
Bia sudah tidak sabar menunggu kepulangan Nathan. Satu hari penuh waktunya ia habiskan bersama dengan Aura.
Kini sudah pukul 8 malam namun, batang hidung Nathan belum juga terlihat. Terakhir Bia mendapat pesan dari Nathan pukul 5 sore tadi yang mengatakan akan ada meeting t dadakan dengan salah seorang klien di sebuah cafe. Namun, hingga saat ini Nathan belum juga mengirim pesan kepada dirinya lagi. Panggilannya pun tak dijawab dan pesan belum dibaca.
"Kamu kemana sih, Nath." Bia mencemaskan Nathan saat mengetahui kabar dari Dila bahwa meeting telah usai dari satu jam yang lalu.
Siapa yang tidak cemas jika tak ada kabar dari orang yang sangat dicintai.
Cinta? Apakah Bia sudah bisa mencintai Nathan dengan sepenuh hati? Hanya Author yang tahu.
Ditengah kekhawatiran Bia, di luar sana Nathan berusaha memantau kecurigaan saat ini. Bahkan ia sangat yakin jika pelaku teror tadi pagi adalah mantan suami Bia. Pasalnya saat itu Nathan sekilas melihat Anyer namun saat itu ia ragu apakah yang ia lihat Anyer atau bukan.
Sekarang Nathan tahu bahwa Anyer sudah kembali ke Indonesia tetapi tak diketahui oleh keluarganya. Bahkan dari seorang mata mata Nathan mengatakan bahwa Anyer saat ini tinggal di Apartemen milik Rafa yang sudah tidak ditempati lagi.
Mungkin Nathan tidak mempunyai kekuasaan yang tinggi namun, Nathan mempunyai jaringan luas. Bahkan untuk mendeteksi keberadaan Anyer tidak butuh waktu 1 hari sudah bisa tercium aromanya.
"Jadi bagaimana Bos, apa yang harus kami lakukan?" tanya Heru, salah seorang kepala kelompok tersebut.
"Kalian jangan gegabah. Saat ini kalian hanya cukup memantau saja. Jika dia berbuat aneh aneh segera beri tahu!. Seperti bendera perang mulai berkibar," desis Nathan.
Nathan tidak bisa menyembunyikan rasa kesalnya kepada Anyer yang tiba tiba saja meneror Bia. Jika dilihat ulang, perpisahan Bia dengan dirinya sudah berjalan selama satu tahun. Lalu selama setahun ini kemana saja keberadaan Anyer hingga bak hilang ditelan bumi
Mobil sudah memasuki halaman rumah Bia. Terlihat mbak Lia mondar mandir di depan untuk memastikan bahwa Nathan pulang dengan selamat.
"Tuan, anda tidak apa apa?" Mbak Lia merasa lega saat melihat Nathan biasa saja.
"Jangan panggil aku Tuan, mbak! Panggil seperti biasanya saja. Aku tidak tertarik dengan sebutan tersebut!" titah Nathan.
Lia mengangguk pelan. Tidak salah Bia menikah dengan Nathan yang mempunyai sifat rendah hati.
"Diman Bia?" sambung Nathan lagi.
"Nyonya di kamar sedang menunggu anda."
Setelah mendengar bahwa Bia sedang menunggunya, Nathan segera masuk ke dalam rumah.
Lia menatap punggung Nathan dengan tatapan nanar namun, ia tidak bisa berbuat apa apa lagi.
Sejak awal, Lia telah memiliki rasa terhadap Nathan. Bahkan dulu dia pernah berharap bahwa Nathan adalah jodohnya. Karena mereka satu frekuensi dalam mengurus keluarga Wijaya, termasuk Bia.
Namun, semua itu harus Lia simpan rapat saat mendapati kenyataan bahwa Nathan sekarang adalah suami dari sang majikan.
Lia tidak ingin salah langkah. Cukup memendam rasa itu dalam hati dan melihat Nathan bahagia bersama Bia itu sudah lebih dari segalanya. Dua orang yang Lia sayangi bersatu, mungkin itu tanda jodoh dari Tuhan.
__ADS_1
"Bia?" Nathan membuka pintu lalu mengedarkan pandangan melihat Bia tengah mondar mandir tak menentu.
"Nathan." Bia segera menghamburkan kearah Nathan, memeluknya dengan erat seakan takut akan kehilangan. "Kamu dari mana? Dihubungi tidak ada jawaban dan kata Dila meeting sudah usai dari satu jam yang lalu. Kamu kemana sih? Bikin orang khawatir tau?"
"Iya… Iya maaf. Tadi tidak sengaja ketemu teman lama. Kami berbincang sebentar," dusta Nathan.
Malam semakin sunyi namun Bia juga belum bisa memejamkan mata.
