
Malam ini Bia terlihat sangat cantik dari biasanya. Semua mata yang memandang akan terpesona dengan penampilan Bia berani tampil lebih terbuka.
Merasa dirinya menjadi pusat perhatian semua orang, Bia merasa risih. Apalagi gaun yang ia gunakan saat ini sangat memperlihat bentuk tubuhnya dengan jelas. Cih, apa bedanya dengan Mela, batin Mela.
Semua ini gara gara Nathan. Lelaki itu sangat memaksa Bia mengenakan gaun bak seperti ****** ini.
"Sudah lah Bu, and jangan cemberut! Tunjukkan kepada semua orang bahwa anda itu berlian," bisik Nathan.
"Berlian dari mana, jelas jelas penampilanku tak jauh beda seperti ******," lirih Bia.
Sepanjang langkah menuju aula Bia ingin mencongkel mata lelaki yang menatapnya tanpa kedip. Bia sendiri tidak tahu apa rencana Nathan dengan menyuruhnya memakai gaun seperti ini. Padahal sewaktu mencoba gaun tadi banyak gaun yang lebih cocok untuk dirinya.
"Pak Abu, selamat ulang tahun untuk perusahaan anda." Bia menjabat tangan Pak Abu yang kebetulan menyambut kedatangan Bia.
"Terimakasih atas kehadiran anda ibu Bianca," ujar Pak Abu.
Begitu juga dengan Nathan yang menyalam dan memberi ucapan kepada pak Abu.
Lelaki yang sudah berusia sekitar 59 tahun itu tersenyum kepada dua manusia yang sedang berada dihadapannya. Andai saja Pak Abu memiliki anak lelaki sudah pasti ia akan menjodohkan anakny dengan seorang Bianca yang wanita tanggung serta wanita yang mandiri, sayang kedua anaknya adalah perempuan semua.
"Malam ini anda terlihat cantik, Bu," puji Pak Abu. Seketika Bia melotot. Apakah itu gombalan maut pria berhidung belang.
"Kalian berdua terlihat sangat cocok, mengapa kalian tidak menikah saja?" lanjut Pak Abu.
Nathan dan Bia saling menatap lalu mengernyitkan dahi mereka. Cocok dari mana Pak? Saya sudah menikah.
Itu hanya kalimat yang berhenti di kerongkongan Bia saja. Mana mungkin Bia mengatakan bahwa ia telah menikah dengan keturunan Subardjo. Bisa bisa ia hanya akan ditertawakan saja.
"Ah, Pak Abu bisa saja. Sebenarnya saya bersependapat dengan bapak namun…." Nathan menggantung ucapannya sambil melirik ke arah Bia.
"Mana mungkin seorang atasan akan menyukai seorang ajudan biasa seperti saya, Pak," lanjut Nathan.
Mendadak pipi Bia semakin bersemu. Entah karena malu atau karena di terharu.
Ah, mana mungkin Nathan akan menyukai wanita yang sudah bersuami? Yang benar saja? Bukankan Nathan juga memiliki wanita yang ia cintai?
"Jodoh siapa yang bisa tahu?" seloroh pak Abu yang menepuk bahu Nathan kemudian berlalu.
"Saya tinggal dulu ya."
Bia masih membeku. Tangannya memegang pipinya berharap tidak panas lagi
"Anda kenapa Bu?"
.
__ADS_1
.
.
Acara malam ini begitu meriah. Bia dan Nathan menikmati hidangan yang telah disajikan. Bia menepis hatinya yang selalu berdebar jika sedang berdekatan dengan Nathan. Entah sejak kapan perasaan aneh ini muncul.
Dari arah pintu masuk terdengar riuh orang orang menyapa seorang tamu yang baru saja datang. Orang yang paling disegani, siapa lagi kalau bukan Adipati Anyer Subardjo dan Rafa sanga ajudan pribadi.
Bia hanya sekilas melirik kepada Anyer yang dengan bangga tersenyum kepada para tamu lainnya.
"Sudahlah Bu. Ingat tujuan kita datang kesini." lirih Nathan kepada Bia.
Nathan tidak bisa menjamin apakah itu hanya sebuah bentuk peringatan kepada Anyer atau memang niat Nathan untuk segera memisahkan Anyer dan Bia. Jahat bukan? Nathan tertawa sinis mengingat kelakuannya malam ini.
"Iya. Aku tahu." tegas Bia.
Nathan dan Bia terlihat sangat dekat. Nathan mengelap sudut bibir Bia yang bercelemotan, dan hal itu tak lepas dari pandangan Anyer.
