seorang penyusup ataupun penengadah dana proyek.
Setelah meeting selesai Bia meminta Nathan mencari siapa saja yang memegang dana proyek agar mempercepat proses hukum secepatnya.
"Bi, sebaiknya kita makan siang dulu. Sudah pukul 2 siang." Nathan mengingatkan Bia agar menghentikan pekerjaan sesaat.
"Nanggung, Nath." Bia masih mengetik, mengabaikan ajakan Nathan. Yang ada dalam pikiran Bia saat ini adalah segera menangkap seseorang yang sudah meresahkan perusahaannya.
"Ya sudah saya delivery saja. Anda ingin apa?" tanya Nathan.
Setelah menyebutkan pesanan, Bia kembali fokus pada layar laptopnya. Nathan yang duduk di sofa sambil mengamati wajah ayu Bia hanya bisa terkagum saja. Dalam hati mengapa dulu Bia bisa menikah dengan Anyer?
Tak membutuhkan waktu lama OB datang membawa pesanan tersebut.
"Bu dir makan dulu!"
Bia mendongak, lalu menutup laptopnya.
Ia tersenyum menatap Nathan yang sudah mempersiapkan makan siangnya di atas meja sofanya.
__ADS_1
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Beberapa hari kemudian...
Di dalam sebuah kamar Anyer mengurung dirinya sendiri. Sudah beberapa hari memilih berada di kamarnya. Pekerjaan kantor Rafa yang menghandle.
Pria itu terlihat kacau dengan penampilan yang amburadul. Rambutnya kusut, kantung mata yang terlihat lebih jelas serta wajah tampannya terlihat sangat kusam.
Anyer terlihat menyediakan sekali.
"Astaga, Bos." Dengan cepat Rafa berlari mendekat Anyer. "Apa yang terjadi?" lanjunya.
Rafa tidak menyangka bahwa masalah penggugatan Bia akan berakhir seperti ini.
Ya, Anyer sudah di gugat cerai oleh Bia.
Dan lusa adalah jadwal sidang mereka.
Rafa turut prihatin terhadap masalah ini. Dan sejauh ini Rafa sendiri belum tahu apa penyebabnya.
Keluarga besar Anyer juga sudah mendengar kabar perceraian antara Bia dan Anyer. Salah satu orang yang terpuruk dan langsung drop kondisinya adalah sang oma. Bahkan oma sempat dilarikan ke rumah sakit akibat tekanan darah tingginya naik.
"Tuan," panggil Rafa. "Kondisi oma semakin memburuk. Beliau memanggil Tuan dan juga Nyonya Bia," terang Rafa.
Saat itu juga Anyer segera mendongak mendengar tentang keadaan sang Oma. Biar bagaimana Oma adalah satu satunya orang yang menyayangi dirinya sejak kecil.
"Oma," lirih Anyer.
Tak butuh waktu lama, Anyer sudah tiba di rumah sakit. Saat tiba di sebuah ruangan tubuh Anyer lemas saat melihat sang Oma dengan berbagi alat bantu pernafasan untuk tetap bertahan hidup.
Air matanya meleleh. "Oma."
Anyer memegang tangan Oma. Berharap ia bisa segera sadar dan pulih lagi. Jika Oma sampai pergi selama, Anyer akan merasa sangat bersalah karena belum sempat meminta maaf dan Anyer belum mendapatkan tanda tangan Oma untuk pengalihan pulau Kodomo yang telah dijanjikan oleh Omanya.
__ADS_1
"Oma, Anyer datang."
"Oma cepat sadar, agar kita bisa mengunjungi pulau Kodomo lagi."
Anyer benar benar tidak bisa membendung rasa bersalahnya Sementara itu di luar sana seseorang menyunggingkan senyumnya melihat keadaan Anyer yang memprihatinkan.
.
.
.
.
"Bi, bagaimana persiapan untuk lusa?" Nathan dan Bia kini sudah menaiki mobil hendak pulang.
Sesaat tubuh Bia membeku. Tekadnya untuk segera berpisah dengan Anyer sudah bulat.
"Aku sudah menyiapkan dengan matang," ujar Bia.
"Baguslah."
Mobil melesat meninggalnya kantor. Jalanan yang sedikit padat karena memang jam pulang kerja pun sedikit macet. Nathan beberapa kali harus mengerem mobilnya agar tidak kebablasan.
Saat mobil Nathan berhenti tak sengaja ada sebuah mobil di sampingnya yang melihat bahwa yang berada di samping Nathan adalah Bia.
Benar kali ini bukan halusinasinya saja. Ini nyata. Tak ingin kehilangan jejak, Anyer segera mengikuti mobil Nathan yang ternyata menuju ke rumah besar Bia.
Anyer sangat merasa kesal. Ternyata Nathan sudah membohongi dirinya dan ikut andil dalam menyembunyikan Bia darinya.
"Kurang ajar!" umpat Anyer seraya membanting stir mobilnya.
Mobil Anyer pun ikut masuk ke dalam halaman rumah Bia. Ia ingin memastikan apakah Bia hanya sedang menghukumnya saja dengan cara menakuti dirinya untuk berpisah. Kali ini Anyer hanya ingin memastikan sendiri dengan jela.
"Bia."
Mata Bia menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya Bia dan Nathan saat melihat Anyer sudah berada di belakang mereka.
"Anyer."
.
.
.
🍃🍃 Bersambung 🍃🍃
Hayo mana Like dan komennya masa iya dari 196 rak favorit hanya 50 yang ngasih like????
Kan aku jadi sedih 😭😭
__ADS_1