
Satu jam Nathan dan Anyer membahas proyek yang hampir saja terselesaikan. Bia sengaja mengutus Nathan untuk berdiskusi. Sementara Bia duduk di samping Nathan yang merasa kepanasan akibat Mela yang terus mencuri pandang kepada Anyer. Apakah wanita itu tidak tahu jika di hadapannya saat ini ada istrinya.
Nathan sekilas melirik Bia yang sudah cemberut.
"Jadi bagaimana Tuan Anyer? Apakah Bulan depan proyek ini sudah bisa selesai?" Nathan memastikan bangunan yang sudah hampir tiga bulan di kerjakan ini.
"Saya akan pastikan." Mata Anyer menuju Bia yang menatapnya dengan cemberut.
"Oh iya apakah direktur anda tidak akan menyampaikan sesuatu?" sindir Anyer.
Nathan melihat Bia. Ingin terkekeh namun takut dosa. "Saya telah menjadi juru bicaranya," ujar Nathan.
"Sejak kapan?"
"Sejak saya mengenal dan bekerja bersama beliau, Tuan. Semuanya saya yang akan menanganinya. Dari mulai makanan, pakaian, style, bahkan sampai sepatu pun saya yang harus menghandle." Nathan terkekeh pelan lalu mendapat pukulan kecil dari Bia. "Apaan sih, Nath."
Anyer mendadak tersulut percikan api kecil. Dadanya terasa panas dan nyeri melihat Bia lebih dekat dengan orang lain ketimbang dirinya sendiri yang berstatus sebagai suaminya. Tangannya mulai mengepal ingin menonjok Nathan detik ini juga.
"Oh iya Pak, anda ingin makan siang dimana biar saya pesankan tempatnya." Mela yang melihat arloji yang sudah menunjukkan hampir pukul 12 siang segera bertanya kepada Anyer.
Mata Bia melotot. Lancang sekali wanita ini memanggil dengan sebutan Pak. Bia yakin wanita ini adalah karyawan baru. Sebab Bia tahu semua pegawai Anyer pasti akan memanggilnya dengan sebutan Tuan.
Anyer belum menjawab. Ia masih menatap Bia. "Kita makan di cafe Indah. Bagaimana kamu setuju Bia?" tanya Anyer.
"Aku?" Bia menunjuk dirinya sendiri.
__ADS_1
"Iya. Bagaimana?"
"Boleh." Bia menyetujui tawaran Anyer.
Mela yang berada di samping Anyer meremas bajunya. Harusnya Anyer hanya makan siang bersama dirinya bukan bersama wanita lain. Mela benar benar ingin menjambak rambut Bia namun itu tidak mungkin karena jika itu terjadi ia akan segera ditendang dari hadapan Anyer sekarang juga.
"Tapi Nathan harus ikut."
Kebahagiaan yang baru saja Anyer rasakan harus pupus seketika saat Bia mengucap nama Nathan.
"Mengapa harus ikut?" tanya Anyer.
"Karena dia adalah superhero ku." Bia tertawa sambil melihat Nathan. Begitu juga dengan Nathan yang tersenyum tulus kepada Bia.
Anyer merasa ada yang salah di sini. Bagaimana bisa ia harus melihat istrinya lebih dekat dengan orang lain ketimbang dirinya. Miris bukan?
.
.
"Selamat siang Mas, Mbak. Mau pesan yang seperti biasa atau menu lainnya?" tanya pelayan yang memang sudah sangat hafal dengan wajah Bia dan Nathan.
Bia dan Nathan tertawa kecil. "Seperti biasa aja, Mas. Kamu apa Nath?" tanya Bia.
"Sama kan saja Bu biar satu hati." Nathan sengaja memberi jawaban yang tak terduga membuat Bia memukul lengan Nathan.
__ADS_1
"Hmm." Anyer berdehem. Pelayan pun segera menghampiri Anyer.
"Bapak mau pesan apa?" tanya pelayan.
Sesaat Mela langsung merampas buku menu yang di pegang oleh Anyer.
"Mas, aku pesan yang ini." Tunjuk Mela.
Pelayanan pun segera menulis apa yang di pesan oleh Mela.
"Bapak mau pesan apa?" tanya Mela melihat Anyer.
"Terserah saja." Anyer sudah kehilangan selera untuk makan siang. Jika awalnya ia berharap bisa makan siang berdua dengan Bia namun nyatanya semua itu hanya angan-angan Anyer semata. Semuanya hancur berantakan karena Nathan.
"Wah… Kalian sedang double date ya?" goda pelayan.
"Baiklah, berhubungan kalian sedang double date maka pihak kafe kami akan memberi 2 buah tiket konser musisi papan atas. Tunggu sebentar ya," lanjut mas pelayan.
"Siapa yang bilang double date.?" protes Anyer.
Mendengar konser musisi papan atas mata Bia segera melotot. Jarang jarang ia bisa mendapatkan tiket konser, live lagi."
"Eh mas. Abaikan saja dia. Dia mah orangnya begitu, pemalu."
🍃🍃 Bersambung 🍃🍃
__ADS_1
Ruwet gak jelas kek benang kusut cerita thor jadi males baca 😭😭
Jangan menangis Thor 😂😂😂