
Sebelum baca tap like dulu 👍🏻
Happy reading
Anyer menuruni anak tangga dengan raut wajah bahagia. Bagaimana tidak, Rafa telah menemukan rumah yang sesuai dengan keinginannya meskipun selama ini belum pernah terpikirkan akan mempunyai rumah sendiri.
Bia terlihat cuek sambil menyantap sarapannya?
"Masih marah?" tanya Anyer tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Untuk apa marah. Membuang energi saja." celetuk Bia.
Anyer menatap Bia sejenak. Biar bagaimanapun ekspresi Bia jelas sangat terbaca jika sedang marah.
"Bianca, please maafkan saya. Mari kita mulai pernikahan ini dengan serius. Kamu bersedia kan?"
Hening tak ada jawaban dari Bia. Hatinya menghangat. Andai saja Anyer mengucapkan hal itu sedari awal, mungkin Bia akan dengan mudah jatuh cinta padanya namun, mendadak Bia terngiang oleh sosok Lisa yang berstatus sebagai kekasih Anyer.
"Bia, beri saya kesempatan satu kali, oke? Oh ya, tadi Rafa mengatakan bahwa dia telah menemukan rumah yang cocok untuk kita." imbuh Anyer.
Mata Bia melotot. "Rumah kita? Maksud kamu…" Bia menjeda ucapanya.
"Iya, kita pindah ke rumah kita? Kamu mau kan?"
Demi apa, Jujur Bia merasa sangat terharu. Akankah Anyer benar benar telah berubah atau hanya menjeda rasa kecewanya terhadap Lisa?
"Bianca." Anyer menyentuh tangan Bia.
Bianca tak bisa berkata apa apa lagi. Semua rasa kesel dab amarahnya hilang begitu saja.
Bia mengambil nafas dalam. "Baiklah, mari kita coba perbaiki masalah kita. Tapi, hanya satu kesempatan. Jika kamu menyia nyiakan maka jangan harap akan ada kesempatan kedua kalinya."
Anyer hampir tak percaya dengan penuturan Bia. Ia sangat terharu, ingin rasanya ia memeluk tubuh Bia namun, Anyer sadar betul pasti Bia akan menolaknya.
"Terima Kasih Bia. Aku janji akan menyia-nyiakan kesempatan ini," tutur Anyer.
Bia mengernyit. Aku, batin Bia.
.
.
.
__ADS_1
.
Sepanjang perjalanan menuju kantor Bia hanya terdiam. Begitu juga dengan Anyer, lelaki itu sebenarnya merasa canggung terhadap Bia. Sesekali Anyer berhasil mencuri pandang kearah Bia.
"Emm, Bianca bagaimana kalau kita tidak usah ke kantor. Kita tinjau rumah baru kita bagaimana?" tawar Anyer.
"Eh, tapi kalau kamu tidak mau tidak mengapa," lanjut Anyer lagi.
Tanpa pikir panjang Bia mengangguk membuat Anyer semakin bersemangat untuk mengemudikan mobilnya.
Lima belas menit Anyer menempuh perjalanan menuju alamat rumah yang diberikan oleh Rafa tadi pagi.
Setelah sampai, Anyer memang sangat kagum terhadap bangunan putih tersebut.
Wangi aroma cat masih kental, itu tandan rumah ini memang baru siap di bangun.
"Ayo." Anyer yang sudah mempunyai kunci rumah segera membuka pintu.
Dengan langkah pelan, Bia mengikuti langkah Anyer menuju ke sudut sudut ruangan.
"Kamu suka?" tanya Anyer.
Bia hanya terdiam. Pandangannya mengedar ke udara. Jika dibandingkan dengan rumahnya ini memang tidak seberapa. Tetapi Bia tahu semua perabot yang ada di rumah ini bernilai tinggi.
Mata Anyer menatap intens ke arah Bia.
Langkah demi langkah pelan Anyer mendekat. Entah mengapa mendadak Bia merasa gugup, ia pun dengan pelan juga memundurkan langkahnya kebelakang.
Namun sialnya tubuhnya terbentuk tembok hingga tak ada celah lagi untuk menghindari Anyer.
"Stop Anyer! Kamu mau apa?"
"Kamu lucu kalau gugup seperti ini."
"Anyer, jangan bercanda. Awas!" Tangan Anyer sudah mengunci tubuh Bia dengan menempelkan kedua tangannya ke dinding.
"Bi, mari kita mulai dari awal," lirih Anyer.
Pikiran Bia mendadak ngeblank. Ia hanya terdiam pasrah sambil menutup matanya dan menahan nafas.
Kini hanya hembusan nafas Anyer yang Bia rasakan. Detak jantung Bia berpacu lebih cepat.
Sama seperti Anyer, detak jantungnya bergetar lebih cepat dari biasanya.
__ADS_1
Ia pun juga memejamkan matanya kemudian ia memiringkan wajahnya.
Memang ini bukanlah yang pertama untuk Anyer, tetapi sungguh ia merasa canggung.
Bia sudah menggigit bibirnya. First kiss yang selama ini ia jaga kini akan ia berikan kepada Anyer. Namun, siapa sangka ponsel Bia berdering. Keduanya pun sama sama membuka mata. Jarak wajah Anyer hanya tinggal satu centi lagi. Jika saja Anyer mau melanjutkannya maka tinggal menggerakkan bibirnya saja namun, Bia yang sudah merasa malu segera mendorong tubuh Anyer. Menetralkan diri sebelum mengangkat telepon dari telepon.
"Nathan," gumam Bia.
Bia segera mengangkat telepon dari Nathan dengan tangan kiri menempel di dada. Masih sangat terasa gejolak didalam dada sana. Entah harus marah kepada Nathan atau merasa berterima kasih kepadanya karena telah menggagalkan sebuah peristiwa yang sangat ia jaga selama ini.
Bia hanya mengiyakan saja apa yang disampaikan oleh Nathan.
"Saya harus segera ke kantor," ucap Bia.
Anyer segera menahan lengan Bia yang hendak meninggalkan dirinya.
Lagi lagi Bia menggigit bibirnya. Akankan Anyer melanjutkan yang tertunda tadi?
Bia memejamkan mata sejenak.
"Mulai sekarang, bisakah kamu ganti ucapan saya menjadi aku? Sebab, aku dan kamu akan menjadi kita."
Bia menatap Anyer dengan penuh arti. Mencerna kata kita. Apakah Anyer ini adalah kode Anyer meminta sesuatu yang lebih dari dirinya?
.
.
.
Haii haii Othor menyapa kalian lagi. Sebelum othor meminta maaf karena jarang update lagi 🙏🏻 Oh iya satu hal lagi yang akan othor sampaikan kepada kalian pembaca setia othor remahan ini.
Mulai sekarang nama pena Othor sudah berganti menjadi teh ijo bukan green_tea lagi. Jika kalian mencari nama green_tea maka yang akan timbul bukan nama pena Othor ya. itu nama pena orang lain.
Begitu juga dengan Ig.
ig othor sekarang teh_ijo25 ( syukur² ada yang mau follow ig othor ) 😀😀 Itu saja yng othor sampaikan. Untuk Fb, masih nama lama belum bisa othor ganti.
Oh ya, pagi ini othor juga mau rekomen salah satu novel dari sahabat othor judulnya CHAMELIA CHAN karya
Zain Wushi mampir ya!
__ADS_1