Bukan Pernikahan Impian

Bukan Pernikahan Impian
Berita pagi


__ADS_3

Pagi ini Bia bangun lebih awal dari biasanya. Pikirannya kacau setelah Anyer mengatakan ingin memulainya dari awal lagi. Entah harus bahagia atau biasa saja.


Lia yang masih membersihkan lantai mengernyitkan keningnya saat melihat Bia menuruni anak tangga. Tumben, pikirnya.


"Nona Bia tumben jam segini sudah rapi?" Bik Juminten yang menata menu sarapan juga terkejut.


"Terserah saya dong. Kenapa gak suka?"


Bik Juminten hanya mampu menelan saliva kasarnya kemudian memilih berlalu.


Melihat banyaknya menu yang terhidang diatas meja tak membuat Bia berselera untuk menyantap. Bahkan ketika ada semur jengkol kesukaannya. 


"Nyonya, diluar ada Mas Rafa ingin mencari Tuan Anyer." Lia melapor.


"Suruh cari sendiri." ketus Bia.


Lagi lagi Lia hanya mengernyit. Detik ini juga Lia telah mencium aroma pertengkaran tadi malam. Apakah jatahnya kurang, batin Lia.


"Baik nyonya saya akan mencari Tuan." 


"Tunggu!" 


Lia menghentikan langkah kakinya. Membuang nafas kasar dan mencoba sabar.


"Ada lagi, Nyonya?" tanya Lia.


"Kamu mau kemana?" tanya Bia.


Sabar Lia.


"Saya mau menyampaikan perintah Nyonya kepada Mas Rafa untuk mencari Tuan Anyer, Nyonya."


Akhirnya Bia bernafas lega. Bia sempat berpikir jika Lia lah yang akan mencari Anyer.


"Ya sudah sana!"


Rafa terlihat canggung saat memasuki rumah istri bosnya. Percuma kaya jika hidup masih numpang istri. 


Rafa menertawakan bosnya namun itu hanya dalam hati saja. Mana mungkin Rafa berani menertawakan bosnya secara langsung.

__ADS_1


"Pagi nyonya," sapa Rafa ketika melihat Bia duduk di ruang makan.


Rafa pun mendekat ke arah Bia dan berdiri di sampingnya membuat Bia segera melirik kearah Rafa.


"Kamu ngapain berdiri disini?" ketus Bia.


"Maaf Nyonya, saya ada perlu dengan Tuan Anyer."


"Kalau ada perlu dengan Anyer kenapa kamu masih berdiri disini. Sana cari sendiri!"


Rafa hanya mampu menelan ludahnya. Sepertinya malam tadi telah terjadi perang nusantara melihat mood istri bosnya buruk.


"Jadi saya harus cari dimana Nyonya?" Rafa menggaruk tengkuknya meski tidak gatal.


"Di kamar atas." ketus Bia lagi.


Rafa bergidik ngeri. Ia pun segera menuju kamar dimana Anyer berada meskipun ia tidak tahu dimana letaknya.


Rafa menaiki anak tangga hingga ia sampai di kamar atas. Di Sana ada tiga buah kamar. Rafa bingung hendak masuk ke sebelah mana.


Hanya menduga duga saja, Rafa membuka pintu sebuah kamar. Berharap ini adalah tebakan yang tepat.


Rafa mengulum senyumnya saat melihat apa isi dari kamar tersebut.


Rafa melihat Anyer masih tergulung selimut tebal. Bahkan tirai kamar pun belum dibuka. 


Menggeleng pelan, Rafa segera menarik tirai gorden hingga kilauan keemasan masuk menembus kaca bening.


"Apaan sih Bi, silau." Igau Anyer.


Sejak kapan Bia mau membuka tirai jendela. Selama ini Anyer lah yang membangunkan Bia. 


Anyer meraba sekitarnya untuk memastikan apakah yang membuka tirai atau bukan.


Benar saja, Anyer tidak merasakan keberadaan Bia.


"Pagi Tuan," sapa Rafa tiba tiba.


Anyer segera bangkit setelah mendengar suara Rafa. Sangat terkejut mengapa Rafa bisa berada di kamar ini.

__ADS_1


"Kamu ngapain disini?" 


"Maaf Tuan, ada yang ingin saya sampaikan kepada anda," tutur Rafa.


Anyer segera bangkit. "Kamu kan bisa menunggu saya di bawah atau menyuruh istri saya yang memanggil. Gak sopan memasuki kamar privasi atasan!"


"Tetapi nyonya Bianca yang menyuruh saya untuk mencari anda disini." Rafa membela diri. 


Dasar pasangan suami istri yang tidak jelas, pikir Rafa.


Anyer menatap Rafa tajam. Dalam relungnya ia merasa sangat kecewa. Sebegitu marahkah Bia kepada dirinya hingga hal sekecil ini pun Bia tak peduli.


"Ya sudah katakan berita apa yang membuatmu pagi buta sudah sampai disini.  Kamu kan bisa tunggu saya di kantor." omel Anyer.


Rafa tak memperdulikan omelan Anyer. Ia segera menyerahkan sebuah map kepada Anyer.


"Ini adalah permintaan Tuan tempo hari. Saya sudah mendapatkan tempat tersebut." 


Anyer mengernyit karenanya melupakan tugas yang ia berikan kepada Rafa.


"Apa ini?" 


"Rumah yang anda minta Tuan. Saya sudah membelinya. Anda tidak usah khawatir tentang fasilitasnya. Say busa menjamin anda menyukainya."


Anyer pun tersenyum lebar menatap Rafa. Tak sia sia ia mempercayakan tugasnya pada Rafa.


"Ya sudah sana pulang!"


Rafa mendadak merasa kesal kepada bosnya. Bukannya mengucapkan terimakasih kasih atau basa basilah, ini malah mengusir. Dasar, umpat Rafa namun hanya dalam hati saja ia memaki bosnya.


.


.


.


Haii haii maaf lama up nya. Kehidupan Real Life sangat menguras waktu jadi belum bisa bagi dengan baik apalagi mempersiapkan wisuda Tahfidz anak


yang akan di selenggarakan besok pagi.

__ADS_1


oh iya selagi menunggu novel ini up, kalian singgah di novel sahabat aku ya I'M Night Butterfly karya Gupita



__ADS_2