Nathan merasakan jika Bia tenang memikirkan sesuatu. Ia sudah yakin teror tadi pagi menjadi beban pikiran nya.
"Kamu kenapa belum tidur?" tanya Nathan.
Nathan membelai rambut Bia. Ingin rasanya Nathan memeluk Bia namun, karena terhalang oleh Aura, Nathan bisa apa.
"Jangan terlalu dipikirkan. Semua akan baik baik saja. Kamu tidak percaya lagi kepada seorang Nathan?"
Bia menarik nafas kasarnya. "Aku hanya takut saja orang itu mencelakai kita."
"Tidak ada satu orang pun yang bisa mencelakai seorang Bianca selagi ada Nathan disisinya."
..._____...
Bi sudah kembali beraktivitas ke kantor seperti biasanya. Tidak ada yang berubah di kantornya meskipun ia merasa sudah tidak nyaman berada di ruangannya.
[ Nath, makan siang di luar ya ]
Bia mengirim pesan kepada Nathan yang tengah sibuk jemarinya menari diatas keyword.
Nathan mengulum senyumnya saat membaca pesan tersebut.
[ Tunggu ya, ada sedikit pekerjaan yang harus diselesaikan ]
Bia mengerucut bibirnya saat membaca pesan balasan dari Nathan. Memangnya pekerjaan apa yang harus mengabaikan
dirinya sih? Tak terima dengan jawaban Nathan, Bia memilih menemui Nathan sekarang juga.
Dila yang berada di meja depan ruang Bia menautkan alisnya saat Bos nya keluar ruangan tanpa sepatah kata lalu masuk ke dalam ruangan Nathan.
"Dasar pengantin baru. Pengennya nempel mulu. Untung dia bos nya," kelakar Dila dalam hati.
Bia menatap serius kearah Nathan yang memang sedang sibuk di depan laptopnya. Bahkan kedatangannya saja tidak disadari oleh Nathan.
"Nathan!" panggil Bia.
__ADS_1
Nathan pun tersentak saat melihat Bia di depan dadanya sambil melipat tangan nya.
"Kamu kenapa kamu lebih memilih pekerjaan ketimbang aku?" pertanyaan macam apa ini?
Dengan terpaksa Nathan menyudahi pekerjaan dan menghampiri Bia yang tengah cemberut.
Memang terlihat imut menggemaskan.
"Iya, aku minta maaf. Ya sudah kita makan dimana?" Nathan mencoba memeluk tubuh Bia dari belakang namun Bia segera menghempaskan tangan Nathan.
"Telat. Aku sudah gak mood lagi."
Nathan hanya bisa mengernyitkan keningnya. Semudah itukan mood seseorang berubah.
"Ya sudahlah. Aku lanjut lagi."
"Eh… Siapa yang menyuruh?" Bia menahan tangan Nathan. Dalam hati Nathan tertawa puas. Begitu saja harus gengsi. Makan tuh gengsi hahaha.
Bia dan Nathan memilih sebuah restoran yang sedang Viral di jagad sosial media. Penasaran akan menunya, Bia sengaja memesan beberapa makanan yang tersedia di cafe.
Saat hidangan sudah tersaji di meja mata Bia sangat berbinar. Namun tidak dengan Nathan yang merasa tidak selera untuk menyantapnya.
Mata Nathan asal mengedar untuk membuang rasa jenuhnya akibat Bia lebih fokus pada hidangannya.
Sekilas Nathan menangkap sosok yang dianggapnya misterius sebab, sosok tersebut menutup wajahnya begitu rapat dengan masker dan sebuah topi. Saat mata Nathan memergoki orang itu melihat ke arah Bia seketika itu orang tersebut langsung menundukkan wajahnya.
Dalam hati Nathan sangat penasaran dengan sosok tersebut. Siapakah dia sebenarnya.
Semua pesanan yang dipesan Bia sudah ludes di lahapnya sendiri. Nathan memang yang sedang tidak selera makan hanya sekedar mencicipi saja.
Setelah selesai Nathan memanggil pelayanan untuk menghitung jumlah tagihan, sementara itu Bia minta izin untuk pergi ke toilet sebentar.
Meskipun siang hari, Bia merasa sedikit merinding seperti ada sesuatu yang sedang mengawasi dirinya. Dengan langkah cepat Bia segera masuk dan mengunci pintu toilet dengan penuh rasa ketakutan.
"Tenang Bia, tenang," lirihnya.
Bia segera menyalakan air untuk membasuh wajahnya, namun sekitar lampu toilet padam. Membuat Bia semakin berteriak histeris. Bia yang memang mempunyai fobia gelap seketika merasakan sesak di dadanya.
Lututnya bergetar hebat, Bia luruh ke lantai sambil memegang lututnya.
Keringat jagung mulai bercucuran, dada Bia naik turun merasakan dadanya yang semakin sesak.
"Nath..an."
__ADS_1