Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Tergoda


__ADS_3

Rico, sahabat Anyer sudah menunggu kedatangan Lisa dan Anyer. Di hadapannya telah tersaji beberapa botol minuman beralkohol.


Saat Anyer memasuki ruangan tersebut seakan dirinya ingin muntah karena mencium aroma yang membuat kepala pusing.


"Wah, makin keren!" Ucapan pertama saat Rico melihat Anyer di hadapannya. Keduanya saling berpelukan untuk pertama kali bertemu setelah kurang lebih Rico berada di Amerika.


Tak jauh beda, penampilan Rico juga terlihat lebih awet muda. Tak ada yang berubah dari Rico, hanya saja wajah Rico dihiasi sedikit jambang tipis.


Lisa yang pertama kali melihat juga merasa terkagum. Lisa tak menyangka jika di lihat dari dekat, Rico lebih maco dibandingkan dengan Anyer.


Selama beberapa bulan terakhir ini, Lisa dan Rico memang sering bertukar pesan. Mereka bertiga memang sudah berteman sejak masuk kuliah. 


"Kalian kapan nikah? Udah berapa tahun gak ada kemajuan?" Rico mengawali percakapan.


"Tidak usah membahas soal itu kenapa? Dan kenapa kamu memilih tempat seperti ini untuk bertemu? Kita bisa dinner di restoran malah atau di salah satu hotel mewah milikku," sinis Anyer.


"Jangan terlalu serius, nanti cepat berkerut wajahmu. Apa kamu tidak malu jika bersanding dengan gadis cantik ini sementara wajahmu sudah berkeriput?" 


"Baiklah, aku minta maaf. Tapi di Amerika ini adalah hal yang normal, Anyer!" lanjut Rico kembali.


Anyer tak ingin memperpanjangkan permasalahan ini. Bisa bertemu teman lama saja ia sudah bahagia. Sebab, Anyer memang tidak mempunyai teman selama ia menduduki bangku kuliah. Hanya Rico dan Lisa lah yang selalu bersamanya.


Rico menyodorkan sebuah botol. Dengan cepat, Anyer menggeleng.


"Woow… Amazing," seru Rico takjub.


"Lihat lah Lisa! Jaman sekarang masih aja ada yang tidak mau minuman seperti ini?" sorak Rico.

__ADS_1


"Ric, ini kamu harus tahu ini bukan negara barat." Lisa membela Anyer.


Memang tidak pernah datang ke tempat yang seperti ini. Kecuali hanya untuk menenangkan diri. Itu pun sudah tidak pernah lagi semenjak Anyer memegang sebagian perusahaan milik oma Risa.


"Oke… Oke. I'm sorry brother."


Anyer sudah tidak nyaman berada di tempat ini. Ia pun segera berdiri.


"Jika kedatanganku kesini hanya melihat kebodohan seperti ini, aku pulang," ujar Anyer.


Lisa segera berdiri. Kali ini ia harus berusaha mencegah agar Anyer tidak pulang.


"Lho, kok gitu sih. Bahkan kita belum cerita cerita tentang Rico selama berada di luar negeri sana. Gimana kalau kita le restoran atau ke apartemen aku aja?" Ide Lisa.


Rico juga bangkit dari duduknya. "Baiklah, aku setuju kita ke apartemen Lisa."


Akhirnya mereka bertiga meninggalkan tempat yang terburuk bagi Anyer.


Anyer dan Lisa jalan lebih dahulu. Sementara Rico berjalan dibelakang mereka dengan menenteng beberapa kantong berwarna putih.


Lisa segera membuka pintu apartemen. Saat sampai di dalam Rico segera mengeluarkan satu persatuan yang ia bawa. Anyer hanya bisa pasrah dengan teman lamanya. Sepertinya kebiasaan di negara barat telah mendarah daging pada Rico. Bayangkan saja yang ia keluarkan adalah minuman beralkohol.


"An, coba lah sedikit saja!" rayu Rico.


"Untukmu saja. Aku tidak tertarik untuk menyentuhnya. Bahkan sebenarnya aku muak melihat benda itu. Tetapi berhubung itu kamu, aku tidak bisa berbuat apa apa," cibir Anyer.


Meskipun dalam perbedaan namun, ketiganya bercengkrama dengan erat. Saling menanyakan keadaan mereka dan bisnis yang mereka jalani sekarang.

__ADS_1


Tak hentinya Lisa memandang Rico kala dua kancing baju bagian atas sengaja 


dibuka. Sungguh Lisa sudah terhipnotis oleh sosok yang bernama Rico.


Setelah puas bercengkrama, Anyer memilih untuk pulang karena waktu juga sudah larut. Tepat pukul satu malam Anyer undur diri. Lisa yang merengek berharap Anyer bisa menginap di tempatnya namun, nyatanya kekasihnya memilih pulang.


"Sudah, besok kita bertemu lagi," bujuk Anyer.


Wajah Lisa makin cemberut. Rasa tidak rela jelas sangat terlihat. Dengan berat hati, Lisa mengantar Anyer hanya sampai pintu karena memang sudah larut.


"Ya sudah aku pulang ya. Suruh Rico pulang jika sudah sadar. Tidak mungkin aku mengantar dia pulang dalam keadaan seperti ini. Apa kata tante Irma."


Lisa mengangguk. Ia segera menutup pintu kembali saat bayangan Anyer sudah tak terlihat lagi.


Saat Lisa membereskan meja, Lisa pun ingin segera menuju kamarnya. Tiba tiba tangannya ditahan oleh Rico yang pura pura tertidur. Rico segera menarik lengan Lisa hingga tubuh Lisa terjatuh diatas tubuh Rico. Dengan jelas Rico bisa melihat belahan dada yang sedari tadi ia pandangi. Bahkan sekarang Rico bisa merasakan benda tersebut.


"Rico! Apa apaan sih," gerutu Lisa.


Tak menghiraukan, Rico malah mendekapnya dengan erat hingga Rico benar benar bisa merasakan benda yang sedari tadi mengotori pikirannya.


Jantung Lisa berpacu lebih cepat. Mendadak ia hilang akal. Tak ada niatan untuk memberontak. Ia malah menikmati dekapan itu.


Dengan pelan, Rico mengendurkan dekapan lalu menatap intens pada kelopak mata Lisa yang seolah tengah mendamba.


Rico menarik pelan dagu Lisa. Wanita itu hanya pasrah saat Rico mencium lembut bibirnya. Tanpa berpikir panjang, Lisa juga membalas ciuman tersebut hingga suasana menjadi panas. 


Cuss lanjut sendiri...!

__ADS_1


Oh iya sambil nunggu Rico dan Lisa nganu singgah sulu di salah satu karya temen aku judulnya MEMINANG TANPA CINTA karya Kirana Pramudya



__ADS_2