
Dokter Rumi, dengan jelas Nathan membaca tag name yang dikenakan oleh wanita berjubah putih dengan balutan hijab tersebut.
Jantung Nathan seperti hendak lepas saat mendengar hasil dari pemeriksaan Bia. Dari layar monitor Dokter Rumi menunjukkan sesuatu yang telah bersarang di rahim Bia. Meski ukurannya masih sebesar biji kacang, namun itu adalah hasil jerih payah yang Nathan dan Bia kerjakan hampir setiap malam.
Bia dinyatakan positif hamil dan saat ini telah memasuki 2 bulan.
Seperti sebuah mimpi bagi seorang Bianca yang dinyatakan mengandung setelah melewati kegagalan pernikahannya dengan Anyer.
Tak ada kata lain selain kata syukur yang Bia ucapkan. Matanya meneteskan embun yang tak lagi bisa terbendung lagi.
"Nath, aku hamil?" Bia masih tak percaya.
Begitu juga Nathan yang tak jera mengucap syukur dan menghujani kecupan di kepala Bia. Saat ini Bia benar benar melayang dalam sebuah kebahagiaan yang tak pernah terlintas dalam benaknya.
"Iya sayang. Akhirnya Nathan junior akan melengkapi kebahagiaan kita," ujar Nathan.
Sesampainya di rumah, Bia tidak diizinkan naik turun tangga. Semua keperluannya akan dilayani oleh mbak Lia. Masalah dapur semuanya diserahkan kepada Bik Juminten. Dan seperti Nathan membutuhkan asisten rumah tangga lagi untuk menggantikan tugas mbak Lia.
Berita tentang kehamilan Bia telah sampai di telinga para asisten rumahnya. Mereka semua merasa bahagia atas kabar tersebut, terutama Mbak Lia yang selalu ada untuk Bia.
"Selamat atas kehamilan anda, Nyonya. Saya turut bahagia." Lia memberi ucapan sambil memeluk tubuh Bia yang memang sudah mulai berisi.
"Makasih ya, Mbak," ujar Bia.
____
Nathan melangkah kaki dengan perasaan berbinar. Pancaran kebahagiaan jelas terlihat, hal itu membuat karyawan penasaran mengapa atasannya pagi ini terlihat sangat bahagia.
Hal itu tak luput dari penglihatan Dila yang juga merasa heran atas sikap Nathan yang mendadak menyapa semu karyawan yang ia jumpai.
__ADS_1
"Pagi Pak Nathan? Hal apa yang membuat anda begitu bahagia pagi ini? Jatah malam berapa trip?"
Bukan Dila jika tidak memiliki mulut pedas asal njeplak. Meski begitu Dila adalah salah satu karyawan yang dekat dengan Bia.
"Kamu kalau ngomong bisa di filter gak Dil?" ketus Nathan. "Jika kalau bukan kamu asisten Bia, sudah aku pecat kamu!" lanjut Nathan lagi.
"Harusnya bapak itu bersyukur karena ada saya di samping bapak. Saya dan suami rela malam malam nyari Martabak untuk bumil lho," ujar Dila.
Mata Nathan terbelalak. Mengapa Dila bisa mengetahui kehamilan Bia sedangkan dirinya belum mengatakan kepada siapapun saja.
"Dila kenapa kami bisa tahu?"
Dila yang ditanya malah cengengesan, menertawakan atasannya yang tida peka.
"Saya itu perempuan yang sudah menikah dan sudah mempunyai anak, Pak. Jadi saya tahu betul ciri orang yang sedang ngidam. Dulu saya juga seperti itu. Tetapi suami saya selalu gercep sehingga tidak merepotkan orang lain," ujar Dila.
Natah menatap Dila dengan tatapan tajam. Dari ucapannya, Nathan tahu jika Dila sedang menyindir dirinya.
Dila mengedikkan bahunya. "Saya tidak menyindir tetapi itu faktanya. Oh iya Pak, saya lupa harus mengerjakan file untuk meeting sore nanti, permisi." Dila lebih baik menghindar daripada beradu mulut dengan Nathan yang hanya akan membuat waktu kerjanya hilang sia sai.
Tepat pukul tujuh malam Nathan sampai di rumah. Lantai bawah terlihat sunyi karena Aura sekarang berada di kamar Bia.
Di kamar Bia, Linda dan Mbak Lia sedang menunggu balita dan bayi tua.
Sebenarnya Bia tak mengharapkan diperlakukan seperti ini karena dia baik baik saja tidak perlu ada yang harus di khawatir kesehatannya.
Derap langkah kaki terdengar dari dalam kamar Bia. Linda dan mbak Lia segera bangkit dari duduknya dan hendak bersiap siap keluar.
Tak lama pintu dibuka, sosok Nathan dengan wajah lelahnya menyembul dari balik pintu membuat Aura segera menoleh lalu berteriak dengan girang.
__ADS_1
"Papapa," celoteh Aura yang segera berjalan tertatih menjemput Nathan.
Dengan sigap tangan Nathan menangkap tubuh mungil yang menghambur ke dalam pelukannya.
"Sayangnya Papa." Nathan menghujani ciuman di pipi Aura.
"Lin, biarkan malam ini Aura tidur disini. Siapkan saja semua keperluan Aura," titah Nathan.
Linda mengangguk pelan. "Baik, Tuan."
Setelah kepergian Linda dan mbak Lia, Nathan segera mengecup kepala Bia kemudian mengecup perut Bia yang masih rata. "Selamat malam kesayangan Mama, Papa dan juga kesayangan Aura." Nathan melirik Aura yang juga mengikuti gerakan Nathan saat mencium perut Bia.
Meski merasa sangat geli, Bia terlihat sangat menikmati momen yang tak pernah ia bayangkan selama hidupnya. Memiliki Nathan yang tidak pernah terlihat dalam benaknya dan memiliki Aura yang juga tidak pernah terpikirkan dalam hidupnya.
Kehadiran Nathan dan Aura mampu memberi warna tersendiri. Kini Bia benar benar terlena dalam kebahagiaan yang nyata.
......🍃🍃 END 🍃🍃......
MOHON MAAF JIKA JIKA SELAMA MENULIS CERITA INI AUTHOR BANYAK TYPO DAN MENGECEWAKAN KALIAN YANG MEMBACA HINGGA SATU PERSATU MULAI PERGI MENGHILANG.
AKU TAHU CERITA INI SANGAT BERANTAKAN ALURNYA, TETAPI KALIAN MAU MENERIMA NOVEL INI 🙏🏻
TERIMAKASIH TAK TERHINGGA AKU UCAPKAN KEPADA KALIAN YANG SUDAH MENGIKUTI NOVEL INI DARI AWAL 🙏🏻 TANPA KALIAN, AKU BUKAN APA APA 🤧
MOHON MAAF JUGA JIKA AKU TERLALU CEPAT MENEKAN TANDA END KARENA SUATU HAL YANG MEMBUAT AUTHOR DOWN 🙏🏻
CERITA INI SUDAH END, TETAPI AKAN ADA KISAH ANAK BIA DAN NATHAN YANG AKAN DI RILIS, TETAPI TIDAK DALAM WAKTU DEKAT INI.
__ADS_1
SEE YOU KECUP BASAH 😘 LOPE LOPE SEKOBON DUREN ❤❤