
Hari berganti hari. Sebulan kini telah berlalu. Hubungan yang awalnya canggung, kini sudah mencair.
Anyer yang awalnya Anyer dan Bia sering menghabiskan waktu bersama meski hanya sekedar makan siang saja. Tak jarang jika Anyer mempunyai waktu luang ia akan mengantar dan menjemput Bia ke kantor.
Sore ini Anyer sengaja menjemput Bia lebih awal dari biasanya. Anyer hanya ingin sekedar mengajak Bia jalan sebentar ke Mall. Sudah lama Anyer tidak menyempatkan diri untuk cuci mata.
"Sudah siap?" Anyer memastikan.
Bia merapikan ramputnya kemudian menghampiri Anyer. "Sudah. Tapi tunggu Nathan sebentar ya."
"Untuk apa menunggu Nathan? Dia bisa pulang sendiri. Kenapa harus menumpang dengan kita?" ketus Anyer.
"Siapa yang mau menumpang? Nathan kan juga ikut ke Mall." Bia mengedipkan kedua matanya. Terlihat sangat imut dan menggemaskan.
"Saya tidak setuju jika Nathan ikut!"
Mendengar ucapan Anyer, Bia segera mengerucutkan bibirnya. Jika memang Nathan tidak boleh ikut, maka dirinya pun juga tak akan ikut.
"Kalau Nathantidak boleh ikut, saya juga tidak mau ikut. Mending saya jalan berdua menikmati senja bersama ajudan saya yang bisa saya perintah," ujar Bia.
Tanpa di sadari, sepasang telinga sedang menguping pembicaran mereka. Rasa ingin tertawa yang di tahan.
Nathan hanya mengulum senyum di bibir ketika Bia menolak jika dirinya tidak ikut . Entah bgimana bisa Direktur itu menyia nyiakan kesempatan emas ini.
Sabar, kini Anyer hanya bisa membuang kasar nafasnya. Menahan amarah yang ingin memaki Nathan karena Bia yang berstatus sebagai istrinya lebih memilihnya.
"Bagaimana, Tuan Anyer?" tanya Bia.
Anyer yang terdiam beberapa saat tanpa pikit penjang pun hanya bisa mengngguk pasrah. Biarlah Nathan ikut daripada rencananya gagal.
"Baiklah, saya setuju. Tapi katakan kepada dia bahwa harus jaga jarak karena adanya virus Covid 19. Saya tidak ingin menginginkan hal buruk terhadap saya."
Bia mengangguk pelan. "Tidak masalah."
🍃 🍃 🍃
__ADS_1
Mobil telah terparkir di depan sebuah Mall terbesar di ibukota. Bia yang sedari tadi berusaha menetralkan detak jantungnya kini mulai memasuki pintu Mall dengan langkah lambat membuat Anyer yang berada di depannya harus berhenti karena ingin menyamakan langkah mereka.
Sedangkan Nathan, ia memilih berjalan paling belakang.
Bukan karena ancaman dari Anyer namun, ia hanya ingin memberikan ruang untuk pasangan muda tersebut.
Nathan pun juga terheran mengapa Bia mengajak dirinya untuk ikut menikmati jalan sore ini.
"Kamu bisa cepat sedikit gak sih?" gerutu Anyer.
Bia hanya nyengir. Bagimana bisa cepat jika irama detak jantungnya saja sudah sangat cepat berdetak.
"Kamu duluan aja, lagian ngapain coba kamu bawa saya kesini? Harusnya kita pulang," protes Bia.
Anyer mendesah pelan. Beberapa kali Anyer menyamakan langkahnya dengan Bia namun, lagi lagi Bia malah menjauhinya.
Anyer pun merasa heran. "Kamu kenapa sih?"
Bia mengernyitkan dahinya. Bukankan tadi ia menyuruh Nathan untuk berjaga jarak karena adanya virus Covid 19. Lalu mengapa sekarang ia malah melupakan pesannya tadi.
"Kan kamu tadi yang bilang harus jaga jarak karena adanya virus Covid 19?"
"Mengapa harus begitu?"
"Ya karena Nathan itu orang lain. Belum tahu dia darimana, ketemu sama siapa. Jelas beda sama kamu. Kau itu istri saya."
Bia tersentak atas ucapan Anyer yang mengatakan bahwa dia adalah istrinya. Hatinya berbunga tetapi itu tidak berselang lama jika mengingat Bia tidak berarti dalam hati Anyer.
Meskipun status Bia adalah istri sah namun, itu tidak akan merubah kenyataan bahwa cinta Anyer hanya untuk Lisa. Entah dari segi apa Anyer menggilai wanita tersebut. Jika di bandingkan dengan dirinya, Lisa jauh tidak ada apa apanya.
"Heii bengong! Ayo buruan!"
Bia pun segera tersadar dari lamunannya. Ia melangkah kakinya pelan. Seulas senyum terus membingkai bibir tipisnya. Salahkan jika Bia meminta Anyer untuk mencintai dirinya saja? Salahkan Bia jika berharap lebih dari status pernikahan mereka?
Namun, tiba tiba saja tubuhnya di tumbur oleh Nathan dari belakang. Bia yang berhenti begitu saja membuat Nathan tidak menyadarinya.
__ADS_1
"Maaf Bu dir, saya tidak sengaja. Lagian anda kenapa berhenti tiba tiba?"
Bia masih terdiam. Netranya ingin memastikan apakah penglihatan itu benar atau efek dari pikirkan yang berkelana.
"Nath, coba lihat itu!" Bia menunjuk pada pasangan yang sedang berada di toko pakaian. Kedua orang tersebut terlihat sangat mesra. Bahkan tak segan tangan lelaki itu untuk melingkar di pinggang sang wanita meskipun dalam berada di dalam keramaian.
Tak beda jauh dengan Bia, Nathan pun segera mempertajamkan penglihatan. Berharap ia tidak salah menduga. Namun, ternyata benar. Dirinya tidak salah lihat.
Bia melihat Anyer yang sedah jalan menjauh dari Bia dan Nathan. Ia tidak menyadari bahwa kedua orang yang ia bawa untuk menem cuci mata masih tertinggal di belakang.
"Pilihlah apa yang ingin kamu beli. Saya akan membayarnya," ucap Anyer.
Anyer mengira bahwa Bia berada di belakangannya.
Lama tak ada sahutan dari Bia, Anyer pun menoleh kebelakang. Celingukan mencari sosok Bia.
Saat itu juga Anyer melihat posisi Nathan yang begitu sangat dekat dengan Bia. Wajahnya memerah setelah Bia menolak untuk jalan berdekatan dengan dirinya.
"Nathan," geramnya.
.
.
.
.
.
Haii haii Othor kentang balik lagi..
jan lupa tinggalkan jejaknya dong, biar gk kayak hantu yang tak berjejak wkwkwk canda ya!
Tabur hadiah banyak banyak dong. Entar inshaallah di akhir Bab ini othor akan adakan GA.
__ADS_1
Doain lancar sampai end ya.
Lope lope kalian sekebon duren dah....