
Setelah sabar menunggu, akhirnya dua ajudan menghampiri bos mereka secara bersamaan. Rafa dan Nathan tidak sengaja bertemu di parkiran, mereka pun sedikit mengobrol lalu masuk bersama.
Jika Rafa dan Nathan terlihat sumringah, lain dengan Bia dan Anyer. Kedua bos mereka saling berdiaman dengan wajah kusut. Entah apa yang sudah terjadi kepada kedua orang itu. Saat menyadari hal itu, Rafa dan Nathan saling bersitatap seolah mengartikan wajah kedua bosnya.
"Maaf Tuan, ini berkas file yang anda butuhkan." Rafa menyodorkan sebuah map kepada Anyer. Begitu Juga dengan Nathan yang seolah mengikuti gerakan Rafa yang memberikan berkas kepada Bia.
Saat itu memang meeting belum dimulai namun, beberapa pengusaha sudah ada yang hadir. Mereka mengumpul di salah satu ruangan yang memang telah disediakan oleh pihak hotel untuk sebuah pertemuan.
Setelah mendapatkan berkas yang diinginkan, Bia memilih bertukar tempat duduk dengan Nathan. Bia memilih duduk di sebelah Rafa, tidak di sebelah Anyer lagi.
Anyer hanya menyoroti saja. Namun, sialnya saat ini Bia malah duduk di hadapan Anyer membuat lelaki itu tak bisa menampik untuk tidak menatapnya.
"Raf, setelah meeting sibuk gak?" tanya Bia tiba tiba.
"Tidak," jawab Rafa.
Bia tersenyum licik. "Kalau gitu kita singgah ke cafe sebelah ya. Kita bahas proyek kita yang lalu."
Jantung Rafa seakan ingin melompat, berdetak lebih cepat dari biasanya. Ia hanya sanggup menelan ludahnya sendiri Bukan karena ia bangga bisa mendapat ajakan dari Bia, namun sungguh ia takut akan sosok Anyer yang berstatus suami Bia. Mengapa Bia malah terang terangan mengajak dirinya, sementara di depannya ada Anyer bos utama perusahaan.
"Tapi nyonya…."
"Kita sudah sepakat untuk kerja sama, jadi saya ingin membahas masalah proyek kita, bukan begitu Nath?"
Nathan yang disebut namanya pun mengangguk.
Kali ini Anyer benar benar sedang tidak dianggap lagi keberadaannya untung saja pertemuan meeting ini sudah mau dimulai sehingga Anyer tidak merasakan kesal berkelanjutan.
Satu persatu perwakilan dari perusahaan memberikan sebuah presentasi. Menunjukkan kinerja terbaiknya.
Sepanjang pertemuan Anyer terus mengembangkan senyumnya kala perusahaannya di puji puji sebagai perusahaan terbaik.
Perusahaan juga digadang akan masuk nominasi perusahaan terbaik se- asia.
"Bangga sekali," lirih Bia.
Sorot mata Anyer menatap Bia seolah ia mengatakan bahwa Anyer mendengar ucapan Bia.
__ADS_1
Satu jam lebih pertemuan berjalan dengan lancar. Dan hasil dari presentasi ini, perusahaan Anyer masih menduduki perusahaan terbaik se- Indonesia Raya ini.
Setelah pertemuan berakhir, Anyer mendapatkan ucapan selamat dari para pengusaha besar dan ternama.
"Selamat Tuan, perusahaan anda tiada tandingannya membuat saya ingin berinvestasi di dalam perusahaan anda," ucap salah seorang yang baru saja menyali Anyer.
"Oh…. Sungguh suatu kehormatan jika anda ingin berinvestasi di perusahaan saya."
Rasa yang Anyer rasakan bertolak belakang dengan Bia yang sedari tadi hanya menekuk wajahnya kesal. Bukan karena iri, namun Bia merasa Anyer terlalu berlebihan.
Bia pun bangkit hendak meninggalkan ruangan tersebut. Namun, langkahnya tertahan ketika Anyer menyindirnya.
"Jadi begini sikap kamu terhadap pencapaian terbaik suami kamu sendiri? Tidak ingin memberikan sebuah ucapan?"
Bia mendesah pelan. "Jadi kamu mau diberi ucapan apa? Sayang, selamat ya? Begitu?" cibir Bia.
Anyer terkekeh pelan. "Saya tahu kamu sedang kesal dengan saya. Tapi itu tidak masalah. Saya tidak peduli. Rafa ayo!"
"Tunggu!" seru Bia.
"Setelah ini saya dan Rafa sudah membuat janji ingin melakukan meeting untuk membahas proyek kami," lanjut Bia.
"Apa kamu yakin Rafa setuju?" tanya Anyer. Bia segera menatap kearah Rafa.
