Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Anyer yang terlupakan


__ADS_3

Hampir satu jam Bia dan Nathan berada di puncak gunung yang berbatu. Keduanya mulai turun saat Budi memberi tahu bahwa warga yang mempunyai sangkutan telah datang.


"Bu dir, tenang. Jangan grogi nanti," saran Nathan.


"Iya aku tahu. Apa kamu sudah lupa siapa Bianca Wijaya?"


Nathan memegangi tangan Bia saat menuruni gunung yang berbatuan. Untung saja Bia tidak menggunakan heels.


Dari bawah sana sudah terlihat sekelompok warga berkumpul di depan proyek. 


Kedatangan Bia dan Nathan membuat para warga segera menatap keduanya dengan takjub. Ternyata pemilik proyek ini adalah seorang wanita. Bahkan sebagian dari  mereka hampir tidak percaya bahwa Nathan hanyalah seorang ajudan pribadinya Bia.


Bia dan Nathan menampung segala keluh kesah warga tentang harga jual beli lahan.


Dan dari situ Bia mengetahui semuanya.


Tangannya mulai mengepal namun hanya sesaat. Ia benar benar tidak habis pikir dengan orang kepercayaan yang telah memangkas harga yang Bia tanda tangani. Pantas saja warga menuntut kenaikan harga lahan mereka.


Perlu waktu meditasi untuk Bia dan salah seorang warga untuk membahas masalah ini.


Setelah menyetujui perundingan dengan warga Bia ingin sekali memaki orang yang telah bermain kucing dengan dirinya.


"Nath, kamu bagaimana sih bisa sampai kecolongan seperti ini. Aku tidak mau tahu segera hubungi Pak Samin yang menjadi penanggung jawab atas proyek ini!" titah Bia.


Nathan hanya mengangguk patuh. "Baik Bu," ujarnya.


"Dan anda Pak Budi. Anda adalah tangan kanan saya disini. Tetapi mengapa anda tidak tahu masalah ini?" tanya Bia.


Pak Budi hanya mampu meminta maaf atas keteledorannya tidak mengecek satu persatu masalah ini.


"Saya minta maaf, Bu. Saya benar benar tidak mengetahui hal ini sebab Pak Reza sendiri yang menyerahkan kompensasi itu kepada warga."


"Sudahlah. Bapak tahu saya tidak terima atas korupsi yang telah terjadi disini. Maka dari itu saya akan membawa ke meja hijau karena ini bukan jumlah yang sedikit," ujar Bia.


Pak Budi hanya mengangguk tanda mengerti.


.


.


.


Setelah hampir seharian Bia berada di lahan proyek ia pun berencana memilih sebuah penginapan di tempat terdekat.


Mengingat ini adalah kawasan yang baru saja dibuka, maka tentu sulit untuk mencari sebuah penginapan seperti hotel berbintang lima. Yang ada hanya penginapan biasa saja.

__ADS_1


"Nath, kamu serius memilih tempat ini?" Bia merasa ragu sebab, penginapan yang di pilih Nathan bangunannya terbuat dari papan kayu, bukan tembok permanen.


Nathan terkekeh pelan. "Seriuslah Bu. Jangan melihat dari luarnya saja. Bu dir harus melihat isi dalamnya dan keistimewaan penginapan ini. Ayo!" 


Tanpa sadar Nathan telah menggenggam tangan Bia untuk menaiki anak tangga menuju kamar penginapan.


Berada diatas bukit, penginapan yang awalnya terlihat biasa saja ternyata lebih terlihat unik jika dilihat dari dekat. 


Untuk kesekian kalinya dalam satu hari ini jantung Bia harus berdebar saat Nathan memegang tangannya. Hanya memegang saja!


Bia menggelengkan pelan kepalanya. Sudahlah yang terpenting aku merasa nyaman.


Deg.


Mendadak Bia baru mengingat sosok Anyer yang sama sekali belum ia beri tahu jika dirinya sudah sampai tujuan dengan selamat.


Ah nanti saja aku beri tahu dia.


Bia sangat terkejut saat melihat kamar penginapannya.



"Nath, ini rumah apa?" Bia terkejut setelah tahu bahwa penginapan mereka sangat unik menurutnya. 


Nathan menarik kedua simpul bibirnya. "Ini belum seberapa, Bu. Kalau anda mau saya bersedia membawa anda keliling Indonesia," ujar Nathan.


"Kamu benar, Nath. Sepertinya aku memang harus keliling Indonesia agar mengetahui banyak hal yang belum pernah aku ketahui selama ini."


Setelah membuka pintu kamar, Nathan segera mempersilakan Bia untuk masuk. Bia pun segera mengernyit.


"Kamu gak masuk?" tanya Bia heran.


Nathan menggeleng. "Tidak Bu. Kamar saya ada di sebelah anda. Anda tidak perlu takut ataupun khawatir."


"Eh… Emang siapa yang nyuruh kamu pesan kamar sendiri. Aku gak mau tahu pokoknya kamu harus temani aku disini. Nanti kalau ada penculik gimana?"


Nathan ingin tertawa lepas. Sungguh Bia sangat menggemaskan. "Tidak bisa Bu. Kita bukan muhrim terlebih anda adalah suami orang. Apa kata orang jika kita satu kamar. Saya akan menjaga anda dari sini. Tenang saja disini tidak ada penculik."


Bia terlihat kesal. "Pokoknya aku gak mau tahu! Memangnya siapa yang akan peduli tentang kita? Gak ada Nathan!" Bia tetap memaksa Nathan untuk tetap bisa menemani dirinya. Apakah Nathan lupa jika dirinya takut sendiri di tempat asing?


"Baiklah jika anda memaksa. Tetapi saya hanya akan menunggu anda di luar sini saja. Sekarang masuklah!"


Bia menatap kesal kepada Nathan akhirnya dia menarik paksa tangan Nathan.


"Kamu ini ribet banget sih. Sudah berpuluh tahun mengabdi masih juga kayak gini."

__ADS_1


Baiklah kali ini Nathan memilih mengalah ketimbang memperpanjang masalah dengan sang atasnya. 


Setelah masuk Nathan mengedarkan ke penjuru sudut kamar hanya ada sebuah tempat tidur dan sebuah tempat duduk yang terbuat dari anyaman bambu serta sebuah kamar mandi di dalamnya.


"Bu dir, anda belum menghubungi Tuan Anyer!" Nathan mengingatkan Bia.


"Iya. Ini juga mau kasih tahu." mendudukkan pantatnya di kursi panjang  sebelah Natha.


"Nath, gimana nih aku gak bawa baju ganti. Aku kira kita nginap di kota. Kamu cariin ya!" titah Bia.


Apa??


Mencarikan baju di daerah seperti ini? Yang benar saja Bu dir? Dimana aku harus membeli baju anda? 


.


.


.


Hai haii jangan lupa tinggalkan like dan komen ❤


Oh iya bantu Author melindungi novel Author dong.


Nih caranya aku kasih tahu.


Pertama kalian klik gambar seperti ini di beranda awal



Kedua kalian klik Aula kehormatan novel



Ketiga kalian klik di kolom pencarian nama novel Author


BUKAN PERNIKAHAN IMPIAN karya teh ijo ya! Soalnya disana akan banyak novel dengan judul yang sama.


Keempat kalian klik tulisan LINDUNGI.


DAN KELIMA Author mengucapkan terimakasih banyak untuk kalian yang sudah melindungi Novel Author.


Lope lope sekebun duren dah 😍😍


__ADS_1


__ADS_2