Dadanya panas naik turun. Ingin rasanya ia menghampiri keduanya lalu menyeret Nathan dari ruangan ini namun, itu mustahil sebab selama ini tak ada yang mengetahui jika Anyer telah menikah.
Dengan jantung Bia yang bergetar hebat, Bia memegang tangan Nathan.
"Nath, please jangan seperti ini! Jantungku seperti ingin lepas," lirih Bia.
Nathan menahan tawanya. Sudut bibirnya naik keatas. Ya ampun Bia, apakah kamu sepolos ini? Nathan hanya menggeleng.
Anyer segera menghampiri meja Bia. Sebisa mungkin Anyer mengontrol amarahnya yang sudah di ubun ubun.
"Selamat malam ibu Bianca," sapa Anyer.
Bia menetralkan perasaannya. Sebisa mungkin ia harus biasa saja dan seolah olah tidak mengenal sosok Anyer.
"Oh, Tuan Anyer. Sungguh sebuah kehormatan anda menghampiri kami. Maaf kami berdua tidak melihat kedatangan anda tadi," ujar Bia.
Anyer yang diikuti Rafa hanya tersenyum sinis. Cih, akting luar biasa.
Sejak kapan Bia bersikap dingin seperti ini? Apakah ini hanya perasaan Anyer semata.
"Apakah Tuan Anyer ingin bergabung bersama kami. Wah jika benar begitu ini adalah sebuah kehormatan untuk kami berdua." Nathan menarik kedua simpul bibirnya.
"Tidak perlu! Nikmati saja hidangan kalian!" ketus Anyer.
Malam hampir larut, namun acara masih ramai. Alunan musik yang syahdu membuat beberapa pasangan maju kedepan untuk melakukan dansa.
Bia yang sama sekali tidak bisa berdansa terus dipaksa oleh Nathan untuk berdansa.
__ADS_1
"Nath, kamu jangan macam macam! Kamu tahu kan aku tidak bisa berdansa!"
Tetapi Nathan sudah menggandeng Bia maju kedepan!
Ia membinging salah satu tangan Bia dan diletakkan di bahunya sementara tangan yang satunya ia genggam dan diayunkan beriringan dengan langkah kakinya.
"Nath, aku gak bisa." lirih Bia lagi
"Ikuti saja Bu."
Jauh dalam relung sana Bia benar benar merasa menjadi seorang wanita yang beruntung bisa bertemu dengan seorang Nathan yang selalu ada untuk dirinya.
Bia yang terlihat kaku membuat Nathan ingin menertawakannya.
"Tuh kan, bilang aja kalau kamu mau mengejekku! Dah lah." Bia ingin mengakhiri dansa mereka namun, Nathan tidak mengijinkan. Biarlah Nathan terlihat tidak sopan terhadap atasannya. Ini semua Nathan lakukan hanya untuk Bia.
Kini Nathan sudah berani memegang pinggang Bia dan merapatkan tubuhnya hingga deru nafas keduanya bisa saling terdengar.
Bia hanya mengikuti bagaimana yang Nathan membimbingnya. Jujur ini adalah dansa pertama untuk Bia. Kolot Bukan?
Nathan menatap Bia dengan intens.
"Bu Dir," panggil Nathan.
"Apa?"
Bia pun segera menatap mata Nathan yang terasa teduh.
Lama keduanya saling menatap hingga getaran getaran aneh itu muncul dalam diri keduanya. Sensasi kupu kupu seperti sedang menjalar dalam tubuh merek.
"Jika saya mengatakan sesuatu kepada anda, apakah anda akan menyetujuinya?"
"Tergantung."
Keduanya masih saling menatap. Tanpa mereka sadari ada sebuah ladang yang tiba tiba tertiup angin kencang, percikan api kecil menjalar hingga mengakibatkan sebuah kebakaran hebat.
Di sebuah tempat duduk, Anyer mengepalkan tangannya sambil melihat ke arah kedua manusia yang terlihat tak berdosa melakukan hal seperti ini di hadapan seorang suami.
"Bercerai lah dengan Anyer! Dia bukan lelaki yang baik untuk anda karena diluar sana ada seseorang yang mencintai anda dengan tulus."
🍃🍃 Bersambung🍃🍃
Berdosa gak sih kalau seorang perempuan memintai cerai kepada seorang suami yang jelas jelas sudah berzina dengan perempuan lain??
Oh, ya selagi menunggu cerita ini Up mampir di novel teman othor ya!
__ADS_1