
Seminggu telah berlalu dari suasana duka. Kini Bia sudah terlihat beraktivitas kembali. Selama ia tidak masuk kantor semua tanggung jawab ia bebankan kepada Nathan.
Untung saja ada Nathan yang selalu ada disampingnya dalam suka dukanya.
Semenjak kepergian sang ayah, Anyer memutuskan menemani Bia tinggal di rumahnya. Bahkan beberapa kebutuhan Anyer sebagian sudah berada di rumah Bia.
Sebenarnya hal itu menjadi sebuah pertimbangan untuk Anyer sendiri. Ia memikirkan nasibnya ke depan jika harus tinggal satu rumah dengan Oma yang pasti akan menanyakan kabar perkembangan pernikahan mereka, sementara Anyer sama sekali tidak mempunyai perasaan apapun terhadap Bia.
Siang ini adalah janji Anyer untuk menemui Lisa setelah beberapa hari Lisa berada diluar kota.
Anyer menyambangi sebuah meja dimana Lisa telah menunggu.
"Sayang, kenapa kamu tidak memberi kabar?" Anyer segera melayangkan sebuah pertanyaan.
Dengan seulas senyum sambil menggenggam tangan Anyer. "Maaf ya aku di sana sibuk banget, sampai lupa memberi kabar. Tapi sekarang aku sudah kembali, kok."
Meski ingin marah, Anyer tak bisa. Sebab Lisa lebih dari segalanya untuk dirinya.
"Ok." Anyer menerima alasan Lisa. Keduanya pun segera memesan menu makan siang mereka.
Disisi lain, Bia yang kala itu hendak meeting dengan seorang klien di cafe yang sama sekilas melihat Anyer dan Lisa.
Sejenak detak jantung Bia berpacu lebih cepat. Ia menarik nafas dalam dalam kemudian mengeluarkan pelan.
Bia pun masa bodoh. Pernikahannya dengan Anyer hanya sebuah nama saja. Sejatinya Anyer tidak mencintainya.
Bia memilih mengayunkan langkahnya menuju meja yang telah di pesan. Tak berselang lama klien Bia pun datang.
Seperti biasa mereka membahas pekerjaan terlebih dahulu. Tak ada kendala, kedua belah pihak pun sepakat untuk bekerja sama.
"Terima kasih Ibu Bianca, semoga kerjasama kita berjalan dengan lancar," ucap Pak Handoko.
Bia tersenyum. "Semoga, Pak."
Menu makan siang pun telah disajikan di depan mereka. Bia merasa senang tak ada kendala di perusahaan ketika ia cuti satu minggu. Semua itu berkat Nathan.
Bia menikmati makan siangnya dengan perasaan puas. Sementara itu, di sudut tempat duduk tanpa sengaja Anyer menangkap sosok Bia bersama dengan pak Handoko.
"Oh ya sayang, aku jalan duluan ya. Soalnya aku harus siap siap meeting bersama atasanku." Pamit Lisa.
Anyer hanya mengangguk. "Hati hati," pesannya.
__ADS_1
Lisa tersenyum lebar sebelum meninggalkan Anyer.
Begitu juga dengan Anyer yang membalas senyuman itu.
. . .
Setelah kepergian Lisa, Anyer segera mendatangi meja dimana Bia sedang menikmati makan siangnya.
Anyer berdehem. Sontak Bia dan pak Handoko segera menoleh. Sungguh Bia merasa terkejut, untuk apa Anyer mendatanginya? Bukankah tadi ia sedang bersama dengan seorang wanita?
"Oh, Pak Anyer," sapa Pak Handoko seraya mengulurkan tangannya.
Lelaki setengah baya itu merasa terkejut dengan kedatangan Anyer. Suatu kebanggaan baginya bisa bertemu dengan sosok Anyer.
"Mari Pak, silahkan duduk." tawar pak Handoko lagi.
Bia tak berbicara, ia hanya menatap malas kepada Anyer. Anyer pun menarik kursi untuknya.
"Wah… Suatu kebanggaan bisa bertemu dengan anda disini." Girang pak Handoko.
"Bapak mau pesan apa biar saya pesankan?" tawar pak Handoko lagi.
"Tidak perlu!" tolak Anyer. Namun, mata Anyer hanya tertuju kepada Bia yang sedikitpun tak menghiraukan kedatangannya.
Seketika Bia langsung menaikan kedua alisnya. Sementara Handoko hanya tersipu malu.
Siapa yang tidak mengenal sosok Handoko. Pengusaha terkenal karena mempunyai tiga istri dan seorang buaya darat. Sudah banyak wanita yang dikencaninya.
"Bapak Anyer bisa saja," kekeh Handoko
Bia semakin muak dengan keadaan di sekitarnya. Untuk apa Anyer mendatanginya jika hanya ingin membully dirinya.
"Kalian akan melakukan kerjasama?" tanya Anyer tiba tiba.
"Iya, Pak. Ibu Bia juga sudah setuju jika perusahaan beliau bekerjasama dengan perusahaan saya. Namun, kami belum menandatangani kontrak karena ada beberapa pertimbangan yang harus diperbaiki lagi," jelas pak Handoko.
Anyer hanya mengangguk pelan.
"Oh ya Pak Han, jika anda sudah tidak ada keperluan lagi dengan ibu Bianca, bisakah saya meminjam beliau sebentar?" tanya Anyer.
"Ooh silahkan Pak. Kebetulan urusan saya dengan ibu Bia sudah siap. Kalau begitu saya permisi ya, Bu." undur pak Handoko
__ADS_1
Bia mengernyit tak terima dengan keputusan sepihak dari pak Handoko yang meninggalkan dirinya bersama dengan pria tidak peka sedunia ini.
Setelah kepergian pak Handoko, keduanya masih sama sama terdiam hingga agak lama. Bia yang mendiamkan Anyer, begitu juga dengan Anyer yang tidak tahu harus memulai dari mana.
Melihat tak ada tanda tanda Anyer ingin bicara, Bia pun berdiri hendak pergi.
"Tunggu," seru Anyer.
Tubuh Bia terhenti sambil menatap Anyer.
"Maaf, saya masih banyak pekerjaan yang harus saya kerjakan.Jika tidak ada kepentingan saya permisi," ujar Bia.
Anyer menarik nafas beratnya. "Duduk dulu!" titahnya.
Dengan rasa kesal dan malas, Bia menuruti ucapan Anyer.
"Saya berharap kamu membatalkan kerjasama dengan pak Han!" perintah Anyer.
"Atas dasar apa anda keberatan? Anda tidak berhak mencampuri urusan pekerjaan saya," ketus Bia.
Anyer menggebrak meja membuat semua mata tertuju ke arah mereka. Bia merasa sangat terkejut dan takut melihat amarah dari Anyer.
"Jika saya mengatakan tidak! Berarti tidak! Mengerti kamu!" sedikit berteriak, Anyer kemudian meninggalkan Bia yang masih merasa syok.
Ia sangat tidak mengerti mengapa Anyer terlihat begitu sangat marah kepadanya.
Padahal ini sama sekali tidak merugikan perusahaannya lalu apa alasannya Anyer melarangnya.
Bia segera mengejar Anyer, ia tidak terima diperlakukan seperti ini. Memangnya dia siapa? Suami?
...Bersambung....
ikuti terus BUKAN PERNIKAHAN IMPIAN ini.
jangan lupa like dan komen!!!
Oh ya nih aku mau rekomen lagi satu novel yang gak kalah seru. Judulnya CINTA BUTA karya REDWHITE
wajib kalian baca!
__ADS_1