Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Bab 32


__ADS_3

Begitu juga dengan mata Anyer yang menangkap sosok Bia yang sedang bersama dengan Nathan. Kedua saling bersitatap. Anyer berusaha tenang. Bukankah Anyer sudah mengatakan kepada Bia bahwa dirinya telah memiliki kekasih, jadi untuk apa Nathan merasa bersalah. Harusnya yang merasa bersalah itu adalah Bia yang telah menjadi orang ketiga dalam hubungannya dengan Lisa.


"Bu Bianca?" sapa Lisa yang melihat Bia.


Bia tersenyum malas.


"Ibu disini juga? Masih ingat saya 'kan?" Seolah Lisa begitu akrab.


Bia terdiam sejenak. Mengingat siapa sosok wanita ini. Sepertinya mereka memang pernah bertemu tapi, Bia begitu sulit untuk mengingatnya.


"Saya Lisa Bu, sekertarisnya pak Rendy."


Bia mengangguk pelan. Oh, pantas saja familir. Ternyata dia.


Bia menatap lengan Lisa yang menempel pada lengan Anyer. Sadis bukan? Padahal dirinya yang berstatus istri saja belum pernah menyentuh Anyer.


"Oh iya Bu, saya sampai lupa. Kenalin ini Anyer, pacar saya." Dengan bangga Lisa memperkenalkan Anyer kepada Bia.


Bia tersenyum getir. Begitu juga dengan Nathan yang mendengar merasa syok seketika. Apa? Pacar?


Nathan menatap Anyer dengan tajam. Jelas saja Nathan sangat keberatan dengan pengakuan Lisa baru saja.


Sementara itu, Anyer merasa tidak nyaman dengan suasana canggung ini. Ia memilih mengajak Lisa mencari tepat untuk mereka duduk


"Maaf sepertinya kami harus mencari tepat duduk." ujar Anyer.


Begitu juga dengan Lisa yang mengiyakan ucapan Anyer.


"Lisa, tunggu! Bagaimana kalau kalian gabung disini? Lagian disini hanya kami berdua. Itu pun... kalau kalian mau." Sekilas Bia melirik sinis kearah Anyer.


Tanpa menunggu persetujuan dari Anyer, Lisa mengiyakan ucapan Bia.


"Itu suatu kehormatan bagi saya untuk bisa duduk dengn anda. Ayo sayang!" Lisa menarik paksa lengan Anyer. Jangan ditanya lagi bagaimana reaksi Anyer.


Mendadak ia merasa tegan dan hawa panas menyelimutinya.

__ADS_1


Namun, berbeda dengan Bia yang tetap tenang. Sedangkan Nathan, lelaki itu ingin sekali melayangkan bogem ke wajah Anyer.


Menunggu pesanan datang, Lisa dan Bia saling bertukar cerita. Namun, tidak dengan kedua lelaki yang bersama mereka. Keduanya memilih diam dalam pemikiran masing masing.


"Ih iya Bu, anda terlihat sangat cocok dengan pak Nathan," goda Lisa.


Bia hanya tersenyum sinis. "Oh iya?"


"Iya, anda cantik dan pak Nathan juga tampan."


Lagi lagi Bia hanya menyunggingkan semyum palsunya.


"Kamu bisa aja, Lis. Kamu juga cocok lho dengan Tuan Anyer. Kamu muda, cantik dan berkharisma kurang apa lgi coba ?" Bia menggantung ucapannya. Sebenarnya ia bingung untuk memuji orang lain, sedangkan ia tak pernah bersosialisasi dengan perempuan laiinya.


"Satu yang kurang Bu dalam hubungan kami, restu Oma Risa. Beliau dengan jelas menentang hubungan kami," jelas Lisa.


Hal itu membuat Anyer tersedak ludahnya. Ia merutuki Lisa yang begitu sok akrab dengan Bia tanpa mengetahui fakta siapa sebenarnya sosok Bia.


"Kamu kenapa sayang." panik Lisa.


Anyer hanya menggerakkan tetangannya, memberi isyarat bahwa di tidak apa apa.


