Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
pertengkaran


__ADS_3

Seminggu telah berlalu. Kini Bia dan Anyer sudah menempati rumah baru yang Anyer Beli. Di rumah itu hanya ada mereka berdua serta asisten rumah tangga dan sopir Bia, pak Dadang yang di boyong Bia.


Anyer sudah mulai menerima Bia sebagai istrinya. Bahkan mereka tak sungkan lagi untuk jalan bersama dan berkunjung ke kantor di saat jam istirahat.


Pagi ini Bia sengaja bangun siang karena memang hari minggu. Tak ada kegiatan yang akan ia kerjakan. Begitu juga dengan Anyer. Ia lebih memilih menggulung selimutnya lagi.


Sebelum menarik selimutnya Anyer melirik wanita yang sedang tertidur tenang di sampingnya. Hembusan nafas yang teratur.


Anyer menarik kedua sudut bibirnya. Bibir merah merona tanpa polesan lipstik serta bulu mata yang lentik membuat Anyer ingin sekali menyentuh wajah Bia.


Wajah Anyer sudah mendekat. Bia yang merasa ada pergerakan di sampingnya dan segera membuka pelan matanya.


Mata Bia segera  melebar kala melihat wajah Anyer telah di depan wajahnya. Sadar akan hal tersebut Bia segera mendorong tubuh Anyer agar menjauh. 


"Kamu mau apa?" Nafas Bia masih naik turun. Sungguh ia sangat gugup. Detak jantungnya pun berdetak kuat.


Anyer merutuki dirinya sendiri. Entah mau pun ia juga tidak tahu apa yang akan ia lakukan jika Bia tidak segera bangun.


"Maaf… Aku hanya ingin memastikan apakah kamu pingsan atau tidak. Lihatlah sudah pukul delapan," kilah Anyer.


"Bangunlah! Oma menyuruh kita ke rumah utama," sambung Anyer. 


Tak ingin menahan malu Anyer memilih pergi ke kamar mandi. Sementara Bia masih terdiam memegangi dadanya yang masih berdebar.


"Dasar jantung payah," umpat Bia.


.


.


.

__ADS_1


Pukul 11 siang Bia dan Anyer sudah sampai di rumah utama. Kedatangan mereka berdua disambut antusias oleh Oma Risa. Meskipun usianya sudah tidak muda lagi tetapi gerakannya masih lincah.


"Kalian cucu durhaka! Kalau tidak diancam tidak akan pernah datang kesini. Menanyakan kabar pun tidak," gerutu Oma Risa.


Bia langsung merasa tidak enak. Memang Bia menyadari bahwa dia hampir melupakan bahwa Anyer masih mempunyai keluarga. Miris bukan? Hanya karena sibuk bekerja ia sampai melupakan keluarga?


"Maaf Oma, kita berdua masih sibuk," tutur Bia.


"Oma tahu kalian sama sama sibuk. Tapi setidaknya kalian mengingat bahwa Oma masih hidup," gerutu Oma Risa.


"Anyer, bagaimana sudah ada hasil?" tanya Oma Risa lagi.


Anyer menakutkan alisnya. Ia bingung hasil apa yang tengah dimaksud oleh Oma.


Oma Risa menggeleng. "Belum tua sudah pikun," sindir Oma Risa.


Siska menuruni anak tangga. Sekilas ia mendengar mertuanya tengah berbincang. Ia pun menuju ruang tamu di mana ketiga orang tengah berbincang.


"Anyer," seru Siska. 


Siska segera menghampiri Anyer. Menangkup wajah anaknya kemudian meneliti setiap inci pada tubuh Anyer.


"Sepertinya kamu lebih kurus sayang. Apakah istri kamu tidak merawatmu dengan baik." Siska melirik ke arah Bia.


Niat hati ingin menyambut mama mertuanya namun Bia urungkan. Dari awal Bia memang sudah yakin bahwa mertuanya tak menyukai dirinya. Berbeda dengan Oma dan papa mertuanya yang terlihat ketulusannya.


"Mama ngomong apa sih? Anyer hanya kurang tidur Ma. Mama kan tahu Anyer harus menyiapkan proyek sebelum akhir tahun ini."


"Kalau tidak bisa menjaga ucapanmu, pergi sana!" ketus Oma Risa.


"Bi, tidak usah diambil hati ucapan mertua mu ini ya! Anggap angin lewat saja." Lanjut Oma lagi.

__ADS_1


Bia tersenyum kaku. Ia pun mencium aroma yang tidak baik. Seperti Oma juga tidak menyukai menantunya alias mama mertuanya. Bia menggeleng pelan. Entah ada drama apa dalam keluarga besar Anyer.


"Ma, aku ini ibunya Anyer. Wajar jika aku mengkhawatirkan anak ku. Apalagi mama tahu Anyer tidak mencintai istrinya."


"Siska cukup!!" teriak Oma Risa. Anyer dan Bia pun sama sama terkejut dengan nada keras dari Oma.


"Tapi itu kenyataan Ma. Mama tahu kan kalau Anyer hanya mencintai Lisa. Jika bukan karena restu dari Mama, Anyer sudah bahagia bersama Lisa." Siska tak ingin kalah dari mertuanya. Sejak dari awal hubungan Oma Risa dan Siska memang bermasalah.


"Cukup Ma!" Kali ini giliran Anyer yang membentak mamanya. 


"Jangan pernah sebut lagi wanita ****** itu!" Lanjut Anyer.


Mata Siska pun terbelalak. Ia tidak menyangka bahwa Anyer akan mengucapkan hal seperti itu. Padahal yang ia tahu bahwa Anyer hanya mencintai Lisa seorang. Dan pernikahannya dengan Bia hanya keterpaksaan saja.


"Anyer, kamu kenapa sayang. Apakah pikiran kamu telah teracuni oleh wanita ini?" Siska menunjuk ke arah Bia.


Sudah cukup Oma Risa menahan amarahnya. Kini Siska sudah sangat keterlaluan. 


Sebuah tamparan keras mendarat pada pipi Siska. "Jaga sikap kamu jika masih ingin menjadi nyonya di rumah ini!" 


Oma Risa berhasil membuat Siska terdiam membisu sambil menahan rasa panas bekas tamparan mertuanya.


"Bia jangan dimasukkan hati ucapan Siska. Ayo ke ruangan Oma! Anyer kamu urus mama kamu atau ikut Oma?!" 


.


.


Selamat pagi untuk yang masih stay di novel ini.


Aku cuma mau ucapin terima kasih karena kalian masih setia disini. Sebenarnya pengan menjawab dari beberapa komentar kemarin. Tapi... ah sudahlah... Semua akn indah pada waktunya. ❤

__ADS_1


Bianca Wijaya



__ADS_2