Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Terulang Lagi


__ADS_3

Rencana masak Bia gagal total karena Nathan tidak mengijinkan Bia menyentuh dapurnya dan Nathan malah memilih Lisa untuk mengntar makanan yang di inginkan Bia. Mata Bia berbinar saat mendengar bahwa mbal Lia yang akab membawakan masakan. Sudah lama, semenjak Bia pindah Bi sudah tidak pernah merasakan masakan mbak Lia.


"Jadi bagimana apakah Anyer setuju bercerai?" tanya Nathan.


Bia menganggap kedua bahunya. Bahkan Anyer tidak mengakui jika memiliki hubungan terlarang dengan Mela. Mungkin setelah melihat hadiah darinya Anyer akan sadar jika dirinya memang bersalah dan mencari dirinya.


Bia sungguh berharap Anyer sibuk mencari keberadaannya dan menghubunginya. Namun nyatanya salah, Anyer sama sekali tidak menghubunginya.


"Aku tidak tahu. Bahkan setelah melihat bukti bukti itu Anyer sama sekali tidak peduli. Bahkan ia tidak mencariku. Aku sudah yakin untuk bercerai, Nath." Tatapan sendu Bia tak bisa di sembunyikan lagi. Saat ini Bia hanya ingin hidup tenang tanpa rasa sakit hati.


Nathan mengerti akan kerapuhan hati Bia. Ingin rasanya ia memeluk tubuh Bia menyalurkan kekuatannya namun Nathan tidak mempunyai nyali akan hal itu.


Ketukan pintu terdengar, Nathan sudah yakun jika itu adalah kedatangan Lia. Ternyata memang itu adalah Lia.


"Mbak Lia." Lia yang baru saja masuk segara mendapatkan pelukan dari Bia. "Aku kangen," rengek Bia.


"Kenapa tidak pulang saja ke rumah?" tanya Lia.


Bia yang awalnya berbinar kini berubah masam lagi.


Sementara itu mbak Lia menyiapkan masakan yang telah ia bawa ke mangkuk dan piring.


"Mas Nathan jangan telat makan dong. Udah tahu punya penyakit as lambung masih saja mengabaikan waktu makan."


Bia menoleh kearah Lia yang merasa Lia menaruh perhatian lebih kepada Nathan. Namun sayangnya Nathan tak pernah menyadari akan hal itu.


Nathan memilih duduk saja karena tubuhnya pun masih terasa lamas.


"Mbak Li, apakah Anyer ke rumah mencariku?" tanya Bia.


"Tidak ada."


Tuh kan, bahkan Anyer tidak ke rumah utama untuk mencarinya. Dasar Anyer brengsek.


"Hmm ... tapi ada sesuatu yang ingin saya katakan kepada anda Nyonya. Maafkan saya telah lancang membawa adik saya ke rumah utama. Sebenarnya saya tidak sengaja bertemu dengannya saat itu. " Jelas Lia.

__ADS_1


Bia sebenarnya tidak merasa keberatan jika membawa anggota keluarga ke rumahnya. Toh rumah itu besar dan sayang jika tidak di tempati.


"Tapi tenang saja Nyonya. Saya juga menyuruhnya mengerjakan pekerjaan rumah kok," lanjut Lia lagi.


Bia tersenyum kecil. "Gk apa apa kok Mbak. Lagian aku harusnya berterimakasih sama Mbak Lia yang masih mau tinggal di rumah itu dan merawatnya," pungkas Bia.


Lia sangat merasa bersyukur berada dalam keluarga Bia yang terlalu baik untuk dirinya. Lia sudah pernah berjanji akan selalu mengabdi pada keluarga Wijaya hingga akhir hayatnya kelak.


Setelah kepergian mbak Lia Nathan memilih kembali ke kamar. Badannya terasa panas lagi.


Bia mengikuti langkah Nathan yang sedikit terhuyung.


"Nath, kamu gak papa." Bia berhasil menangkap Nathan ketika tubuh Nathan hendak terjatuh.


"Gak tau, mendadak lemas badan ini."


"Ya ampun... panas sekali, Nath." Bia terkejut karena suhu badan Nathan yang tadi sudah mulai turun kini mendadak panas lagi. "Kamu sih ngeyel! Disuruh istirahat malah kelayapan ke dapur."


Bia membantu Nathan untuk berjalan hingga tempat tidurnya. Naas tubuh Bia tidak terlalu kuat untuk memapah Nathan hingga akhirnya Nathan terjatuh ke ranjang dan di ikuti oleh Bia yang menimpa tubuh Nathan lagi.


Bagaimana bisa untuk yang kedua kalinya Bia mencuri ciuman Nathan. Jangan sampai Nathan berpikir yang aneh aneh.


"Lupakan. Aku tidak sengaja tadi. Tubuhmu terlalu berat," lanjut Bia.


Nathan tersenyum kecil sambil menahan rasa sakit kepalanya. Dalam hati perasaan Nathan sangat berbunga. Meski hanya ketidak sengajaan namun itu adalah hal yang tidak pernah bisa terlupakan.


"Sudahlah, kamu disini jangan kemana mana! Aku akan mengambil makanan tadi."


.


.


.


"Anyer, percayalah! Bukan aku yang melakukan itu!" Mela terus membela diri dari tiduhan Anyer yang tidak benar. Memang dirinya menginginkan Anyer hancur tetapi ini belum saatnya. Mela yakin ada mata lain yng sedang mengintai mereka berdua.

__ADS_1


"Cukup! Aku tidak ingin mendengar ucapnmu! Sekarang kemasi barangmu dan pergi dari hadapanku!" teriak Anyer.


Langkah Anyer semakin tergesa saat ia mencoba menghubungi Bia berulang kali namun tidak ada jawaban darinya. Kali ini ia harus segera menemui Bia untuk menjelaskan semuanya. Entah pembelaan apa yang hendak Anyer sampaikan nanti sebab semua bukti sudah sudah ada.


Anyer segera mencari keberadaan Bia di semua ruangan rumah miliknya. Manggilnya, namun tak ada sahutan. Anyer membuka lemari tetapi semua pakaian Bia masih tersusun rapi disana. Pak Dadang.


Anyer segera mencari keberadaan sopir pribadi Bia berharap beliau tahu dimana Bia berada. Namun ternyata Pak Dadang juga tidk ada.


"Sial!" umpatnya.


Anyer segera melajukan mobilnya menuju rumah kebesaran Bia dan berharp menemukan Bia disana.


Sesampainya disana Anyer melihat mobil yang sering di pak Dadang terparkir di halaman rumah. Itu berarti Bia ada di dalam sana.


"Bia," panggil Anyer.


Anyer masuk kedalam rumah namun pandangan terhenti pada sosok wanita dengan perut yang sedikit membuncit sedang keluar dari dapur.


Anyer sangat jelas mengingat siapa sosok wanita itu.


Lalu mengapa bisa ada disini? Apa mungkin semua kekacauan ini adalah ulahnya?


.


.


.


.


.


Hayo siapa wanita yang di lihat Anyer???


Ayo like like dan komen yang buanyak biar Author amatir ini lebih semangat lagi 🤧🤧

__ADS_1


__ADS_2