"Oh iya Lisa, bagaimana kabar pak Rendi. Semenjak pertemuan kita hari itu, saya tidak mendengar kabar beliau. Beliau baik baik saja 'kan?"


"I... ia Bu. beliau baik baik saja." Lisa terlihat gerogi.


"Baguslah. Kamu adalah sekertaris yang pengertian, pasti kamu juga calon istri pengertian ya?"


"Ah, Ibu bisa saja," Lisa tersipu malu.


Hingga acara mereka berakhir, Nathan dan Anyer tak satupun dari mereka ingin membuka percakapan.


Rasa kesal masih membubung di pikiran Nathan. Selama ini ia dan Wijaya telah menjaga Bia dengan baik. Sedikitpun Nathan tak pernah membiarkan Bia terluka namun, untuk kali ini Nathan sungguh merasa kecewa.


Lelaki yang berstatus sebagai suaminya memilki wanita lain, bahkan terlihat dengan jelas bahwa Anyer sangat mencintai wanita tersebut.

__ADS_1


Dalam diam, Nathan juga mempertahankan Lisa. Seolah wajah Lisa ada kemiripan dengan Lia. Namun, Nathan menepis prasangkanya. Mungkin hanya sebuah kebetulan saja sebab, di dunia ini juga banyak yang mirip namun mereka tidak memiliki hubungan darah.


"Senang bisa bertemu dengan kamu Lisa dan juga Tuan Anyer." Di akhir kata Bia menekan suaranya.


"Saya juga merasa sangat beruntung bisa bertemu dengan anda dan makan satu meja dengan anda. Itu adalah suatu kehormatan bagi saya." Lisa tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


Ia sebenarnya merasa kagum dengan sosok Bia. Wanita cerdas dan mandiri. Karir yang gemerlap, terlahir dari keluarga kaya, banyak yang peduli kepadanya. Disitulah rasa kagumnya menjadi subuah rasa iri.


"Ya sudah, kami duluan ya." Bia memutuskan untuk pulng duluan.


"Nath, bawa!" titahnya pada Nathan. Bia memberikan beberapa papper bag kepada Nathan. Dengan segera Nathan mengambil alih, membawa belanjaan sang direkturnya.


Lisa masih saja mengamati kepergian Bia dan Nathan.


Lantas ia bergumam. "Mereka sangat cocak ya 'kan, sayang?"


Anyer mengernyit. "Darimana jalannya cocok? Seorang Direktur bersanding dengan pengawalnya?" ketus Anyer.


"Nathan itu bukan pengawalnya, sayang. Dia asisten pribadinya bu Bianca. Kamu kok sewot gitu sih?"


Anyer tak berekspresi. Dalam hatinya ia merasa kesal dengan Bia yang acuh terhadap dirinya, bahkan tak menganggap keberadaannya.


"Sudahla, ayo aku antar kamu pulang!"


Lisa hanya menurut mengingat ia juga sudah lelah.


Sepanjang perjalanan, Anyer hanya banyak terdiam. Hal itu tak luput dari pandangan Lisa.


"Kamu kenapa lagi sih? ada masalah di rumah?" tanya Lisa dengan lembut.


"Kalau kamu ada masalah malam ini kamu nginep aja di apartemen. Lagian aku juga kangen sama kamu. Kamu gak ada kangen sama aku gitu?"


Anyer membuang nafas kasarnya. Ia melihat wajah Lisa yang terlihat imut saat ia mancungkan bibirnya.


Anyer pun terkekeh. "Aku gak ada masalah kok. Sebenarnya aku juga kangen sama kamu tapi, maaf malam ini aku tidak bisa menginap di apartemen ya."

__ADS_1


Lisa hanya mengangguk, dalam diam ia menyembunyikan rasa kecewanya. Ia memang tidak mau memaksakan kehendaknya yang harus dituruti. Bisa berada di sisi Anyer sampai saat ini saja sudah membuatnya jauh merasa lebih bahagia. Ia tak ingin membuat satu kesalahan yang akan berakibat fatal dengan hubungan yang belum mendapat restu ini. Lisa harus tetap sabar demi misinya bisa menjadai nyonya Subardjo.


......JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK KALIAN!......


__ADS_2