Kali ini Rafa seperti seorang terdakwa yang sedang dihakimi. Jelas terlihat bahwa bosnya tidak mengizinkan dirinya melakukan meeting dengan Bia. Sementara itu, Rafa telah terlanjur berjanji dengan Bia akan melakukan meeting bersamanya.
"Jelas Rafa mengatakan sudah setuju."
Anyer menatap Rafa kembali. "Apa kamu melupakan tugas yang saya berikan tadi, Rafa? Tugas kamu di kantor masih banyak dan kamu malah menyetujui meeting dadakan ini?"
Rafa menakutkan alisnya. Bukankah di kantor tidak ada pekerjaan lagi. Lalu pekerjaan apa yang dimaksudkan oleh bosnya.
"Kamu pasti lupa kan? Baiklah, kamu handel pekerjaan kamu biar saya yang meeting dengan direktur Bianca," ucap Anyer lagi.
Dan kali ini Rafa baru menyadari bahwa ia tengah dipermainkan oleh bosnya. Gengsi terlalu tinggi untuk mengakui bahwa bosnya itu sedang melarangnya untuk meeting bersama istrinya.
"Iya. Maaf saya lupa." lirih Rafa.
__ADS_1
"Nyonya, maafkan saya tidak bisa meeting dengan anda. Tetapi tenang saja, tun Anyer akan menggantikan saya. Semoga meeting kalian berjalan dengan lancar. Saya permisi." Rafa segera meninggalkan tempat itu.
Begitu juga dengan Anyer yang membuat alasan sama dengan Rafa.
"Maaf kan saya Bu dir, saya tidak bisa menamai anda sebab, jika anda pergi maka kantor tidak ada yang menghandle," pungkas Nathan.
Bia melotot. Sejak kapan Nathan mempunyai inisiatif seperti itu. Biasanya jika ada meeting di luar dialah yang paling sangat untuk mendampinginya. Bahkan selama ini Nathan lah yang membandel saat meeting namun, mengapa sekarang malah seperti ini.
"Langkah awal, semangat Bu dir," bisik Nathan sebelum pergi. Bia hanya melotot.
Awas kamu nathan. Makinya dalam hati.
"Jadi bagaimana? Meeting berlanjut atau tidak?" tanya Anyer memastikan.
Tak ada pilihan lain, sebab proyek itu harus segera berjalan. Ia ingin membuktikan bahwa tidak ada yang boleh memandang rendah kepada kaum perempuan. Meskipun terlahir perempuan, ia juga berhak untuk berkarir.
"Pantang mundur bagi saya. Tapi…" Bia menatap Anyer tajam. Ia tidak bisa menjelaskan jika sebenarnya ia juga takut keluar sebab, diluar sana pasti akan ada banyak wartawan yang akan meliput dirinya. Sementara saat berangkat kesini Bia menggunakan satu mobil dengan Anyer.
Anyer juga menatap manik hitam dengan bulu mata yang lentik. Dengan jelas ia bisa melihat bayangan dirinya di mata Bia.
"Tapi apa?"
"Bukankah di luar masih banyak wartawan yang akan meliput kamu tentang pencapaian ini? Lalu bagaimana dengan keberadaan saya? Saya tidak mau memiliki skandal dengan kamu."
Mendengar penuturan Bia, Anyer malah tertawa. Ternyata wanita yang terlihat tangguh itu juga seperti wanita pada umumnya, mempunyai rasa takut juga.
Anyer kembali lagi melepaskan jasnya lalu menutupkan ke tubuh Bia. Kemudian memasangkan sebuah kacamata.
Jangan ditanya bagaimana jantung Bia saat ini. Sungguh sangat berdebar, seakan ingin lompat dari tempatnya. Bia terus menatap Anyer dalam diam.
"kenapa? kagum?" sindir Anyer.
Bia segera membuang pandangan, segera menetralkan detak jantungnya.
"Tidak," sanggah Bia.
Tak ingin berlama, Anyer segera merapatkan tubuh Bia kedalam dekapannya. Bia terpaku, hanya patuh saja dengan yang Anyer lakukan. Biarlah meski hanya untuk sesaat, Bia menikmati akan menikmati suasana seperti ini. Ia pun mengembangkan sunyumnya, merasakan setitik kebahagiaan sesaat.
__ADS_1
T B C
JAN LUPA TINGGALKAN JEJAK. LIKE DAN KOMEN. SYUKUR2 KALIAN SAWER DENGAN BUNGA ATAUPUN KOPI. 🙏🏻 SEMOGA YANG TEKAN LIKE DAN KASIH HADIAH, REJEKINYA MELIMPAH 🙏🏻🙏🏻